Wednesday, 21 October 2026


Ayu Pertiwi, Mengawal MBG dari Dapur sampai Tempat Sampah

16 Jun 2025, 11:16 WIBEditor : Yulianto

Ayu Pertiwi, Kepala SPPG Tanah Sereal Bogor

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu program prioritas pemerintah. Dengan anggaran dan target yang sangat besar, program tersebut membutuhkan pengawasan ketat. Karena itu, setiap dapur MBG mendapat kawalan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Ayu Pertiwi, menjadi Kepala Unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada di Tanah Sareal, Kota Bogor. Bagi lulusan S1 Ekonomi Syariah IPB University dan S2 Ekonomi Pertahanan, Universitas Pertahanan, mendapat tugas menjadi bagian Unit SPPG merupakan amanah yang sangat besar.

Pasalnya, dalam Program MBG ini, unit yang berada dalam tanggung jawabnya harus mendistribusikan makan bergizi gratis ke 3.018 siswa di 15 sekolah di Kota Bogor. Angka yang sangat besar. Apalagi pendistribusian pangan berlangsung setiap hari dan dilakukan sesuai waktu istirahat sekolah.

"Dapur MBG Kota Bogor melayani 15 sekolah yang terdiri dari 6 TK dan PAUD, 1 SD, 3 SMP, dan 5 SMA, dengan total siswa 3.018 siswa,” ungkap Ayu kepada Tabloid Sinar Tani.

Untuk Program MBG di kota Bogor, Badan Gizi Nasional menetapkan ada 4 SPPG. Setiap 1 SPPG melayani 3.000-3.500 porsi. Di Tanah Sereal. Uji coba Program MBG berlangsung sejak 18 November 2024. Sedangkan di lokasi lainnya baru mulai 6 Januari 2025.

Ayu bercerita, lokasi ini menjadi dapur penyedia makanan untuk program makan bergizi gratis bagi pelajar dan ibu menyusui.

“Dapur saya menjadi salah satu dapur percontohan Badan Gizi Nasional di Kota Bogor dan daerah Palmerah Jakarta Barat. Kenapa kami yang dipilih sebagai percontohan? Mungkin di wilayah Tanah Sereal Bogot angka siswanya banyak dan sunting juga cukup tinggi,” ujar Ayu.

Tantangan SPPG

Bagi Ayu menjadi Kepala SPPG merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi dirinya yang lulusan ekonomi. Meski setiap menu makanan sudah ditentukan nilai gizinya, tapi dirinya yang bukan ahli gizi harus mengentahui juga tentan ilmu gizi. Bersyukur sebelum terjun mengawal SPPG ia sempat mendapat pelatihan terlebih dahulu.

Tantangan lainnya bagi Ayu adalah mengawal para pekerja SPPG. Pegawai Unit SPPG Tanah Sareal saat ini sebanyak 15 orang. Terdiri dari kepala dan wakil kepala unit, seorang ahli gizi, asisten lapangan, akuntan, serta 46 personel di bagian dapur. 

“Rata-rata pegawai di Unit SPPG Tanah Sareal Kota Bogor merupakan warga sekitar dan merupakan warga berusia muda yang tinggal di sekitar SPPG. Jadi tantangannya bagaimana kita harus merekrut orang-orang yang belum professional dibidangnya,” katanya.

Ayu mengungkapkan, para pekerja sudah mulai beraktivitas sesuai tugasnya sejak pukul 19.00 WIB. Setelah bahan baku disiapkan tim, proses pengolahan dilakukan mulai pukul 01.00 WIB oleh tim yang berbeda. “Untuk menjaga higienitas, para pekerja diwajibkan memakai penutup kepala, masker, sarung tangan hingga sandal khusus ketika bekerja,” katanya.

Dalam pendistribusian makanan, Ayu menjelaskan, ada dua gelombang. Pertama, jam 07.00 WIB dan jam 08.00 WIB. Kemudian gelombang kedua jam 10.00 WIB dan jam 11.00 WIB. "Jadi untuk pendistribusian kami menyesuaikan dengan jam istirahat dari anak-anak (siswa) yang ada. Kalau pagi, kami mengirim untuk anak-anak sekolahan TK dan SD, karena mereka pulang lebih awal dan istirahat lebih awal. Setiap SPPG harus memikirkan waktu baiknya dalam memberikan makanan,” tuturnya.

Tantangan kedua, Ayu mengakui adalah bagaimana setiap dapur harus membuat porsi makanan dalam jumlah yang cukup besar hingga 3.000 porsi setiap hari. Apalagi dalam menu tersebut harus lengkap ada sayur mayur, lauk pauk, protein nabati hewani dan buah-buahan. 

“Dari menu tersebut, kita juga ada tantangannya karena anak anak itu agak picky eater atau susah makan,” ujarnya. Karena itu, setiap SPPG juga harus berfikir bagaimana menu MBG menarik. Sebab, jika tidak menarik, maka anak sekolah tidak akan dimakan. Dengan begitu tujuan kita tidak tercapai. 

“Kita lebih menjaga kualitas makanan. Menurut saya selama ini makanan sudah layak terima, makanan sudah standar. Ada karbo, protein, serat dan buah. Menunya lengkap,” katanya. Tapi diakui, dengan adanya MBG ternyata tingkat kehadiran siswa juga makin baik. 

Tantangan lainnya dalah memberikan makanan untuk Ibu hamil dan menyusui. Namun selama uji coba, tanggapan dari kalangan ibu-ibu cukup baik. “Sejak Februari sudah jalan, sejauh ini responnya baik, ibu hamil juga senang. Kita kasih terus makanan lengkap dan dikombinasikan dengan susu hamil. Sebab, beberapa dari keluarga tidak mampu merasa senang mendapatkan susu hamil,” katanya. 

Limbah Makanan

Ayu melihat tantangan lain dari Program MBG adalah limbah makanan. Dalam pembagian makanan, ternyata tingkat food wasted (sisa makanan) yang cukup besar adalah anak anak SMA, sedangkan anak-anak TK, SD dan SMP tidak terlalu banyak. 

Di areal pembagian MBG di Tanah Sereal Bogor, di salah satu kecamatan dengan jumlah 16 sekolah SMA, Ayu mengatakan, ada satu sekolah yang paling banyak menerima MBG yakni sekitar 1.200 yang cukup banyak food wastednya sekolah SMA tersebut.

Belajar dari kasus tersebut, Ayu pun mengambil langkah yang cukup efektif untuk mengurangi sisa makanan. “Kenapa sisa makanan banyak di anak-anak SMA? Ternyata karena pada awal pemberian MBG, menu makanan kita tidak kasih sambal. Sekarang kita kasih hiasan untuk mempercantik tampilan makanan dengan cabe dan rasanya yang agak pedas mereka tertarik makannya,” tuturnya.

Untuk limbah makan, Ayu mengatakan, pihaknya bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor dan peternak lele dan bebek yang mengambil sampah limbah sisa makanan tersebut. Satu harapan Ayu, program ini terus berjalan untuk meningkatkan kualitas SDM kita.

Reporter : Echa
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018