Monday, 23 May 2022


Menu Pangan Lokal Rasa Eropa ala Fadia

20 Jan 2022, 14:20 WIBEditor : Yulianto

Fadia Salsabila raih penghargaan kedua lomba Kreasi Pangan Lokal Nusantara 2021 | Sumber Foto:Echa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Siapa bilang milenial Ibukota tak berminat dengan pangan lokal. Stop anggapan tersebut. Lihat Fadia Salsabila, mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti/ Perhotelan semester 7 ini berhasil menciptakan menu pangan lokal rasa Eropa.

Dara cantik berusia 21 tahun ini yang berhasil mendapatkan Juara 2 pada Lomba Kreasi Pangan Lokal Nusantara (KPLN) dengan menu Pan Seared Kasuami, Tuna Woku Mi-Cuit, Tumis Bunga Pepaya dengan Garnish Keripik Pisang.

Ide awalnya saat ini kan sedang musim makanan milenial yang bergaya modern. Saya sebagai anak milenial itu melihat anak-anak milenial ataupun generasi z inginnya makanan yang modern dan bergaya Eropa,” tuturnya.

Ketika mendapat info ada Lomba KPLN, Fadia pun berniat membuat pangan lokal yang biasa dapat ditemui, tapi juga bergaya modern Eropa. Melalui proses mencari informasi di internet dan konsultasi dengan dosen dan chef, akhirnya Fadia menemukan konsep yang kemudian diikutkan dalam lomba.

Mendapat dukungan keluarga membuat Fadia kian bersemangat menciptakan menu pangan lokal bergaya Eropa, meski selama berlatih di kampus terpaksa harus pulang malam. “Alhamdulillaah orangtua saya selalu mendukung apa pun kegiatan, selama positif. Tentunya juga doa ibu saya,” katanya.

Dalam membuat menu, Fadia memilih bahan pangan lokal yang mudah didapat di pasar maupun supermarket. Apalagi kalangan milenial umumnya enggan ke pasar, apalagi kini bahan baku tersebut bisa dipesan online. “Jadi saya pilih bahannya yang mudah dan ada disekeliling kita, ditambah di wilayah manapun dipastikan bahannya ada,” tuturnya.

Akhirnya Fadia memilih beras sebagai bahan baku utamanya. Kebetulan skripsinya mengambil tema tentang beras dengan judul Uji Coba Pembuatan Yogurht Substitusi Susu Beras. Ternyata beras itu banyak sekali yang konsumsi umumnya masyarakat Indonesia hanya mengkonsumsi beras,” ungkapnya.

Fadia berharap lomba Kreasi Pangan Lokal Nusantara ini bisa meningkatkan kreativitas mahasiswa dan mahasiswi untuk membuat olahan, selain dari beras. Bahkan ke depan ingin mencoba pangan lokal lainnya karena kearifan pangan lokal sangat banyak 

“Saat ini saya baru coba dengan singkong. Ke depan saya mau coba yang lain lagi. Pastinya juga ingin memperkenalkan kepada teman-teman, kalau ternyata pangan lokal selain beras itu enak loh dan mudah dibuatnya,” tuturnya.

Ia berharap pemerintah memperbanyak lomba seperti ini. Sebab, dengan adanya lomba KPLN dapat menambah kreativitas dan juga pangan lokal akan mudah diterima dan diakses generasi milenial dan generasi Z.

Karena hampir 80 persen milenial atau generasi z itu aktif di dunia dan media sosial, Fadia memperkenalkan pangan lokal melalui media tersebut. Dukungan teknologi digital memang sangat membantu untuk promosi pangan lokal. 

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018