Sunday, 24 October 2021


Kang Endar, Milenial Pemasok Sayur ke Negeri Sakura

18 Sep 2021, 14:59 WIBEditor : Yulianto

Suhendar, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Multi Tani Jaya Giri (Mujagi) Cianjur | Sumber Foto:Lely

TABLOIDSINARTANI.COM, Cianjur---Masa depan pertanian Indonesia berada di tangan petani milenial. Karena itulah, Kementerian Pertanian menargetkan tumbuhnya 2,5 juta petani milenial. Salah satunya dengan pengukuhan Duta Petani Milenial (DPM) dan Duta Petani Andalan (DPA).

Suhendar, Ketua Gabungan Kelompok  Tani  (Gapoktan) Multi Tani Jaya Giri (Mujagi) Cianjur menjadi salah satu milenial yang dikukuhkan menjadi DPA oleh Presiden RI, Joko Widodo. Lingkungan tempat tinggal membuat jiwa bertani telah mandarah daging dalam diri Suhendar, hingga membawanya menjadi pengusaha sukses di sektor pertanian.

Tak hanya memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, ia juga telah berhasil mengekspor hasil produk pertanian, khususnya sayuran ke negara lain seperti Jepang. Untuk pangsa pasar lokal, Gapoktan ini telah  mampu menopang pasokan pasar modern, restoran, pasar induk Jakarta dan pasar lokal di wilayahnya.

Terletak di Kampung Pasir Cina, Cipendawa, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur yang berjarak tempuh hanya 2,5 jam dari Jakarta  akan terlihat rutinitas Gapoktan Mujagi yang merupakan produsen dan pemasar sayur mayur dengan komoditas utamanya cabai.

Dibawah kepemimpinan Suhendar, Gapoktan yang berdiri sejak 2009 ini beranggotakan lebih dari 28 kelompok tani atau lebih dari 200 petani. Setiap hari mereka memasok minimal 6 kuintal cabai.

Sebagai petani yang berorientasi bisnis, Suhendar menerapkan manajemen pola produksi dengan mengatur jadwal tanam dan jadwal panen pada 200 ha lahan cabai dan sayuran lainnya.

Meski pandemi tak kunjung usai, tidak sedikitpun menyurutkan usaha petani yang tergabung dalam Gapoktan ini. Mereka justru tetap menunjukkan eksistensinya dengan memproduksi berbagai macam sayuran segar.

Suhendar menuturkan, petani Cianjur justru semakin semangat meningkatkan produktifitas hasil panen, serta melakukan berbagai upaya pengolahan hasil tani selama masa pandemi. “Setiap harinya kami memproduksi sayuran hijau seperti kubis, sawi putih, terong, aneka bawang, bawang daun, cabe, tomat,” ujarnya.

Bahkan Kelompok Wanita Tani  (KWT) yang tergabung dalam Gapoktan Mujagi juga ikut menunjukkan eksistensinya, dengan mengolah berbagai hasil panen pertanian. Mulai dari upaya pengembangan bahan baku, hingga pengolahan hasil panen menjadi produk makanan seperti kripik kentang, frozen food hingga olahan cabe seperti powder cabe kering.

"Mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, disaat banyak kelompok tani yang kesulitan melakukannya," ungkap pria yang akrab disapa Kang Endar saat ditemui di green house perkebunan tomat miliknya.

Meski demikian, Kang Endar tetap mengakui kelompok petani tetap kesulitan menghadapi dampak pandemi yang melanda hampir setahun lebih ini. Ada dampaknya tapi tidak signifikan. Misalnya, kesulitan dalam memasarkan, karena permintaan restauran berkurang. Begitu juga ke supermarket yang disesuaikan karena kendala faktor pengurangan kebutuhan.

Namun demikian, Kang Endar, berupaya menjaga kualitas tanaman sayuran yang sehat, aman dikonsumsi dan tidak tergantung pada produk kimia. “Untuk menghasilkan sayur-sayuran yang segar, aman dan sehat, saya harus dipastikan mulai dari proses penanaman, seperti jenis pupuk maupun pestisida,” ujarnya.

Tak salah kiranya Kementan melalui program Youth Entrepreneurship and Employment Support (YESS) mendapuk dirinya menjadi mentor. Bahkan fasilitator yang akan membimbing milenial penerima manfaat program YESS di Cianjur  untuk menjadi petani serta wirausaha muda pertanian sukses.

Suhendar mengajak seluruh generasi milenial dimanapun berada untuk mengikuti jejak kesuksesannya melalui Bertani. “Kalian generasi millenial, jangan takut bertani. Karena bertani itu keren, menjanjikan dan dapat memberikan berkah tersendiri bagi kehidupan,” tegasnya.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Prof. Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa DPM/DPA sudah melakukan resonansi. DPM dan DPA sudah melakukan berbagai kegiatan di daerah dan tersebar di 34 provinsi.

Mereka memiliki usaha yang bervariasi mulai dari hulu hingga hilir bahkan telah menguasai pangsa pasar ekspor dan mekanisasi pertanian. Kehadiran mereka diharapkan mampu menjadi icon pertanian masa kini dan menjadi contoh bagi generasi milenial lainnya untuk menekuni sektor pertanian,” tuturnya.

 

Reporter : Lely (BPPSDMP)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018