Friday, 01 July 2022


Bantu Emak-emak Kelola Urban Farming, Ini Trik Rustan  

17 Mar 2022, 11:53 WIBEditor : Yulianto

Rustan penyuluh Kota Makassar | Sumber Foto:Andi Kahfiani

TABLOISINARTANI.COM, Makassar---Program urban farming telah memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat. Dengan memanfaatkan lahan sempit dan pekarangan untuk budidaya tanaman sayuran, bukan hanya dapat memenuhi kebutuhan pangan harian keluarga, tapi juga menambah pendapatan.

Namun masyarakat  yang tinggal di perkotaan umumnya  memiliki kendala waktu,  lahan  sempit  dan keterbatasan sumber daya pendukung seperti keterbatasan air. Hal ini yang dirasakan Rustan, penyuluh yang bertugas di Kota Makassar dalam membina kelompok wanita tani (KWT).

Adanya kendala waktu dan kesibukan anggota KWT menyebabkan tanaman yang ada di kebun kurang optimal produksinya, terutama cabai. Selama ini, menurut Rustan, cara anggota KWT Anggrek berbeda-beda dalam penyiraman. Bahkan ada tanaman yang berlebihan air, tapi ada juga yang kurang airnya. Akibatnya tanaman akan layu pada siang hari, dan produksi tanaman cabe kurang maksimal,” ujarnya.

Dari masalah tersebut, Rustan terinspirasi untuk merancang suatu inovasi yang  dapat mengefisienkan waktu dan menghemat penggunaan air.  Sistem irigasi kapiler berbasis Internet of Things (IoT) dianggap Rustan sebagai suatu solusi  yang tepat.

Irigasi kapiler adalah jenis irigasi bawah permukaan yang dapat menghemat air. Dapat dikembangkan pada skala rumah tangga di pekarangan  dan kebun-kebun KWT atau masyarakat umum lainnya.  Tanaman langsung mendapatkan air sesuai kebutuhannya melalui sistem irigasi bawah permukaan ini.  

Banyak Manfaatnya

Menurutnya, sistem irigasi kapiler memiliki banyak manfaat. Diantaranya, tercukupi kebutuhan air pada tanaman, penggunaan air dapat dihemat hingga 80-95 persen dibandingkan penyiraman secara konvensional.

Keuntungan lainnya adalah menghemat waktu, sehingga anggota KWT dapat bekerja rutinitasnya. “Cara ini juga lebih  efisien dan efektif dalam pemupukan, mudah dirakit dan dapat digunakan berulang kali,” katanya.

Rustan menambahkan, prinsip kapilaritas merupakan proses penyerapan air dari bawah ke atas dengan menggunakan kain flannel  atau sering disebut dengan sistem sumbu kapiler. Sistem sumbu kapiler memanfaatkan media porous untuk mengalirkan air secara kapiler dari sumber air menuju media tanam.

Kegiatan budidaya tanaman cabai di kebun KWT Anggrek  telah dapat dikontrol secara otomatis melalui smart irigasi kapiler berbasis IoT. Perangkat utamanya adalah Node MCU yang di lengkapi wifi.

Hal ini  memudahkan anggota KWT dalam mengontrol dan memonitoring debit air dalam pipa paralon pada sistem irigasi kapiler secara nirkabel. Untuk menyalakan pompa, ibu-ibu dapat memakai  google asisten dan modul relay.

Modul relay merupakan saklar atau switch yang dioperasikan secara elektromagnetik yang terhubung ke pompa air. Kegiatan pengisian debit air pada pipa paralon secara otomatis akan menyala sekitar tiap 2-3 hari sekali.

“Jika terjadi hujan dalam beberapa hari, maka pengisian air pada pipa paralon dapat berlangsung pada interval  4 - 5 hari. Pipa paralon yang saya gunakan ukurannya 2,5 ichi,” tuturnya.

Dengan adanya aplikasi  berbasis IoT ini, pemakaian air lebih hemat. Sebab, pengairan tanaman menjadi efisien. Pemanfaatan sistem ini  oleh petani dan masyarakat perkotaan dalam kegiatan urban farming dapat menjadi program peningkatan produktivitas pertanian.

Dengan sistem irigasi kapiler berbasis IoT menurut Rustan, anggota KWT dapat memonitoring dan mengendalikan penggunaan debit air pada tanaman secara tepat. Kita dapat memonitoring maupun mengontrol pemberian air pada tanaman yang dimiliki melalui smartphone kapanpun dan dimanapun,” lanjutnya.

Rustan berbagi kisahnya tersebut saat menjadi fasilitator pelatihan smart farming bagi Petani Milenial Angkatan I dan II dan Program READSI, serta pelatihan smart farming bagi petani milenial Program IPDMIP di Batangkaluku beberapa hari yang lalu.

Solusi bagi Petani

Sementara itu Evy Aprialti, Kepala Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar mengatakan, penyuluh pertanian harus mampu memberikan solusi bagi petani dan pelaku usaha, terutama jika ada kendala yang dihadapi dalam menjalankan kegiatan produksinya. Jadi perlu penyuluh berinovasi dalam menyelesaikan tantangan atau permasalahan di lapangan,” katanya.

Hal ini sesuai dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) bahwa pertanian saat ini dan ke depannya dihadapkan dengan tantangan besar yakni perubahan iklim dan pandemi covid 19. Menghadapi tantangan perubahan iklim bukan dengan cara-cara klasik, tapi harus dengan smart farming.

Apalagi perkembangan ke depannya yang membuat lahan semakin sempit, jumlah penduduk semakin besar dan lainnya mengharuskan penggunakan teknologi yang smart. Kemudian, digitalisasi pertanian menjadi efektif dan penggunaan mekanisasi semakin maju, sehingga produksi terus meningkat dengan kualitas yang tinggi dan pendapatan petani semakin naik.

Hal senada juga disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi bahwa teknologi smart farming dikembangkan sebagai salah satu respons adaptif terhadap perubahan dan perkembangan teknologi saat ini. Konsep pembangunan pertanian harus diikuti dengan peningkatan agenda intelektual seluruh stakehokder, utamanya petani sebagai garda terdepan.

Kita sudah lama diterpa pandemi covid 19 dan perubahan iklim, namun dalam kondisi ini produktivitas dan produksi pertanian tidak boleh berkurang, bahkan harus terus bertambah. Solusinya ini adalah smart farming atau pemanfaatan internet of things,” tutur Dedi.

Reporter : Andi Kahfiani/Yeniarta
Sumber : BBPP Ketindan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018