Jumat, 14 Juni 2024


Doktor HC untuk sang Begawan Perkebunan

27 Mei 2024, 17:15 WIBEditor : Yulianto

Soedjai Kartasasmita | Sumber Foto:Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Medan---Bagi dunia perkebunan, khususnya sawit, siapa yang tak mengenal Soedjai Kartasasmita? Di usia yang tak muda lagi, lahir 26 November 1926 (97 tahun), Begawan Perkebunan ini mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa (Dr HC) dari Universitas Sumatera Utara.

Mendapatkan gelar Dr HC bagi Soedjai tidaklah mudah, karena prosesnya hampir tiga tahun. Bahkan tim penilai sempat menolak usulan tersebut. Alasannya bukan karena kapasitas sang  Begawan Perkebunan yang belum mumpuni, tapi lebih kepada masalah administrasi. Setelah Rektor Universitas Sumatera Utara mengeluarkan keputusan penetapan tim promotor pada 12 Maret 2024, usulan gelar tersebut baru bisa dikaji.

Ketua Tim Promotor, Prof. Zulkifli Nasution saat membacakan kalayakan akademik mengatakan, berdasarkan penelaahan dari tulisan sejak tahun 1950 hingga 2024, Seodjai merupakan seorang inovator, fasilitator dan pemikir, serta pejuang yang terus belajar dan balajar terus untuk menemukan manajemen baru dalam perkebunan.

“Bahkan Soedjai ingin menjadi planter dan teknokrat menjadi entrepreneur sejati. Soedjai saat ini menjadi anggota kehormatan nomor 17 dari 24 orang Sugar Cane Society. Bahkan pernah menjadi ketua umum organisasi yang anggotanya berasal dari 52 negara,” tuturnya.

Bahkan Soedjai merupakan manajer pemimpin yang terbilang sukses membina SDM, bahkan sempat mengirim tiga angkatan dari perkebunan untuk belajar ke luar negeri. Diantaranya Sofyan Ras ke Harvard University dan mantan Menteri Kehutanan Hasrul Harahap.

Bukan hanya, alasan lain yang pantas untuk mendapatkan gelar Dr HC, Soedjai mempunyai pemikiran ke depan yang cukup jauh. Salah sartunya mendorong lahirnya industri minyak sawit di dalam negeri. “Gelar doktor ini diberikan bukan karena tulisan saja, tapi karena perbuatan untuk kemajuan dunia perkebunan,” kata Prof. Zulkifli.

Sebagai pejuang kemerdekaan, Soedjai pernah mendapat kepercayaan menyampaikan pesan dari Kolonel Gatot Soebroto untuk menyampaikan pesan rahasia kepada Jenderal Soedirman. Bahkan saat masih mudah, ia merelakan menjadi kurir dan sempat ditangkap Penjajah Belanda. Berkat perjuanganya tersebut, Soedjai mendapatkan penghargaan Bintang Gerilya dari Pemerintah Indonesia pada Peringatan HUT RI, 17 Agustus 1958.

Jika menilik perjalanan Soedjai dalam dunia pertanian, maka bisa dibaratkan hampir seumur negeri ini. Kecintaannya terhadap pertanian, khususnya perkebunan memang telah dipupuk sejak menamatkan sekolah setingkat SMP (Mulo Pasundan Bandung).

Dirinya meneruskan Sekolah Pertanian Menengah Tinggi tahun 1943-1945, kemudian dilanjutkan ke Sekolah Pertanian Menengah Tinggi Malang tahun 1945-1947. Selanjutnya ke Middlebare Landbouwschool te Buitenzorg tahun 1949 di Bogor. Setelah lulus, Soedjai bekerja di Miramare, Jawa Barat tahun 1950.  Lalu tahun 1955, ia rela pindah ke Sumatera Utara untuk bekerja di perkebunan.

Dalam orasinya, Soedjai mengatakan, mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa jauh dari niat. Namun panggilan hati dan bentuk ekspresi batin atas kecintaan negeri ini dan dunia perkebunan yang digeluti sejak kecil hingga di umur 97 tahun menjadikannya ingin melihat perkebunan di Indonesia maju.

“Dunia perkebunan telah membesarkan saya sejak bayi dan berkarir dari bawah, karena kecintaan terhadap negeri ini. Saya ingin perjuangan ini dapat bermanfaat bagi kesejahteraan bangsa,” katanya. Sayangnya hampir 100 tahun,  Soedjai menilai kondisi perkebunan di dalam negeri belum banyak berubah dan tetap konvensional dan tertinggal dari bisnis lain.

Pengalaman panjang dalam dunia perkebunan membuat Soedjai memiliki pemikiran dengan visi holistik tentang perkebunan. Setidaknya ada tujuh visi sang Begawan. Pertama, pentingnya peran industri hilir perkebunan bagi pangan. Kedua, penigkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kebun. Ketiga, meningkatkan kompentensi SDM perkebunan.

Keempat, pentingnya pembangunan infrastuktur logistik. Kelima, meningkatkan produkivitas dengan benih unggul sawit. Keenam, teknologi canggih perlu diterapkan di industri perkebunan. Ketujuh, meningkatkan kolaborasi masyarakat dengan LENS.

Dengan terus berkembangnya sumber pengetahuan dan teknologi dari berbagai tingkatan, baik inovasi, temuan dan penerapannya, Soedjai ingin mendorong penerapan teknologi di perkebunan sesuai kondisi setempat.

“Kuncinya adalah SDM dan teknologi. Hanya SDM yang kaya kemampuan akan melahirkan inovasi dan menerapkan menajemen yang baik dana mampu melakukan efisiensi dalam perkebunan,” tutur Soedjai yang pernah mendapatkan penghargaan Lifetime Achievement dalam ajang Sawit Indonesia Award 2022.

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018