
Evalinda sukses menekuni bisnis ayam goreng DBesto
Tidak lama Eva berhenti kerja, krisis itu menghancurkan perekonomian Indonesia, termasuk usaha KuFC. “Akhirnya bangkrut, tutup semua. Di situlah mulai kesulitan kehidupan saya yang sesungguhnya,” turutnya. Apalagi, ia berutang sampai Rp50 juta.
Eva mengaku melakukan kesalahan dengan tidak mempunyai tabungan karena setiap keuntungan dipakai membuka cabang hingga ada 10 outlet. “Itu pengalaman yang sangat berharga. Harusnya kita ada tabungan atau dana cadangan. Siapa yang nyangka 1998 bangkrut,” ujar pehobi tanaman itu.
Setahun mengalami kesulitan, hingga menunggak biaya sekolah anak dan tidak bisa mengambil rapor. Meski hidup sulit, keluarga besar di Sumbar tidak ada yang mengetahui. Hingga akhirnya adik ipar yang tinggal bersama Eva kembali ke kampung ke Bojonegoro, Jatim dan bercerita ke orang tua sang suami.
Ibu mertua sampai menjual tanah dan mengirim uang buat pulang kampung. “Kami minta maaf ke ibu, kita terima duitnya tapi nggak pulang kampung. Kami pinjam duit itu,” katanya. Bermodal uang itu Eva dan suami mencoba bangkit dan memulai usaha baru. Beragam usaha dilakoni seperti jualan aneka kue.
Pada 1999 Eva bangkit lagi berjualan ayam goreng. Perempuan kelahiran 1964 itu yang mempunyai tempat di Stasiun Depok, Jabar yang sudah kosong 9 bulan. Eva kemudian menuju pasar Depok sambil berdoa. “Berdoa supaya ada tukang ayam yang mau minjamin ayam,” katanya.
Eva kemudian berkenalan dengan tukang ayam bernama Yadi. Ternyata itu menjadi jalan Eva membangun bisnisnya lagi. Dengan memijam 5 ekor ayam, ia mencoba mencoba menjualnya di Stasiun Depok Lama. ”Jam 5 sore dagangan saya habis, tapi Yadi baru muncul sehabis Isya. Untuk menjaga kepercayaan, saya rela menunggu dari jam 5 sampai jam 8 malam,” ulas penyuka makanan tradisional itu.
Esoknya, Eva kembali meminjam 10 ekor ayam. Lagi-lagi Tuhan memberikan kemduahan, dagangannya habis terjual. Dengan pengalaman saat membuka usah KuFC, Eva mulai mengatur pendapatan yang diperoleh. Akhirnya, ia bisa menjual 50 ekor ayam/hari.
Semangat pun muncul. Karyawan yang sebelumnya dirumahkan karena usahanya bangkrut, ia karyakan lagi. Karena nama KuFC yang sempat bertahan 17 tahun tidak lolos paten karena mirip nama dengan Resto KFC, Eva kemudian mencari nama lain. Akhirnya, tercetuslah D’Besto di tahun 2011 dari kata “The Best to” yang disuarakan dalam logat Jawa.
Mengusung nama D’Besto dengan konsep miniresto, Eva berharap usahanya bisa naik kelas ke kios dari hanya sebatas jajanan kaki lima. Usaha ini lalu membuat pola kemitraan, menjaga kualitas, dan kepercayaan investor. Pertama kali yang tertarik berinvestasi ialah guru Sekolah Alam.
Apa kunci sukses mengembangkan usaha? Eva mengatakan, dirinya berusaha menjaga rasa, memperhatikan kualitas, memakai kertas HVS baru, menggunakan minyak goreng berkualitas, berseragam, serta tampil beda. Semua dilakukan sejak awal usaha KuFC.
“Kami fokus dengan rasa dengan cara blind test (tes mata tertutup). Kalau mau meluncurkan produk baru, kita blind test. Kalau belum 80% enak, kita belum luncurkan,” kata ibu 3 anak ini. Usaha di bawah bendera PT Setianda Duta Makmur ini menyabet penghargaan Shopee Awards 2021 sebagai Top Growing F&B Merchant karena dinilai turut menjadi penggerak ekonomi digital di Indonesia.