Selasa, 27 September 2022


Wiknyo Penyuluh yang Gemar Lestarikan Jeruk Keprok Gayo

29 Agu 2022, 08:59 WIBEditor : Gesha

Wiknyo sang pecinta jeruk keprok | Sumber Foto:Abda

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh Tengah --- Wiknyo adalah petani dan pensiunan penyuluh Dinas Pertanian Aceh Tengah tamatan SMK Pertanian. Untuk melestarikan Sumberdaya genetik Jeruk Keprok kini di kebun nya tersedia 2000 lebih bibit berumur 1-3 tahun.

"Semua jeruk yang ada di alam ini adalah ciptaan Tuhan baik asam ataupun manis memiliki kelebihan. Apakah itu obat ataupun untuk dimakan langsung," ujarnya berfilosofi ketika memulai percakapannya dengan tabloidsinartani.com beberapa waktu lalu. 

Sejak kecil Wiknyo telah mengenal jeruk Keprok. Bapaknya nya dahulu sejak jaman Belanda sudah membudidayakan jeruk khas ini. Namun sejak orang tuanya meninggal tahun 2008, lahannya dibagikan kepada 10 anaknya dan dibangun rumah. 

Wiknyo sendiri memiliki beberapa jenis jeruk di kebun sebagai koleksi, tapi ia lebih memilih menanam dan mengembangkan jeruk keprok Gayo agar tidak hilang dan punah. Sampai hari ini Wiknyo telah menanam 100 batang lebih dan akan dikembangkan lagi seluas 0,5 hektar. "Jeruk manis keprok Gayo khas Aceh Tengah sudah mendapat indikasi geogrfais 2016 dari Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia. Tahun 1993 telah memperoleh juara 1 tingkat Nasional di Jakarta," ujarnya. 

Dalam mengembangkan tanaman hortikultura ini Wiknyo didukung oleh keluarga sehingga tanaman di sekeliling rumahnya tersebut cukup terawat dengan baik. "Bahkan yang sudah berbuah di polybag juga ada, harga yang kecil Rp 30 ribu, sedang 50 ribu dan kalau yang sudah berbuah harganya Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu per polybag. Bagi yang berminat dapat menghubungi nomor HP 085260306186," sebut Wiknyo. 

Menggeluti bidang tanaman, diakui Wiknyo bukan hanya sekedar hobi, akan tetapi lebih kepada pelestarian tanaman yang hampir punah di wilayah Aceh Tengah yang sudah dimulai puluhan tahun hingga sekarang. Untuk melestarikan Sumberdaya genetik Jeruk Keprok kini di kebun nya tersedia 2000 lebih bibit berumur 1-3 tahun. 

Dirinya masih ingat betul, akibat kondisi keamanan yang tidak menentu saat konflik Aceh, banyak tanaman jeruk Wiknyo sempat rusak diserang penyakit. Sehingga pada tahun 2006 Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Malang, Jawa Timur mengambil entres jeruk untuk diselamatkan dan dikendalikan segala jenis penyakit. Kemudian disimpan di sebagai pohon induk. Selanjutnya untuk pengembangan jeruk keprok di Aceh Tengah mata tempelnya dibawa khusus dari balai penelitian tersebut. 

Kini jeruk keprok Takengon ini sudah mulai langka. Setiap tahun perluasan areal terus dilakukan oleh Wiknyo, dengan resiko kematian cukup tinggi. "Sebagai warga lokal kita harus bisa menyelamatkannya. Paling tidak untuk diri kita dan generasi yang akan datang. Jangan sampai tanaman yang sudah ada punah," tegasnya.

Merawat dengan Cinta

Kecintaan terhadap tanaman, karena jika dirawat dengan baik tanaman juga bisa mendatangkan keuntungan (rezeki). Inilah yang dipegang teguh oleh seorang petani teladan sekaligus Penyuluh Pertanian Desa Paya Tumpi Kecamatan Kebayakan Kabupaten Aceh Tengah ini. 

Dirinya membuat pupuk organik sendiri dengan memanfaatkan kotoran Sapi, kambing, rerumputan, EM4, tepung beras, Bekatul dan tepung dedak. Penggunaan pupuk NPK sangat minim 3 ons per tahun tergantung umur tanaman. Pupuk kandang untuk 1 batang digunakan 12 kilogram diberikan 2 kali setahun. Bahkan kini Wiknyo sedang mencari komposisi pestisida nabati. 

Untuk pertumbuhan tanaman penyuluh yang juga petani teladan ini memberikan bermacam-macam jenis pupuk. Sementara untuk menghindari gejala penyakit ditambah pula pupuk kandang dua kali setahun. Untuk menghambat perkembangan jamur yang mengganggu tanaman ditaburi kapur. "Kesehatannya sama seperti manusia, tanaman juga perlu asupan gizi dan vitamin yang cukup setta perawatan intensif," tuturnya.

Dirinya mengakui, guna pengendalian penyakit, sejak 2006 Balitjestro, Malang telah melakukan injeksi pada tanaman jeruk Keprok ini. Sehingga penangkar jika ingin pesan BPMT (Blok Pengadaan Mata Tempel) atau  enteres (mata tempel) unggul, harus dari Malang. 

Dengan perawatan yang penuh cinta dari mantan Kepala BBies ini, dari Kebun jeruk Keprok yang hanya seluas 0,5 hektar, kini telah banyak dikunjungi mahasiswa baik lokal, Banda Aceh maupun dari Medan. Potensi produksi jeruk Keprok umur 15 tahun bisa menghasilkan 150 kg. "Kalau harganya sekarang berkisar Rp 20.000-25.000/kg," ujarnya. 

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018