Monday, 08 August 2022


Andi Nur Alam Syah, Komandan Pekebun Indonesia

26 Jul 2022, 11:58 WIBEditor : Yulianto

Dirjen Perkebunan, Andi Nur Alam Syah bersama sang istri | Sumber Foto:Humas Perkebunan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Jumat, 1 Juli 2022 menjadi sejarah tersendiri bagi Andi Nur Alam Syah. Direktur Alat Mesin Pertanian (Alsintan) ini dilantik Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) menjadi orang nomor satu di Direktorat Jenderal Perkebunan.

Amanah yang diberikan kepada Andi Nur Alam bukan tanpa sebab. Keberhasilan mengawal pembangunan mekanisasi pertanian modern menjadi salah satu alasannya. Apalagi dengan penerapan alsintan berdampak nyata pada peningkatan produksi.

Andi Nur Alam Syah lahir 1 Februari 1975 di Pinrang, Sulsel. Sebelum menjadi Direktur Alsintan, bapak 3 anak ini menjabat sebagai Kepala Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Badan Litbang Pertanian (2016-2018). Jabatan lainnya adalah Kepala Bidang Program dan Evaluasi, Pusat Litbang Perkebunan (Februari 2016-November 2016) dan Kepala Sub Bidang Program - Pusat Litbang Perkebunan (2013-2016).

Riwayat pendidikannya yaitu SMA Negeri 1 Polewali, S1 Teknik Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Kemdian Andi Nur Alam menempuh S2 Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB). Sebagai Dirjen Perkebunan, Andi Nur Alam Syah menuturkan akselerasi pengembangan komoditas dari hulu ke hilir menjadi agenda prioritas yang harus diwujudkan.

Hal ini direalisasikan dengan konsep pembangunan subsektor perkebunan yang terkonsolidatif dan integratif. Pengembangan kawasan perkebunan secara terpadu melalui peningkatan dan pengembangan infrastruktur pertanian, pemanfaatan inovasi teknologi produksi maju tepat guna, serta pengembangan SDM dan kelembagaan petani untuk meningkatkan produksi, produktivitas, nilai tambah, daya saing, ekspor, investasi, pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

“Konsep ini diimplementasikan dan dikembangkan secara terpadu dan bertahap, dikelola dengan manajemen korporasi petani yang kreatif dan inovatif sehingga mampu mewujudkan sistem produksi perkebunan yang maju, mandiri, dan modern,” tuturnya.

Dirjen termuda ini menjelaskan, pengembangan usaha perkebunan terkonsolidatif dan integratif tersebut mencakup empat dimensi utama yaitu berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan, dan terdesentralisasi. Dengan konsep ini, pengembangan subsektor perkebunan terdiri atas satu atau beberapa klaster di dalam suatu kawasan perkebunan.

“Dalam pengembangan klaster dilakukan beberapa tindakan, yaitu memahami kondisi dan standar ekonomi kawasan, menjalin kerja sama, mengelola dan meningkatkan pelayanan, mengembangkan tenaga ahli, mendorong inovasi dan kewirausahaan dan terakhir mengembangkan pemasaran dan memberi label khas bagi kawasan,” jelasnya.

Andi Nur menegaskan, implementasi konsep pengembangan subsektor perkebunan yang terkonsolidatif dan integratif ini tentu berjalan sesuai arah kebijakan, strategi, program dan langkah operasional yang terintegrasi. Arah kebijakan yang dilaksanakan terdiri dari mekanisasi, optimalisasi peningkatan hasil, penguatan daya saing dan ekspor, dan penguatan profesionalisme pekebunan dan penyuluh

Reporter : Julian/Humas Ditjen Perkebunan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018