Wednesday, 11 March 2026


Bukan Jual Sawah, Petani Sumbawa Raup Omzet Ratusan Juta

28 Feb 2024, 17:46 WIBEditor : Gesha

Petani Sumbawa ini buktikan bisa sukses ratusan juta dengan bertani

TABLOIDSINARTANI.COM, Sumbawa -- Dari lahan subur di Sumbawa, seorang petani mengubah paradigma dengan omzet ratusan juta, bukan dengan menjual sawah, tetapi dengan kecerdasan dan inovasi yang menggiringnya. 

Seorang pemuda berusia 30-an dari Sumbawa, NTB, bernama Hamzan Wadi, berhasil meraih omzet hingga ratusan juta pertahun dari kegiatan bertani yang ditekuninya.

"Penghasilan bersihnya dari satu hektar lahan bisa mencapai Rp 110 juta hingga Rp 120 juta," ungkapnya.

Meskipun awalnya meragukan profesi petani karena dianggap kurang menjanjikan dan lebih diminati oleh generasi tua, Hamdan akhirnya menyadari pentingnya terlibat dalam pertanian untuk mencegah keluarganya dari menjual lahan yang dimilikinya.

"Jika saya tidak terlibat dalam pertanian, siapa yang akan mengelola lahan ini? Ketika orang tua saya tidak lagi mampu, lahan akan dijual," ujarnya.

Sejak awal 2021, Hamdan mulai mengenal teknologi pertanian melalui program Better Life Farming dari Bayer, yang memperkenalkan berbagai teknologi terbaru dalam bidang pertanian.

Program ini mencakup penggunaan pestisida secara tepat dan bijak dengan menggunakan alat terbaru, aplikasi pemupukan yang membantu menentukan waktu yang tepat untuk memberi pupuk, serta bantuan dalam pemilihan benih yang sesuai.

Selain itu, Hamdan juga mendapatkan pelatihan terkait pertanian yang membantu meningkatkan penghasilannya secara perlahan.

"Dulu hasil padi di Sumbawa rata-rata 6-7 ton per hektar, sekarang saya berhasil mencapai angka 11 ton per hektar untuk padi dalam satu tahun," ucapnya dengan bangga.

Perlahan tapi pasti, pandangan tentang profesi bertani di kalangan pemuda desa, termasuk Hamdan, mulai berubah.

"Teman-teman yang awalnya enggan bertani akhirnya menyadari bahwa menjadi petani bisa menghasilkan pendapatan yang bagus," ungkapnya.

Meski begitu, Hamdan mengakui  respons awal masyarakat terhadap teknologi pertanian tidak begitu positif.

"Awalnya terasa asing bagi mereka. Tetapi, saya tetap mendorong teman-teman pemuda untuk terlibat dalam pertanian," tambahnya. Traktor baru mulai diperkenalkan ke Sumbawa pada tahun 2010, sedangkan petani generasi tua masih lebih suka menggunakan kerbau untuk membajak sawah.

Namun, Hamdan menyadari bahwa metode tradisional memakan waktu dan tenaga yang banyak, sementara petani generasi lama masih berpikir bahwa penggunaan traktor lebih sulit dan mahal.

Hasil Manis

Dengan memanfaatkan teknologi, Hamdan merasakan peningkatan pendapatan yang cukup signifikan.

"Sebelum mengenal teknologi pertanian secara lebih mendalam, saya hanya bisa menanam jagung dua kali dalam setahun. Dari satu hektar lahan jagung, saya biasanya mendapatkan pendapatan bersih sekitar Rp 40 juta," jelasnya.

Sehingga, dengan dua kali penanaman, total pendapatannya sekitar Rp 80 juta.

"Namun, sekarang dengan penerapan teknologi yang tepat, penggunaan benih yang sesuai, dan pengetahuan yang lebih luas, saya dapat menanam jagung hingga tiga kali dalam setahun. Ini menghasilkan peningkatan pendapatan sekitar Rp 30-40 juta," lanjutnya dengan senang hati.

Peningkatan pendapatan seperti ini bukan hanya dirasakan oleh Hamdan, tetapi juga oleh petani muda hingga tua yang mulai mengikuti jejaknya.

"Petani muda yang tidak memiliki lahan kini mampu menyewa lahan melalui fasilitas keuangan yang disediakan oleh perbankan, dengan pengawasan dari Better Life Farming," jelasnya.

Kelompok tani ini mendapatkan akses keuangan sebesar Rp 30 juta per hektar. Dengan fasilitas ini, lahan yang disewa dapat ditanami dengan berbagai jenis tanaman pangan.

 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018