Monday, 06 December 2021


Awalnya Benci, Mytha Sugara Akhirnya Jatuh Cinta

19 Nov 2021, 10:35 WIBEditor : Yulianto

Mytha Sugara, penyuluh pertanian Sleman | Sumber Foto:Yeniarta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Jangan membenci sesuatu berlebihan, nanti akhirnya bisa jatuh cinta. Ungkapan atau bahkan merupakan bentuk pesan dari orang tua kita. Itulah yang kini dirasakan Myta Sugara, penyuluh pertanian di Sleman, Di Yogyakarta.

Sebagai seorang anak dari Ibu yang bekerja sebagai penyuluh pertanian, saat remaja Mytha kerap diajak sang Ibu, Kuswinarsih melakukan pembinaan dan pendampingan ke petani di wilayah binaannya di Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Seperti kita ketahui peran penyuluh pertanian sangat vital dalam mendampingi dan mengawal petani. Penyuluh dapat memberi pengaruh kepada petani binaannya. Bukan hanya sebagai penyampai ilmu dan teknologi pertanian, tapi juga penggerak dalam perubahan, fasilitator, inovator, motivator, dinamisator serta educator. Peran itulah yang menjadi amanah bagi Kuswinarsih.

Untuk memberi teladan baik kepada putrinya, Mytha seringkali diajak ibunya untuk memberikan penyuluhan kepada petani diwaktu-waktu senggang. Bahkan tak jarang hingga malam Kuswinarsih masih memberikan penyuluhan kepada petani. Hal ini kerap membuat Mytha benci dengan tugas ibunya tersebut.

Namun rasa benci tersebut akhirnya berbalik 180 derajat. Mytha justru jatuh cinta dengan dunia yang digeluti ibunya itu. Berbekal pengetahuan yang ia dapat selama mendampingi ibunya memberikan penyuluhan dari remaja hingga selesai kuliah, Mytha merasakan apa yang dilakukan ibunya telah membuka mata hatinya turut menjadi penyuluh pertanian. Meski saat kuliah dirinya mengambil jurusan Agroindustri.

Berawal dari THL-TBPP

Mytha (37) mengawali kariernya sebagai penyuluh pada 2007 silam melalui seleksi penerimaan tenaga harian lepas  tenaga bantu penyuluh pertanian (THL TB PP) di Kabupaten Sleman, D.I Yogyakarta. Dia menuturkan, dorongan menjadi penyuluh adalah berkat perjuangan almarhum ibunya.

“Saya betul-betul benci dulu tatkala melihat ibu kerja siang malam hanya untuk memberikan penyuluhan. Tapi lambat laun, saya jatuh cinta saking seringnya ikut ibu,” kenang Mytha.

Bagi wanita lulusan D3 UGM jurusan agroindustri dunia penyuluhan bukanlah hal baru. “Walau saya bukan jurusan budidaya atau teknologi pangan, saya bisa melakukan hal itu karena terbiasa mendampingi ibu. Karena itu saya kemudian melanjutkan kuliah saya di jurusan Teknologi Pangan di UGM,” terang Mytha.

Jiwa mudanya yang penuh semangat dalam mendampingi kelompok tani di Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman membuat perjuangannya tak pernah padam. Telah 14 tahun menjadi penyuluh membuat Mytha jatuh bangun dalam mendampingi petani.

Ia pun terobsesi akan penumbuhan petani muda di wilayah kerjanya, mengingat generasi muda yang mau terjun ke dunia pertanian sangat kurang dan memprihatinkan. Mytha mulai menumbuh kembangkan taruna-taruna tani melalui kerjasamanya dengan Karang Taruna Trihanggo.

“Saya memperbanyak sosialisasi dan pelatihan-pelatihan pertanian kekinian yang disukai millennial,” katanya. Mytha memanfaatkan media digital seperti podcast, youtube, media social sebagai media penyuluhan. Langkah ini tidak sia-sia, beberapa waktu ini taruna tani telah bermunculan.

Tahun 2022 mendatang, Mytha telah mempersiapkan program tambahan untuk tumbuh kembang petani muda, sehingga diharapkan bermunculan tani milenial.  Mytha kini mendampingi 24 kelompok tani yang terdiri dari 12 kelompok tanaman pangan dan hortikultura, 7 kelompok wanita tani (KWT) dan sisanya adalah kelompok ternak.

Warung Tani Digital

Salah satu persoalan lain yang kerap dialami petani dan membuat gundah Mytha adalah anjloknya harga saat panen. Untuk menanggulangi harga komoditas yang sering naik turun, Mytha menginisiasi pembentukan “Warung Tani Trihanggo” yang anggotanya adalah petani binaan.

Warung Tani Trihanggo yang menjual produk pertanian dengan cara digital itu dibuat sebagai wahana untuk menawarkan produk milik petani dengan harga yang sesuai pasar. “Saya ingin agar petani saling menguatkan dengan membeli produk milik petani lainnya dan menawarkan kepada konsumen dengan harga yang sama dengan pasar atau lebih tinggi saat harga anjlok,” tuturnya.

Mytha berharapn dengan cara terseut dapat meningkatkan semangat petani agar tidak merugi dengan hasil pertaniannya. Selain itu, agar produk petani mempunyai nilai tambah lebih seperti cabai, bawang merah dan sayuran lainnya, ia mengajarkan petani melakukan pengemasan yang baik.

“Saya sangat mencintai dunia saya sebagai penyuluh. Hal yang membuat saya bangga adalah petani bisa sukses dan sejahtera. Rasanya ada saya didalam kesuksesan mereka. Ada kepuasan batin dan saya syukuri, bahwa petani saya telah berusahatani dengan baik,” kata Mytha mengakhiri ceritanya.

Reporter : Yeniarta (BBPP Ketindan )  
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018