
Sugeng Wahyudi hadirkan buku ‘Catatan Harian Seorang Peternak 2015–2025’, membuka tabir suka duka, harga ayam fluktuatif, dan perjuangan peternak rakyat.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Sugeng Wahyudi hadirkan buku ‘Catatan Harian Seorang Peternak 2015–2025’, membuka tabir suka duka, harga ayam fluktuatif, dan perjuangan peternak rakyat.
Dunia perunggasan rakyat di Indonesia memiliki kisah panjang yang jarang terekspos ke publik.
Untuk itu, Sugeng Wahyudi, seorang peternak mandiri sekaligus Sekjen Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), meluncurkan buku berjudul Catatan Harian Seorang Peternak 2015–2025 pada Rabu (17/9) di ICE BSD.
Buku ini merekam refleksi dan pengalaman jatuh bangun peternak rakyat selama satu dekade terakhir, sekaligus menjadi cermin perjuangan mereka menghadapi dinamika industri ayam dan telur nasional.
Sugeng menjelaskan, ide penulisan buku ini lahir dari keresahan seorang peternak kecil yang kerap menghadapi persoalan klasik, mulai dari ketidakseimbangan suplai dan permintaan, fluktuasi harga ayam, hingga lemahnya perlindungan bagi peternak rakyat.
“Buku ini bukan sekadar catatan pribadi, tetapi hasil interaksi, diskusi, dan pengalaman bersama komunitas. Harapannya, apa yang saya tulis bisa menjadi pelajaran sekaligus refleksi bagi kita semua,” ujar Sugeng saat sambutan.
Menurut Sugeng, perjalanan peternak rakyat telah melewati berbagai fase.
Mulai dari era 1970–1980 ketika pemerintah membatasi jumlah pemeliharaan ayam, hingga era liberalisasi industri yang membuka akses bagi semua pelaku usaha.
Namun, kondisi saat ini justru menghadirkan tantangan baru berupa kepemilikan yang semakin timpang dan persaingan yang tidak sehat.
Buku ini terbagi menjadi dua bagian besar: catatan teknis dan non-teknis.
Catatan teknis memuat pengalaman tentang manajemen kandang, sarana produksi, hingga infrastruktur peternakan.
Sedangkan catatan non-teknis menyoroti persoalan struktural, seperti validitas data, kebijakan harga, dan pentingnya peran koperasi serta asosiasi peternak.
“Asosiasi itu penting, karena di sana ada ruang diskusi, akumulasi pemahaman, dan upaya menyamakan persepsi untuk mencapai tujuan bersama,” tegas Sugeng.
Sugeng juga menekankan perlunya kehadiran negara, terutama BUMN seperti Berdikari, sebagai stabilisator harga sekaligus off-taker produk peternakan.
“BUMN jangan hanya jadi penonton. Negara harus hadir untuk memastikan peternak kecil tidak tersisih,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah lebih adil dalam memperhatikan peternak rakyat, termasuk menjalankan kebijakan kompensasi 50:50 antara perusahaan besar dan peternak mandiri.
“Silakan yang besar tetap membesar, tapi yang kecil jangan sampai mati. Kesejahteraan harus kita nikmati bersama,” tambahnya.
Peluncuran buku ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak.
Ketua GOPAN, Herry Dermawan, menyebut karya Sugeng sebagai inspirasi sekaligus pengingat bagi generasi muda perunggasan.
“Menulis buku itu tidak gampang. Saya lebih sanggup bicara lima jam daripada menulis dua lembar. Jadi ini karya luar biasa,” ujar Herry sambil bercanda.
Ia berharap buku ini tidak hanya menjadi dokumentasi perjalanan peternak, tetapi juga memantik semangat untuk memperbaiki masa depan industri perunggasan nasional.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, menilai buku Sugeng sebagai catatan penting perjalanan perunggasan rakyat dalam satu dekade terakhir.
“Selamat untuk Pak Sugeng atas peluncuran bukunya. Semoga buku ini bisa memberikan warna dan perbaikan bagi kita semua. Setiap kebijakan yang kami ambil selalu mendengar masukan peternak, dan buku ini menjadi salah satu refleksi berharga,” ujarnya.
Agung menambahkan, kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan peternak rakyat menjadi kunci untuk menjaga harga ayam tetap stabil.
Tidak kalah penting, Mohamad Sarkawi, mantan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), menilai buku ini sebagai refleksi panjang tentang perjuangan peternak rakyat menghadapi dinamika industri perunggasan.
“Menulis itu pekerjaan sulit, apalagi bagi seorang peternak yang setiap hari sibuk di kandang. Apa yang dilakukan Pak Sugeng ini luar biasa dan patut diapresiasi,” katanya.
Sarkawi menekankan pentingnya efisiensi dalam produksi ayam agar peternak rakyat bisa bertahan di tengah fluktuasi harga, kesulitan akses DOC dan pakan, serta persaingan dengan perusahaan integrator besar.
Lebih lanjut, Sarkawi menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai peluang besar bagi peternak kecil. Dengan target 92,6 juta penerima, pasar ayam dan telur akan terbuka luas.
“Yang harus kita perjuangkan, jangan sampai pasar MBG ini hanya dikuasai integrator besar. Peternak rakyat harus menjadi bagian dari rantai pasoknya,” tegasnya.
Buku setebal 106 halaman ini dinilai penting tidak hanya bagi peternak, tetapi juga generasi muda yang ingin belajar tentang jatuh-bangun industri perunggasan.
“Dengan membaca buku ini, kita tidak perlu mengalami sendiri kesulitan yang dialami peternak. Pengalaman panjang Pak Sugeng sudah bisa jadi pelajaran berharga,” pungkas Sarkawi.
Peluncuran buku ini sekaligus menjadi momentum bagi peternak rakyat untuk menyuarakan aspirasi, menyoroti ketimpangan industri, dan mempromosikan kerjasama yang adil antarsemua pihak.
Sugeng Wahyudi melalui karyanya membuktikan bahwa pengalaman pribadi dapat diubah menjadi pembelajaran kolektif yang bermanfaat bagi seluruh ekosistem perunggasan di Indonesia.