Sabtu, 24 Februari 2024


Yeka Hendra Fatika, Anggota Ombudsman : Bangga, Ayah Saya Seorang Penyuluh Pertanian

05 Sep 2023, 13:32 WIBEditor : Yulianto

Yeka Hendra Fatika, anggota Ombudsman RI | Sumber Foto:Sinar Tani

TABLOIDSINARTANI.COM, Karawang---Banyak yang mempunyai kenangan manis dengan Tabloid Sinar Tani. Sebagai media yang telah berusia 53 tahun, Tabloid Sinar Tani selama ini menjadi bacaan utama bagi penyuluh pertanian. Ini pun dirasakan Anggota Ombusdman RI, Yeka Hendra Fatika.

Sebagai anak seorang penyuluh pertanian yang selalu mendapatkan Tabloid Sinar Tani, dirinya telah membaca Tabloid Sinar Tani sejak SMP. “Jadi di kolong meja waktu saya kecil itu selalu ada Sinar Tani. Jadi saya belajar pertanian karena ayah saya itu Penyuluh Pertanian. Bapak saya penyuluh pertanian Bimas di Jawa Barat,” ujarnya.

“Kalau ada yang mengetahui atau kenal, nama Bapak saya Endarson,” kata pendiri LSM Pataka ini. Karena itu, ketika mengenal atau membaca Sinar Tani, Yeka mengaku, ibarat mengenang masa lalu. Bahkan saat masih duduk di bangku SMP, ia kerap bertanya kepada orang tuanya. Misalnya, apa arti Supra Insus. Pasalnya dalam benaknya  Supra Insus merupakan sesuatu yang begitu besar.

”Ayah saya kemudian menjelaskan Supra Insus sebagai program intensifikasi yang ada dalam Bimas,” katanya saat Bincang Santai Gebyar HUT ke-53 Sinar Tani yang berlangsung di Desa Jayamakmur, Kecamatan Jayakerta, Kabupaten Karawang, Selasa (29/8). Karena itu, Yeka mengaku bersemangat ketika mendapat undangan untuk hadir dalam Puncak HUT ke-53 Sinar Tani.

Yeka lahir di Garut pada 13 Juni 1976. Ia menamatkan pendidikan S1 pada Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian di Institut Pertanian Bogor tahun 2001. Pernah menjadi peneliti di Pusat Pengembangan Wilayah LPPM IPB serta dosen di Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi Manajemen IPB. Menjadi konsultan di Pemerintah daerah dan kementerian pertanian.

Yeka pernah aktif dalam berbagai pendampingan dan forum diskusi untuk kesejahteraan petani dan peternak. Menjabat sebagai Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (PATAKA) pada tahun 2016-2020. Dirinya mengakui, menjadi anggota Ombudsman tidak lepas dari dukungan mantan Menteri Pertanian, Anton Apriyantono.

Selama 2,5 tahun duduk di Ombudsman RI, dirinya bertugas menangani layanan yang terkait di sektor yang cukup luas. Diantaranya, seluruh pengaduan masyarakat yang terkait perdagangan dan perindustrian, pertanian dan pangan, keuangan (pajak dan bea cukai), serta pengadaan barang dan jasa.

”Jadi kalau saya ceritakan dan bicara terkait pertanian justru banyak paradoksnya. Contohnya, siapa institusinya yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan petani? Kalau kita melihat hingga kini petani kita belum sejahtera, karena memang institusi yang bertanggung jawab,” tuturnya.

Jika melihat tupoksi Kementerian Pertanian, maka terlihat tugasnya bukan meningkatkan kesejahteraan petani, tapi peningkatan produksi. Jika Kementerian Pertanian tidak mempunyai tupoksi tersebut, Yeka menilai, jangan berharap dengan kementerian lain.

Saat ini menurut Yeka, dengan ramainya berita terkait salah satu perusahaan beras yang disalahkan karena membeli gabah petani lebih tinggi dari harga pasar. Kasus tersebut kata Yeka, hampir sama dengan perusahaan penggilingan padi PT. IBU yang akhirnya tutup. ”Kalau kita lihat dampak dari perusahaan beras yang membeli gabah dengan harga tinggi dari petani, apa salahnya? Bukannya justru memberikan kesejahteraan kepada petani,” tegasnya.

Begitu juga kasus pupuk subsidi, Yeka justru iri dengan subsidi untuk BBM yang tak pernah dipertanyakan yang mendapatkan manfaat siapa, kendaraannya apa. Namun untuk pupuk subsidi justru pemerintah menetapkan syarat cukup ketat. Misalnya, petaninya siapa, NIK-nya jelas atau tidak, lahannya berapa hektar, anggota kelompok tani apa tidak, punya kartu tani tidak. Bahkan sata menebus pupuk subsidi, harus petani pemegang kartu tani. ”Ini kan ribet. Jadi melayani petani dibuat ribet. Ini kan paradoks yang ada,” katanya.

Untuk mengungkap persoalan tersebut, Yeka mengakui, pihaknya masih memerlukan literasi yang obyektif di lapangan.  ”Inilah peran Sinar Tani. Jadi saya berharap Sinar Tani tetap kukuh dan kuat ke depan. Saya khawatir kalau Sinar Tani mati, maka itu lonceneg kematian pertanian,” katanya.

Karena itu Yeka menegaskan, Tabloid Sinar Tani harus tetap ada sebagai media pencerahan bagi pertanian. ”Kita punya tanggung jawab mengembangkan media Sinar Tani. Selamat Ulang Tahun Sinar Tan semoga jaya selamanya,” kata Yeka. 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018