Friday, 01 July 2022


Peluang Terbuka di Bener Meriah, Sarjana Ini Pilih Menangkarkan Benih Kentang

11 Apr 2022, 11:50 WIBEditor : Gesha

Dari kanan Bardi koordinator BPP, Dedek, Nurul kasi perbenihan, dan Habiburrahman Ka. BPSBTPHP Aceh | Sumber Foto:Abda

TABLOIDSINARTANI.COM, Bener Meriah --- Selama ini, masyarakat di Dataran Tinggi Gayo khususnya di Bener Meriah dalam menanam kentang terkendala akibat sulitnya memperoleh benih, harus didatangkan dari luar. Kalaupun ada jumlah benihnya sangat terbatas dan harganya juga mahal. Peluang inilah yang ditangkap oleh Sarjana Teknologi Hasil Pertanian, Universitas Mercu Buana, Yogyakarta bernama Dedek Wijaya.

Ditemui tabloidsinartani.com  di greenhouse miliknya, anak kedua dari 3 bersaudara pasangan Paiman dan Jaliati ini mengaku bersama 4 milenial lainnya sejak tahun 2020 silam memproduksi benih kentang. G0). Bibitnya diperoleh hasil kultur jaringan dari Kebun Percobaan Brastagi, Sumatera Utara. Awalnya dipesan khusus dari Balitsa, Lembang, Jawa Barat. "Tahap pertama kami beli 200 plantlet, harganya kami beli Rp 45 ribu, 1 pot isinya 20 plantlet. Alhamdulillah bisa menghasilkan 2500 knol (bibit)," ujarnya bersyukur.

Dalam memproduksi benih di greenhouse dapat menampung 15 ribu benih kentang. Hasil benih yang kami produksi digunakan kembali untuk skala budidaya yang lebih luas lagi. "Modalnya dikumpulkan dari program pra kerja dan saya gunakan untuk membangun greenhouse Rp 2 juta," ungkapnya.

Alasannya melakukan budidaya kentang karena teknologi budidayanya belum menerapkan penggunaan bibit unggul sehingga produksinya rendah. Kedepan jika produksi kentang sudah terpenuhi maka kami juga akan melakukan pengolahan sehingga memberikan nilai tambah produk. "Pasalnya, kentang sebagai diversifikasi pangan bisa diolah menjadi kentang chrispy, tepung dan bubur kentang," imbuhnya.

Selain memproduksi benih kentang, keseharian Dedek ternyata memang petani kentang. Budidaya kentang di lahan seluas 1 hektar di Lindung Bulan kecamatan Permata, Bener Meriah (BM) pada ketinggian1400 mdpl dapat menghasilkan 20 ton. Sementara harga kentang untuk konsumsi dijual Rp 8 ribu/kg. Agar bisa menghasilkan kentang dengan kualitas baik, Dedek mengaku membutuhkan 40 ribu bibit per hektar atau setara 1,3 ton bibit. Pupuk kimia yang digunakan NPK, SP 36 dan ZA yang dicampur sebanyak 600 - 700 kg/ha. Selain itu ditambahkan pupuk organik kompos kulit kopi, urine sapi dan pupuk kandang.

Lantas kenapa Dedek tertarik menjadi petani?, karena ingin memajukan sektor pertanian. Tak pelak, Ayahnya dulu juga sebagai petani, jadi niatnya kuliah menambah ilmu yang bisa diterapkan untuk meningkatkan produktivitas. "Saya merasa bahagia gelar sarjana bisa diterapkan untuk peningkatan kesejahteraan dan membahagiakan orangtua," bebernya. Karenanya Dedek mengajak sarjana milenial agar bisa berinteraksi dan membangun komunikasi dengan masyarakat. Kita bisa transfer ilmu untuk menumbuhkan sektor ekonomi dalam meningkatkan kesejahteraan petani.

 

 

 

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018