Thursday, 12 March 2026


Penggilingan Low Carbon, Bawa Muhadi ke Vietnam

29 Aug 2025, 10:42 WIBEditor : Herman

Muhadi Petani Desa Dlingo, Mojosongo, Boyolali

TABLOIDSINARTANI.COM, Boyolali – Konsistensi Muhadi, petani asal Desa Dlingo, Mojosongo, Boyolali, membuahkan hasil. Berawal dari rintisan kecil di 2005, kini kelompok taninya tidak hanya menghasilkan padi organik bersertifikat, tetapi juga mengoperasikan penggilingan beras ramah lingkungan berteknologi low carbon rice.

Senyum sumringah terpancar dari wajah Muhadi, petani sekaligus pengusaha penggilingan padi asal Desa Dlingo, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali. Saat ditemui tim Masyarakat Petani dan Pertanian Organik Indonesia (Maporina) Jawa Tengah, pria 54 tahun ini mengaku bangga karena perjuangan yang ia tekuni sejalan dengan visi-misi Maporina dalam mengembangkan pertanian organik di Indonesia.

Sejak 2005, Muhadi bersama Kelompok Tani Paguyuban Petani Peduli Lingkungan Lestari Lumbung Bogo mulai merintis pertanian padi organik. Perlahan tapi pasti, usahanya berkembang. Pada 2011, kelompoknya berhasil meraih sertifikat organik. Dari lahan awal seluas 39,8 hektare, kini sudah meluas menjadi 47 hektare.

“Sarana produksi berupa benih dan pupuk organik kami pinjamkan dari kelompok. Setelah panen, gabah dibeli oleh kelompok dengan sistem potong pinjaman saprodi. Sekarang, kelompok tani yang ikut juga semakin banyak, tidak hanya dari Pangudi Bogo tapi juga dari Pangudi Rahayu,” jelas Muhadi.

Salah satu terobosan penting yang dilakukan kelompok ini adalah manajemen hasil panen. Jika sebelumnya hampir semua gabah dijual, kini hanya 60 persen yang dilepas ke pasar. Sisanya diproses menjadi beras sehat untuk konsumsi sendiri.

“Dulu petani menjual semua gabah, lalu justru membeli beras lain untuk dimakan. Sekarang tidak begitu lagi. Kami pastikan petani bisa menikmati beras sehat hasil tanamannya sendiri,” tegasnya.

Inovasi lain yang membuat kelompok ini menonjol adalah pengelolaan penggilingan padi. Unit penggilingan milik Pangrukti Bogo sudah menerapkan konsep low carbon rice, yaitu proses penggilingan yang ramah lingkungan dengan mengurangi emisi gas rumah kaca.

Mesin diesel yang boros energi diganti dengan mesin berbasis listrik. Hasilnya, selain menekan emisi hingga 1,04 ton CO₂ per bulan, biaya produksi juga lebih hemat sekitar Rp2 juta.

“Tujuan utama kami adalah menciptakan rantai pasok beras yang lebih ramah lingkungan, menurunkan biaya produksi, meningkatkan kualitas beras, serta memberi manfaat bagi petani dan lingkungan,” ungkap Muhadi.

Meski peralatannya serupa dengan Rice Milling Unit (RMU) pada umumnya, penerapan konsep low carbon rice terletak pada praktek efisiensi energi dan pertanian berkelanjutan. Beberapa peralatan di penggilingan ini merupakan bantuan dari Pemda Boyolali dan Bank Indonesia.

Dengan mesin yang terawat baik, kapasitas produksi bisa mencapai 3 ton beras per hari, tergantung stok gabah yang tersedia.

Atas konsistensinya, kelompok tani ini sudah mengantongi berbagai penghargaan dari sejumlah lembaga. Bahkan, Muhadi pernah diundang mengikuti muhibah ke Vietnam untuk berbagi pengalaman.

Tim Maporina Jawa Tengah yang terdiri dari Fx. Supardiman, Herawati, dan Djoko W, memberikan apresiasi tinggi atas kiprah Pangrukti Bogo.

“Kelompok ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana pertanian organik bisa berjalan seiring dengan inovasi ramah lingkungan. Apa yang dikerjakan Pak Muhadi dan kawan-kawan layak jadi inspirasi bagi petani lain,” ujar perwakilan Maporina.

Reporter : Djoko W
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018