Thursday, 23 September 2021


Putus Kuliah Pertanian, Thoris Sukses Bertani Organik

14 Sep 2021, 20:56 WIBEditor : Yulianto

Thoris bersama Azizi dan mahasiswa Polbangtan Gowa | Sumber Foto:Polbangtan Gowa

TABLOIDSINARTANI.COM, Pangkep---Putus kuliah dari perguruan tinggi pertanian, tak punya menyurutkan Thoris untuk berkecimpung di dunia pertanian, meski sempat menganggur kini milenial asal Pankep ini sukses mengembangkan pertanian organik.

Berhenti kuliah, tidak membuat Thoris putus asa. Meskipun awalnya tidak di dukung oleh orangtuanya, tapi kini lokasi budidaya organik menjadi tempat praktek kerja lapang (PKL) mahasiswa Polbangtan Gowa. 

Thoris menggarap lahan seluas 20 are yang sebelumnya tandus dan tanahnya agak berbatu. Banyak yang menganggap mustahil untuk tanaman bisa tumbuh. Namun dengan berbekal sedikit ilmu pertanian, akhirnya Thoris berhasil menyulap tanah tersebut menjadi subur dengan memberikan kotoran sapi dan pupuk petro organik.

Thoris menjalankan usaha hidroponik dan budidaya tanaman organik bersama mahasiswa Polbangtan Gowa yang melaksanakan PKL 2. Mereka berkolaborasi dalam mengembangkan usaha budidaya tanaman organik dan hidroponik.

Salah satu kegiatannya adalah melakukan penyemprotan menggunakan rizobakteria untuk mencegah pertumbuhan jamur dan bakteri dalam usana budidaya tanaman.

Thoris mengatakan, budidaya tanaman organik  yang dikembangkan selama 1 tahun ini adalah selada, kangkung, terong, tomat, timmen, cabe dan bayam. Penjualan juga melalui media sosial seperti Facebook dan instagram. Selain itu penjualan juga langsung menyasar ke minimarket dan ibu-ibu rumah tangga.

“Kedepannya, akan menambah luas lahannya dan akan menggabungkan antara pertanian peternakan dan perikanan,” ungkap Thoris yang bekerjasama dengan  Muh. Azizi, mahasiswa Polbangtan Gowa Jurusan Pertanian TK III dalam budidaya organik dan hidroponik,.

Sebagai salah satu UPT di BPPSDMP Kementerian Pertanian, Polbangtan Gowa turut mendukung sejumlah program Kementerian Pertanian. Diantaranya menumbuhkan petani milenial. Salah satunya, dengan mendorong petani milenial di Pangkep mengembangkan budidaya tanaman hidroponik.

Tindakan ini sejalan dengan semangat  yang disampaikan Presiden Joko Widodo saat membuka pelatihan petani dan penyuluh serta pengukuhan DPM DPA secara virtual beberapa waktu lalu. 

Di tengah pandemi Covid-19 hampir semua sektor berkontribusi minus, namun sektor pertanian menjadi satu dari tiga sektor yang bertumbuh positif. Mengacu pada data BPS, berkontribusi postif sebesar 1,75 persen pada 2020 dan triwulan pertama 2021 humbug positif 2,95 persen.

“Kita Harus tahu persaingan produk pertanian sekarang sudah lintas negara. Petani Indonesia harus kompetitif dalam keterampilan teknis, pemanfaatan model bisnis dan managemennya,” tutur Presiden Jokowi.

Ditambahkannya, saat ini total petani Indonesia sebanyak 71 persen berusia 45 tahun keatas sedangkan yang dibawah 45 tahun sebanyak 29 persen. Artinya Indonesia sangat  membutuhkan regenerasi  petani dalam membangun pertanian Indonesia.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, sektor pertanian sangat strategis untuk ketahanan perekonomian bangsa dan negara.  Kegiatan pelatihan petani dan penyuluh serta pengukuhan DPM DPA ini menjadi salah satu program unggulan Kementerian Pertanian  dalam mewujudkan sumber daya manusia (SDM) pertanian yang unggul, mandiri dan modern. 

Terkait pengukuhan 2.000 DPM dan DPA, menurutnya hal tersebut adalah upaya untuk menciptakan penguatan resonansi bagi para milenial untuk berkecimpung di sektor pertanian. 

“Pertanian itu given dari Tuhan yang mengaruniakan alam dan musim yang baik. Untuk itu diperlukan pengelolaan yang baik dam profesional mulai dari hulu hingga hilir. Yakni meliputi pengolahan pasca panennya, sampai ke packaging dan trading produk sehingga produk pertanian bisa dilakukan lintas negara dengan demikian petani memiliki peluang yang lebih besar,” jelasnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi menjelaskan SDM pertanian memberikan kontribusi yang paling signifikan di dalam meningkatkan produktivitas.  “Oleh karena itu, berbicara mengenai pembangunan pertanian berarti kita harus berbicara mengenai pembangunan SDM pertanian,” katanya.

 

Reporter : Suriady
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018