Sabtu, 24 Februari 2024


Kisah Inspiratif Ratnauli Gultom : Hidup Tanpa Uang dari Tepian Danau Toba

31 Agu 2023, 13:22 WIBEditor : Gesha

Ratnauli mengubah mindset ekonomi berkelanjutan dengan bahan alam | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Samosir -- Petani Ratnauli Gultom mengundang para pelancong untuk merasakan pesona Danau Toba dengan cara yang tak konvensional. Ia membuka pintu desanya yang terletak di Silimalombu, sebuah oase di Pulau Samosir, yang kini diakui sebagai ecovillage terbaik. Tidak sekadar perjalanan, ini adalah undangan untuk hidup dalam suasana desa, menyatu dengan alam, dan menyicipi hasil bumi langsung dari pelukan kebunnya.

Ratnauli Gultom, seorang petani perempuan yang penuh inspirasi, telah memberikan sentuhan istimewa pada pariwisata Danau Toba. Ia menjalani kehidupan di Silimalombu, Pulau Samosir, yang baru-baru ini telah dikenal sebagai ecovillage yang mengagumkan.

Di tengah lingkungan tersebut, ia menjalankan pendekatan yang sungguh berbeda untuk memanjakan para wisatawan. Ratnauli membuka pintu desanya untuk para pelancong, mengundang mereka untuk tinggal di desa tersebut dan merasakan langsung hasil-hasil pertanian dari kebunnya yang indah.

"Kami memanfaatkan segala yang ada di sekitar kami. Di sini, kami memiliki homestay, kami memiliki proses pembuatan wine, banyak sekali jenis buah seperti mangga dan kemiri, serta beragam sayuran. Konsep yang kami terapkan adalah tanam sekali, panen selamanya. Kami ingin memperkenalkan kepada seluruh dunia bahwa Indonesia sungguh kaya akan sumber daya alam," ujar Ratnauli dengan semangat dari kawasan Silimalombu.

Ratnauli juga menceritakan bagaimana ia mengolah berbagai jenis buah dan sayur yang tumbuh di kebun di sekitar rumahnya yang menghadap Danau Toba. Ia bahkan menyebutkan beberapa jenis teh, termasuk teh hitam, teh hijau, teh sirsak, dan rosella, yang ia hasilkan dengan penuh dedikasi.

Tidak hanya itu, ia juga berhasil menciptakan beragam produk unggulan yang sangat menarik, seperti berbagai olahan mangga yang dijadikan wine mangga, cuka mangga, bahkan hingga hand sanitizer berbahan dasar mangga.

Selain mengelola hasil-hasil pertanian tersebut, Ratnauli juga menjadi pengelola homestay yang memberikan pengalaman menginap yang unik bagi para wisatawan. Melalui upayanya ini, desa di Pulau Samosir menjadi lebih hidup dan bersemangat. Konsep pariwisata berbasis alam mendapatkan tempat istimewa bagi mereka yang ingin belajar lebih dalam tentang pertanian di kawasan Danau Toba.

Hidup Tanpa Uang

Ecovillage merupakan konsep kampung atau desa yang mendasarkan budayanya pada lingkungan, dengan memperhatikan pencapaian kualitas individu, keluarga, masyarakat, hingga mencapai tujuan kehidupan yang berkelanjutan dan lestari.

 

"Dalam situasi di mana kita harus hidup tanpa uang, kita mencoba mengelola dan memaksimalkan sumber daya yang tersedia. Kami merenungkan apa yang bisa kami lakukan ketika tidak memiliki uang sama sekali. Kami mempertimbangkan bagaimana mengelola segala aspek kehidupan dalam konteks keterbatasan keuangan," kata Ratnauli dengan penuh semangat.

Ratnauli juga menjelaskan konsep hidup tanpa uang, yang dimulai dengan menanam apa yang diperlukan oleh diri sendiri, dan setelah itu baru menanam apa yang menjadi kebutuhan orang lain.

"Kami memiliki semacam slogan 'how to survive fight' atau bagaimana kita bertahan hidup tanpa uang. Pada saat kita berhasil hidup tanpa uang, barulah kita bisa 'mencetak' uang dengan cara memanen hasil dan menjualnya," jelasnya.

Ratnauli mengungkapkan bahwa mayoritas penduduk desanya bekerja sebagai petani organik dan nelayan, yang menjalankan kegiatan sehari-hari dengan mengolah ladang menggunakan hasil alam dan mengelolanya secara zero waste. Segala potensi dan hasil dari kebun, mulai dari sayuran hingga kue-kue yang dibuat, berasal dari tanaman yang ditanam oleh masyarakat desa itu sendiri. Hal ini juga berlaku untuk ikan dan lobster yang ditangkap dari danau dan kemudian dijual.

"Di tempat kami, tidak ada daftar menu tetap. Menu yang disajikan tergantung pada apa yang segar hari ini, baik dari danau maupun ladang," jelasnya.

Ratnauli menjelaskan bahwa konsep "eco" yang ia pahami lebih berkaitan dengan peduli terhadap lingkungan dan keberlanjutan. Semua aspek kehidupan di desa ini terkait dengan apa yang dikonsumsi, yang semuanya berasal dari kebun dan danau. 

"Kami tidak menggunakan zat kimia karena kami menerapkan pertanian organik yang berkelanjutan. Konsepnya adalah tanam sekali panen selamanya. Orang mungkin meragukannya, tetapi misalnya labu siam setelah berbuah akan jatuh, lalu akan tumbuh lagi," tegasnya.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018