Wednesday, 10 August 2022


Juniawan, Inovator Nutrisi Antivirus Cabai

06 Jun 2022, 16:28 WIBEditor : Yulianto

Juniawan, inovator OVIS | Sumber Foto:Yeniarta

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang---Virus keriting dan kutu daun masih menjadi hama dan penyakit yang kerap mengganggu tanaman cabai milik petani. Untuk mengatasi organisme pengganggu tumbuhan (OPT) petani kerap menggunakan pestisida berbahan baku kimia.

Melihat kebiasaan petani yang kadang berlebihan dalam aplikasi pestisida, Juniawan, salah satu widyaiswara BBPP Ketindan yang ahli di bidang proteksi tanaman, menciptakan sebuah inovasi untuk kemajuan dunia pertanian yakni inovasi nutrisi antivirus.

Nutrisi ini dikenal dengan nama OVIS atau Obat Virus yang merupakan pestisida nabati dalam formulasi cair dan mengandung beberapa senyawa metabolik. Senyawa itu antara lain eugenol, caryophyllene, humulene, kububen, kopaen, vanillien, cimbrene, dan lain-lain.

Juniawan mengatakan, OVIS bekerja dengan cara menghentikan proliferasi DNA/RNA dari virus sehingga virus gagal memperbanyak diri. Formula nutrisi ini dapat menyembuhkan tanaman yang terserang penyakit virus keriting dan virus kuning.

Virus keriting ditularkan oleh vektor kutu daun Myzus persicae dan virus kuning ditularkan oleh vektor kutu kebul Bemisia tabaci,” katanya.

Menurutnya, formula ini secara faktual di lapangan, telah mampu membantu petani cabai dari ancaman gagal panen. Kegagalan yang ditimbulkan serangan penyakit virus keriting dan virus kuning.

“Karena penyakit ini bersifat sistemik, sehingga upaya pengendalian yang selama ini dengan memotong pucuk terserang tidak dapat mengatasi masalah, karena pucuk baru yang tumbuh akan menunjukkan gejala yang sama seperti sebelumnya,” tuturnya.

Dikatakan, sebaran serangan yang ditimbulkan sangat massif. Akibatnya, petani tidak mampu melakukan tindakan pemeliharaan, karena frustasi dan secara ekonomi sudah merugikan.

Sebagai contoh kasus di Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Pada keadaan normal, produksi cabai seluas 1 ha adalah sekitar 15-25 ton. Namun akibat serang virus keriting, produksi turun menjadi 5-7 ton. “Jika terserang virus tersebut petani bisa gagal panen atau kerugian mencapai 100 persen,” katanyaNamun kata Juniawan, dengan formula OVIS yang petani aplikasikan mampu menjaga kuantitas, kualitas dan kontinuitas produksi tanaman cabai.

Atas capaian inovasi yang sangat bermanfaat bagi petani ini, BBPP Ketindan kemudian mendaftarkan pada ajang kompetisi Sistem Informasi Inovasi Pelayanan Publik yang dikenal dengan SINOVIK.

Dari 44 proposal yang akan mewakili Kementerian Pertanian, BBPP Ketindan masuk diantara 21 proposal yang lolos seleksi administrasi untuk selanjutnya akan dilaksanakan penilaian proposal inovasi.

Sebagai salah satu UPT Pelatihan di bawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan juga turut semangat mengembangkan inovasi seperti yang disampaikan Presiden Joko Widodo melalui Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, bahwa pembangunan pertanian ke depan harus berbasis riset dan teknologi.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo selalu menegaskan, inovasi teknologi, mempunyai peran penting dalam pembangunan pertanian, terutama meningkatkan produktivitas dan produksi, mengurangi biaya produksi, serta mampu merespons perubahan lingkungan strategis yang terjadi. “Inovasi teknologi turut meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan bagi petani,” katanya.

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDM), Dedi Nursyamsi mengatakan, sumber daya manusia pertanian seperti widyaiswara, dosen, petani, penyuluh pertanian, praktisi pertanian lainnya harus terus ditingkatkan untuk menerapkan inovasi teknologi pertanian.

Kunci pembangunan suatu bangsa diawali dari pembangunan SDM. “Kuncinya adalah pembangunan SDM-nya, pendidikannya, pelatihannya, penyuluhnya,” tegasnya.

Reporter : Yeniarta (BBPP Ketindan)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018