Sabtu, 01 Oktober 2022


Cerita Muslahuddin Daud Dirikan P4S Dukung Santri Tani dan Petani Milenial Aceh

22 Sep 2022, 01:47 WIBEditor : Gesha

Bersama petani milenial membangun Aceh | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Banda Aceh --- Aceh sebenarnya memiliki potensi untuk pengembangan pertanian lebih masif. Terutama dengan memanfaatkan santri tani dan petani milenial setempat. Inilah yang menjadi latar Muslahuddin Daud mendirikan P4S . 

Aceh yang berposisi di ujung Barat Pulau Sumatera berpenduduk 5,5 juta jiwa dengan mayoritas penduduk atau 54 persen berprofesi sebagai petani. Sayangnya, berdasarkan data BPS merilis data terbaru bahwa kemiskinan di Aceh yang masih menjadi salah satu provinsi miskin di Indonesia yang mencapai 810.000 atau 15,1 persen. Dari jumlah tersebut, sebagian besar mereka berdomisili di pedesaan dengan mata pencaharian utama sebagai petani. 

"Angka - angka pertanian di Aceh sesungguhnya sangat menggiurkan. Pasalnya, jumlah lahan persawahan perkebunan dan area penggunaan lain masih sangat luas di samping kesuburan tanah curah hujan yang cukup, ketersediaan air serta kesesuaian iklim merupakan modal besar dalam dunia pertanian," ungkap Muslahuddin Daud kepada tabloidsinartani.com.

Namun sambungnya, modal dasar ini akan sulit dioptimalkan, bila pengetahuan budidaya petani masih parsial, agro input dan mekanisasi pertanian sangat terbatas, pemasaran produk yang tersendat serta akses permodalan yang masih terbatas. Manajemen dan kelembagaan petani merupakan persoalan yang membutuhkan pembenahan serius disamping intervensi pemerintah tentang infrastruktur yang harus ditingkatkan, terutama air dan jalan tani.

Menurutnya, semua persoalan ini mesti diurai secara komprehensif, meski dicarikan solusi agar tercipta suatu mata rantai pertanian yang saling mendukung. 

Disamping ketersediaan lahan dan iklim yang baik, Aceh sesungguhnya punya potensi pengembangan pertanian dari aspek ketersediaan SDM. Membludaknya mahasiswa yang tamat dari perguruan tinggi terlihat dari pedesaan hingga perkotaan karena belum memiliki peluang kerja yang sesuai dengam disiplin ilmu mereka.

Disisi lain jumlah lulusan santri dari berbagai dayah dan pesantren juga sangat tinggi. Sejumlah besar santri kembali ke kampung halaman setelah mondok selama bertahun tahun. Sementara lulusan kampus dan dayah sekarang hidup di tengah perkembangan teknologi yang pesat sehingga pemanfaatan SDM ini juga merupakan tantangan tersendiri. 

Disinilah dituntut untuk mendapatkan pengetahuan yang mendalam dan aplikatif agar pengelolaan pertanian dapat dilakukan secara modern dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Muslahuddin Daud adalah seorang profesional yang memiliki kepekaan mendalam soal dunia pertanian. Setelah melihat secara langsung potret kehidupan petani seluruh Indonesia, sejak 10 tahun terakhir ia tergerak untuk menjadi bagian solusi dari mata rantai persoalan yang dialami oleh petani. 

Berawal dari praktik pribadi dan belajar dengan sungguh sungguh dengan para ilmuwan pertanian terkemuka. Try and error dan evaluasi akhirnya menjadi seorang yang memiliki pengalaman lapangan yang cukup untuk menjadi seorang Penyuluh Pertanian Swadaya dan membagi pengetahuan dengan para petani lainnya dari satu tempat ke tempat lain, dari satu komoditi ke komoditi yang lain yang tersebar seluruh Aceh.

Selama 8 tahun pula, Muslahuddin Daud telah melatih ribuan petani. Tak pelak muncul harapan dan gagasan dari masyarakat banyak agar membuat satu pusat pelatihan terpadu yang dapat menjawab persoalan hulu hilir pertanian mulai dari budidaya hingga pemasaran produk.

"Pekerjaan selama 8 tahun ini kemudian mendapat pengakuan dari pemerintah sehingga didirikanlah Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Agro Kreatif Seulawah Lamteuba, Aceh Besar sebuah lokasi yang memiliki makna filosofis dan historis di dunia pertanian," bebernya. 

Tujuan pusat pelatihan ini sangat jelas yaitu mencetak sumber daya yang handal tentang hulu - hilir bisnis pertanian yang siap aksi mulai budidaya, pemasaran, permodalan hingga penguatan kelembagaan. 

Selain itu, lokasi pusat pelatihan ini diharapkan menjadi referensi pengembangan usaha dunia pertanian baik skala individu, kelompok, maupun korporasi. Modalitas pengembangan pusat latihan ini memiliki lahan yang representatif seluas 18 hektar yang dapat dijadikan laboratorium pengembangan berbagai komoditi. P4S ini memiliki 20 orang tenaga pelatih yang ahli di bidang masing - masing dan gedung pelatihan yang dapat menampung 200 peserta latih. Sasaran utama dari pelatihan ini adalah para santri tani dari Dayah atau pesantren yang tersebar luas di Aceh. 

Petani pemula khususnya mereka yang dinamakan petani milenial serta para petani Mandiri, kelompok koperasi, BUMG dan korporasi. Dari sinilah diharapkan akan munculnya SDM yang menjadi lokomotif pergerakan dunia usaha pertanian yang diharapkan dapat menjadi solusi untuk menguruai persoalan sistemik di Aceh.

Saat ini kondisi lokasi pusat belajar ini masih 35 persen dari kondisi ideal, karena belum memiliki infrastruktur yang memadai seperti pondok penginapan, peningkatan jalan, pipanisasi air dan variasi jumlah komoditi sebagai bahan referensi budidaya. Keadaan ini juga kemudian belum dapat dilakukan pelatihan secara regular, teratur dan terencana secara berkala

"Semoga dengan adanya bantuan pemerintah lewat Bapak Wakil Menteri Pertanian dan pihak lainnya dapat memberikan dukungan sepenuhnya agar pusat pelatihan dapat dibangun dan berfungsi seutuhnya," harapnya.

Cita-cita mencetak SDM siap aksi dunia pertanian ini sejalan dengan dan cita-cita presiden Jokowi untuk mencetak 2,5 juta petani baru hingga 2024 bisa terwujud, dan pusat pelatihan ini diharapkan dapat berkontribusi untuk mencapai tujuan tersebut.

"Mari bersinergi berkolaborasi melakukan aksi demi kemakmuran petani yang berujung pada capaian ketahanan pangan negeri," ajaknya.

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018