Saturday, 29 January 2022


Kisah Komar, Tukang Kebun Sukses Bangun Bisnis Landscape

29 Nov 2021, 12:35 WIBEditor : Gesha

Komar ketika mendesain taman | Sumber Foto:Abda

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh Besar --- Tak selamanya seorang tukang kebun dipandang sebelah mata apalagi dianggap remeh. Siapa sangka nasib seseorang bisa berubah lebih baik dengan bekerja ikhlas penuh kesabaran serta tidak pernah ada istilah kata menyerah.

Bisnis landscape dan pertamanan selain memiliki prospek cerah juga bermanfaat untuk menambah keindahan serta mengurangi kepenatan/stres bagi mata yang memandang. Hal inilah yang sedang digeluti Komar, S.TP (46) alumni jurusan Teknik Pertanian angkatan 1998 Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh melalui usaha landscape dan pertamanan di Gampong Meurah Desa Kajhu, Kabupaten Aceh Besar.

Dari bakatnya tersebut Komar yang juga Ketua Harian Ikatan Alumni Teknik Pertanian (Ikateta) periode 2017 - 2021 telah banyak mendesain taman di perumahan maupun di kantor pemerintah dan swasta, termasuk hotel berbintang. Ada beberapa dinas yang sudah memperoleh jasanya mulai Distanbun Aceh, Dinas Pengairan Aceh, kantor BKN, Poltekes Aceh, serta dekorasi taman panggung di Museum Tsunami, Hotel Permata Hati, Gedung Taman Budaya serta Aceh Agro Expo.

Selain mendesain taman, pihaknya juga menerima jasa perawatan dan renovasi taman. Bagi yang berminat menggunakan jasanya dapat menghubungi melalui WA. 0813-7718-0000. "Kami juga melayani desain taman sesuai selera konsumen dengan berbagai tanaman bunga dan tanaman buah yang menghasilkan," ujarnya berpromosi.

Terkait biaya pihaknya menerima secara global tidak menghitung berdasarkan satuan luas. "Pengalaman saat masih SMA 1994 pernah menerima upah Rp 5.000 - untuk luas taman sekitar 6 meter. "Dengan kemajuan jaman dan inovasi teknologi, saya juga pernah mendapat paket hingga mencapai 50 juta," ujarnya bangga.

Seiring berjalannya waktu pada tahun 2017 ia pun mendirikan perusahaan jasa pertamanan, kemudian tahun 2020 dia kembangkan sayap lagi dengan membangun perusahaan CV. Meurah Jaya Muantep Jiwa. Perusahaan ini selain di bidang pertamanan juga dalam jasa perawatan dan Pemeliharan kantor/gedung serta bergerak di bidang kontraktor untuk pengadaan barang/jasa.

"Saat ini perusahaan dikontrak oleh Poltekes Aceh untuk jasa Pemeliharan dan perawatan taman gedung/kantor selama tahun 2021, mudah - mudahan untuk 2022 bisa diperpanjang," harap Komar, yang juga anggota PISPI Aceh bidang Kewirausahaan Pertanian. 

Untuk saat ini ada tiga personil tetap, tapi saat ada order ia melibatkan 15 karyawan yang terdiri dari para milenial. Perusahaan dan pekerjanya dilindungi oleh BPJS Ketenagakerjaan. Mengingat pengalaman dulunya bekerja di beberapa perusahaan sebagai penyedia tenaga kerja atau Outsourching di PT PLN (2005 - 2013) maupun di PT SAI (2013 - 2019). Tujuan melibatkan milenial sambungnya, agar mereka bisa belajar sambil bekerja. "Kita sangat senang dan siap menerima jika ada mahasiswa yang ingin magang, praktek bahkan untuk penelitian," bebernya. 

Harapannya khususnya para milenial harus bekerja keras dan cerdas menggeluti sesuai bidangnya. Namun agar supaya tidak menganggur perlu  alternatif bidang keahlian lainnya.

Komar merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara kelahiran Madiun, 5 Januari 1975. Demi menggapai cita cita ia rela merantau ke Aceh meninggalkan keluarga dan kampung halamannya. Sebelumnya setelah tamat SMP 1993 sempat enam bulan tinggal di Jakarta di rumah Pak Sanusi (Yah Ngah) salah seorang warga Aceh. serta Karena gigih ingin bersekolah, kemudian pada tahun 1994 Komar diajak ke Aceh dan melanjutkan sekolah di SMA YPTP sambil menjaga rumah dan merawat kebun/taman di tempat tinggalnya.

Saat tabloidsinartani.com menanyakan, Kenapa hobi di bidang landscape dan pertamanan, karena sejak masih duduk di bangku SMP, saya senang dengan tanaman. "Agar bisa melanjutkan sekolah saya merantau dan bekerja sebagai tukang kebun serta menata taman,” kenangnya terharu.

Kondisi ekonomi orangtuanya sebagai penjual kelontong pas pasan saja sehingga tidak mampu membiayai sekolah. Membuat Komar merasa bersalah dan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. "Saya pernah mengambil uang warung Rp 15.000 untuk bayar pendaftaran dan membeli baju seragam," tuturnya pilu.

Setelah tamat SMP dia pergi ke Jakarta dengan modal fotocopy ijazah SMP yang disandangnya. "Ketika mendaftar di SMA saya hanya melampirkan fotocopy ijazah dan Pak sopir di rumah sebagai wali," ungkapnya.

Pada tahun 1998 saat masuk ke perguruan tinggi atas jerih payah sebagai tukang kebun dan dijadikan sebagai anak angkat oleh Drs T. Syarifuddin pegawai kantor keuangan Banda Aceh hingga dibiayai kuliah sampai selesai. Dari hasil pernikahannya  dengan gadis Aceh Timur yang juga teman SMA-nya, Komar sekarang telah dikaruniai tiga anak dan telah memiliki rumah sendiri.

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018