Saturday, 29 January 2022


Saung Ayam, Simbol Pantang Menyerah Andi Rosali Berbisnis Unggas

03 Dec 2021, 11:42 WIBEditor : Gesha

Andi Ricki Rosali | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Tekad kuat untuk tidak lagi merepotkan orang tuanya saat merantau ke Jakarta tahun 2009 lalu ketika kuliah, Andi Muhammad Ricki Rachmat Rosali mencoba berbagai bisnis.  Hingga akhirnya brand Saung Ayam menjadi simbol pantang menyerahnya di bisnis ayam layer dan broiler. 

“Sekitar tahun 2011, saya bersama seorang rekan mencoba untuk berbisnis ritel yang setiap hari bisa menghasilkan, dan setelah mencari berbagai referensi akhirnya kami berbisnis peternakan ayam broiler. Pemasaran pun dilakukan ke beberapa rumah potong, " ungkap Andi Ricki kepada tabloidsinartani.com.

Tahun 2015 mereka mendistribusikan mulai dari 150 ekor hingga 300 ekor, sampai sebelum pandemic Covid-19 mampu hingga 2000 ekor per hari atau setara 3 Ton ayam broiler. Sekarang berkisar 1,5 hingga 2 ton per hari. Untuk produksi telur ayam saat ini, maksimal 6 Ton sampai 8 Ton per hari jika full produksi.

"Sayangnya terjadi pandemic yang juga berdampak ke sector Horeca (Hotel, Restoran, café), sehingga distribusi pun mengalami penurunan, " tambahnya. 

Di awal merintis bisnisnya, Andi Ricki mengakui pernah mengalami fase-fase yang berat, antara lain tertipu oleh oknum pembeli yang mengakibatkan dirinya merugi, menanggung sejumlah beban hutang, dan prestasi kuliah pun sempat menurun. Namun baginya, tantangan itu justru kemudian memacunya untuk bangkit lagi. 

Siapa menyangka, tanpa background pendidikan di bidang peternakan, pemuda dari Bulukumba, Sulawesi Selatan ini justru meraih sukses berbisnis ayam petelur dan ayam broiler. 

Kini, bisnis Andi Ricki pun berkembang pesat. Dengan bendera “Saung Ayam”, dirinya berhasil memasok ayam di Pasar Kebayoran dan Gerai Ayam Bakar Mas Mono. “Setiap langkah (step by step) berbisnis kita nikmati, jangan selalu ingin serba instan. Potensi bisnis di bidang perunggasan sangat baik, sebab sumber protein hewani yang mudah dan terjangkau masyarakat luas adalah ayam dan telur. Untuk kandang Closed House, beberapa peternak bisa bekerjasama tinggal diatur mekanismenya, sebab lahan memang terbatas dan relative mahal," ungkapnya. 

Andi Ricki meyakini, jika bisnis dikelola dengan baik pasti berhasil. Bisnis memerlukan tim yang kuat dan solid, serta punya visi misi. Dalam 4 tahun belakangan ini dirinya membuatkan bisnis untuk orang tua yang akan pensiun, yaitu peternakan ayam petelur (layer) di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan dengan populasi 7500 ekor, sebanyak 3 kandang dengan kapasitas maksimalnya 10.000 ekor.

"Tahun 2020 saya membangun kandang ayam “Closed House” di Agrova Farm, Cisauk Rumpin, Bogor, yang 1 (satu) Closed House memerlukan lahan seluas 900 meter (7,5 x 120 meter) dengan kapasitas 21.600 ekor ayam. Kami berencana membangun 6 Closed House,” kata Andi Ricki yang juga sebagai Direktur Utama PT Agrova Gani Sentosa.

Andi Ricki pun memberikan motivasi kepada kaum milenial untuk bersemangat membangun jiwa wirausaha peternakan. "Indonesia masih kekurangan peternak. Kalau bukan anak muda siapa lagi ? Karya dan produktivitas anak muda selalu ditunggu, dan kontribusi pengusaha muda sudah sangat kelihatan di bisnis peternakan broiler dan layer,” kata Andi Ricki 

Selain menjadi peternak, Andi Ricki juga dikenal sebagai “Duta Ayam dan Telur” tahun 2018 – 2021. Duta Ayam dan Telur bertugas untuk mensosialisasikan pentingnya konsumsi ayam dan telur yang bermanfaat untuk kesehatan. Pemilihan Duta Ayam dan Telur dilaksanakan oleh Forum Media Peternakan (FORMAT) dan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR), dan didukung oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

Reporter : Indri
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018