Jumat, 12 Juli 2024


Bangun Usaha Bumi Organik

03 Agu 2023, 13:32 WIBEditor : Yulianto

Dedy Tri Kuncoro, tinggalkan Bank BUMN geluti pertanian | Sumber Foto:Dok. Dedy

Dedy kini telah membuat brand usahanya Bumi Organik. Ke depan, ia akan membangun wisata agro untuk memperkenalkan dunia pertanian kepada anak-anak sekolah. ”Kita harus perkenalkan pertanian sejak dini. Kita perlu regenerasi petani. Kalau dari TK dan SD tidak dikenalkan pertanian, maka profesi petani bisa dianggap sebelah mata. Kita harus kenalkan bahwa petani adalah profesi mulia dan keren,” tuturnya.

Dalam mengembangkan usahanya, Dedy mengaku fokus pada komoditas hortikultura, buah dan sayuran. ”Mengapa saya tidak ke padi atau tanaman pangan? Karena waktunya lama dan perlu lahan luas. Saya mengambil horti, karena pengalama saat mulai mengembangan usaha Desember 2016, dari awal hanya mendapat Rp 150 ribu kini bisa Rp 15 juta sekali panen,” katanya.

Di lahan yang tak begitu luas, ia mengembangkan integrated farming yang menggabungkan pertanian, perikanan dan peternakan dalam satu kesatuan yang saling mendukung. Bahkan dengan sistem pertanian organik.

Baginya, integrated farming adalah satu satunya jalan untuk pertanian masa depan dengan lahan petani yang semakin sempit. Sementara pertanian organik akan menghasilkan  pangan sehat yang juga pangan masa depan. ”Saya tidak menggunakan pupuk kimia sampai sekarang. Saya juga kembangkan maggot sebagai pakan ternak,” ujarnya.

Dedy bercerita, dirinya membuat pupuk organik dengan memanfaatkan limbah dari warung jus buah yang digabungkan dari kotoran ternak, sapi, ayam dan kambing. Dengan demikian, produksi buah dan sayuran berasal dari lahan yang ramah lingkungan.

Saat ini dengan lahan seluas  3.500 meterpersegi, Dedy bisa menghasilkan pendapatan tiap komoditas Rp 1-1,5 juta tiap panen. Padahal dalam seminggu, ia panen tiga kali yakni Selasa, Kamis dan Sabtu.

Apalagi di lahannya sekarang ada sekitar 22 komoditas sepeti pepaya, cabai, tomat, bayam dan lain sebagainya. ”Kalau tiap hari tanam dan panen, maka tidak akan ada hama. Pertumbuhan rumput juga terganggu karena banyak tanaman,” katanya.

Untuk mewujudkan pertanian organik, Dedy saat ini telah membuat pupuk organik caik dari urine dan limbah buah. Dalam membuat kompos, ia memakai kotoran ternak dengan komposisi sapi (4), ayam (1) dan kambing (1). ”Dengan memproduksi pupuk sendiri, petani bisa swasembada pupuk,” katanya.

Dengan budidaya pertanian organik, Dedy mengaku, tanaman juga lebih sehat dan tahan terhadap serangan hama penyakit. Jadi jika tanaman sehat, maka akan kebal penyakit. Bahkan berdampak sosial, selain tidak ada limbah yang terbuang, biaya usaha tani menjadi murah. Satu pesan Dedy adalah pola pikir petani terhadap pertanian itu harus diubah

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018