Saturday, 29 January 2022


Arifudin Nurrahmatullah, Berdayakan Masyarakat NTB dengan Maggot

04 Jan 2022, 15:07 WIBEditor : Gesha

Arifudin Nurrahmatullah | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Tak ada yang menyangka, seorang milenial lulusan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang tahun 2020 ini ternyata berhasil menggerakkan masyarakat daerahnya untuk berbudidaya maggot untuk kebutuhan pakan premium dan ekspor untuk bahan baku kosmetik.

“Awalnya ujicoba dari semasa kuliah, ditekuni dan bertemu lembaga sosial setempat untuk berkolaborasi budidaya maggot black soldier flies (BSF) untuk mengatasi masalah persampahan sekaligus meningkatakan perekonomian masyarakat,” ungkap Arifudin Nurrahmatullah.

Ia bercerita, untuk bisa menerapkan kepada masyarakat konsep pengembang maggot ini memang tidaklah mudah. Ada tantangan harus dilewati, terlebih pada kepercayaan masyarakat bahwa maggot dapat memberikan keuntungan.

Diakuinya, masyarakat Narmada, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) belum mengenal maggot BSF ini. Dirinya terjun langsung dengan memperkenalkan maggot ini ke peternak ayam, ikan, itik dan lainnya. “Saya kenalkan kalau maggot ini menjadi pakan alternatif dan premium untuk meningkatkan pertumbuhan hewan. Dari sinilah banyak peternak yang tertarik untuk memakai maggot ini,” tuturnya.

Baca Juga : Maggot, Pakan Ikan Murah dan Bergizi Tinggi

Disuntik oleh program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) menjadi jalan Arifudin untuk mengembangkan maggot ini lebih luas lagi. Dengan teknologi dari Polbangtan Malang, Arifudin mampu menghasilkan dry maggot untuk ekspor sebagai bahan baku kosmetik. “Per minggu kita bisa produksi 200 kg. Permintaan ekspor sangat tinggi, dituntut 1 ton per minggu,” tuturnya.

Dengan permintaan yang tinggi ini, Arifudin mengaku memberdayakan petani, bank sampah hingga Tempat pembuangan Sampah (TPS). Hingga sekarang sudah ada 24 peternak maggot yang dibinanya. “Target ekspor kita ke Jepang, China, Korea, Eropa,” bebernya.

Layaknya bank sampah pada umumnya, masyarakat bisa menukarkan sampah rumah tangga dengan baby maggot gratis. Sehingga budidaya ini tak hanya berpotensi bisnis, namun juga berpotensi pengembangan ekonomi masyarakat dengan membantu mengatasi masalah lingkungan.

”Baby-nya nanti mereka pelihara dikasi makan sampah. Setelah 13-15 hari, akan kami beli maggot dewasanya,” kata Arifudin. Di tanah seluas 50 are tersebut, terdapat 104 kotak yang menjadi lokasi pertumbuhan baby maggot. Dari sini, ada lima potensi produk yang bisa diperjualbelikan. Mulai dari maggot segar, maggot kering, tepung maggot, telur dari lalat, serta pupuk organik.

Baca Juga : Jaga Lingkungan dengan Budidaya Maggot

Dijelaskan Arif, maggot segar dijual Rp 6-7 ribu per kilogram. Maggot kering atau yang sudah mati dihargai Rp 20 ribu ukuran 100 gram dan Rp 30 ribu untuk 200 gram. Potongan harga masing-masing Rp 2.000 untuk reseller. Telurnya bahkan lebih mahal, Rp 6-10 ribu per gram.

Satu biji telur bisa menghasilkan 3-5 kilogram maggot segar. Ketiga produk menyasar para peternak ikan hias dan unggas. Sedangkan tepung maggot, menyasar produsen pakan ternak sebagai campuran kandungan pakannya. ”Untuk sampah organik, skalanya masih kecil jadi masih digunakan pribadi, belum berani dijual di pasaran,” ujarnya.

Dirinya bisa menghasilkan 20 kilogram maggot segar per hari. Penghasilan berkisar Rp 3,6 juta per bulan. Belum ditambah penjualan ketiga produk lainnya. Untuk mengejar penjualan skala industri, diperlukan bantuan masyarakat. Sehingga dilakukan penyebaran kelompok pembudidaya di sejumlah kecamatan untuk mengenalkannya secara masif. ‘’Seperti di Narmada, Bertais, Lingsar, Banyu Urip, dan Monjok. Nanti pasti banyak yang minat jika sudah lihat sendiri hasilnya,” katanya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018