Sabtu, 01 Oktober 2022


Sarjana Teknik ini Tak Gengsi Bantu Makcik

22 Sep 2022, 01:30 WIBEditor : Gesha

Fikri tengah melayani pembeli | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh Besar --- Sulitnya mencari pekerjaan membuat milenial berjibaku dan memanfaatkan waktu luang dengan berbagai usaha sambil menunggu panggilan kerja di beberapa perusahaan. 

Inilah yang dilakukan Fikri, seorang anak yatim yang membantu makciknya menjual sarapan pagi di warung Kak Yani Gampong Cadek kecamatan Baitussalam, Aceh Besar.

Fikri menyebutkan Warung Kak Yani sudah berjalan selama 4 tahun. Harga menu murah dan teejangkau. Nasi pakai ikan/telur Rp 8 ribu, pakai ayam 10 ribu dan kari bebek Rp 12 ribu sedangkan kopi shaset Rp 3 ribu per gelas. Setiap hari warung mulai buka pukul 6.00 pagi hingga pukul 10.00 wib.

"Bekerja membantu makcik menjual sarapan pagi untuk menggairahkan ekonomi keluarga serta memanfaatkan waktu luang sambil menunggu panggilan kerja," ujar Fikri alumni Fakultas Teknik, USK 2019 kepada tabloidsinartani.com. 

Menurutnya sebagai milenial kita tidak minder apalagi merasa malu dan hina. "Walau sedikit yang penting rezeki yang kita terima halal. Untuk itu harus selalu berusaha dan berdoa," ucapnya bersyukur.

Ampon Syah, pensiunan pegawai pertanian yang juga pelanggan tetap mengatakan sudah lebih setahun dirinya dan keluarga berlangganan di Warung Kak Yani. "Makanan disini semuanya enak-enak, apalagi kari bebeknya terasa mantap. Selain harganya murah, suasananya juga santai seperti di rumah sendiri,"  ujarnya.

Yatim Sejak Bayi 

Fikri ditinggal yatim sejak usianya 8 bulan. Anak tunggal kelahiran Teupin Raya, Pidie 18 Juni 1996 pasangan Asnawi (alm) dan Mariati ini setiap bada sholat Subuh terlihat sibuk menyiapkan daun pisang. Sesekali tanpa canggung ia juga melayani pembeli yang membeli bungkus.

Berbeda dengan kebanyakan temannya, Fikri terbiasa hidup tanpa sosok Ayah. Namun demikian ia selalu bersemangat dan tegar menjalani kehidupan bersama ibunya.

"Sejak sekolah dasar sudah mulai membantu ibu membuat kue. Waktu SMP saya juga turun ke sawah belajar tanam padi dan cemeulhe (merontokkan padi) pakai kaki," kenangnya.

Sewaktu kuliah uang kiriman Ibunda nya dia sisihkan untuk membeli laptop sehingga bisa mencari sampingan dengan melayani jasa pengetikan skripsi.

Pelajaran pahit masa SD sempat kecelakaan patah kaki sewaktu mandi di sungai bersama teman-temannya sehingga harus diantar jemput ke sekolah selama setahun. Tak hanya itu saat kuliah semester 6 karena tidak ada biaya ia sempat juga cuti kuliah.

Namun semangatnya tak pupus, saat lulus sarjana Ibunda sangat senang dan terharu. Dari hasil menjual kue bisa menyekolah kan anaknya hingga meraih gelar sarjana. 

"Saya sangat bangga kepada sosok Ibu yang menaruh harapan besar agar ilmu yang ada bisa membahagiakan ibu," ungkapnya terbata.

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018