Friday, 06 March 2026


Hervia Latuconsina, Sosok Pelestari 150 Varietas Hoya Indonesia

20 Nov 2025, 09:03 WIBEditor : Gesha

Hervia Latuconsina, berjasa melestarikan 150 varietas Hoya Indonesia, mengubah tanaman langka ini jadi aset nasional sekaligus peluang ekonomi bagi pecinta tanaman hias.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Hervia Latuconsina, berjasa melestarikan 150 varietas Hoya Indonesia, mengubah tanaman langka ini jadi aset nasional sekaligus peluang ekonomi bagi pecinta tanaman hias.

Di tengah maraknya tanaman hias yang digemari masyarakat, satu nama mencuat sebagai penjaga kekayaan flora nusantara yaitu Hervia Latuconsina. Sosok ini telah berhasil mengoleksi dan melestarikan lebih dari 150 varietas Hoya, tanaman epifit khas tropis yang terkenal dengan keindahan bunga dan daunnya.

Hoya, yang kerap disebut sebagai “anggrek mini” karena keunikan bentuk bunganya, sebenarnya merupakan tanaman lokal Indonesia yang masih tergolong langka.

Hervia menjelaskan, proses konservasi dan pemberian nama untuk setiap varietas Hoya membutuhkan waktu puluhan tahun, bahkan melibatkan penelitian intensif di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

“Saat ini Hoya menjadi salah satu tanaman yang digemari di seluruh dunia. Untuk mendaftarkan varietas, kami harus melakukan konservasi jangka panjang agar tanaman bisa dideskripsi dengan benar,” ujar Hervia.

Hervia menambahkan, hingga kini terdapat 10 varietas Hoya lokal yang telah tersertifikasi, seperti Sembada Rejo, Eksabinangun, Jenar Kluthuk, Planthaven, Padasan, Suweng Jambon, Hoya Sembada, Asteria Maron Sembada, Cinta Sembada, dan Jawa Sembada.

Semua varietas ini didaftarkan secara nasional oleh Pemerintah Kabupaten Sleman sebagai bentuk perlindungan terhadap kekayaan tanaman lokal.

“Masih ada sekitar 40 varietas Hoya lainnya yang sedang dalam proses pendaftaran. Kami berharap varietas-varietas ini bisa segera mendapatkan sertifikasi resmi,” tambah Hervia.

Hervia, yang juga Ketua Perkumpulan Pelestari Tanaman Hoya Indonesia (PPTHI), menegaskan pentingnya menjaga Hoya sebagai sumber daya genetik spesifik lokasi, agar terhindar dari biopiracy. “Hoya bukan hanya indah, tetapi juga aset bangsa yang sangat berharga,” ujarnya.

Selain sebagai tanaman hias, Hoya memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan. Tanaman ini dapat dibudidayakan melalui biji atau stek, termasuk metode kultur jaringan.

Dengan perawatan yang tepat, Hoya bisa tumbuh hingga tiga meter dengan bunga yang tahan lama dan daunnya yang menawan.

Di Rumah Lavia, Sleman, Hervia menanam berbagai jenis Hoya. Penanaman dilakukan di tempat teduh, menghindari sinar matahari langsung, dan penyiraman hanya saat media tanam kering.

Media tanam yang digunakan cukup sederhana, seperti campuran sekam dan kayu lapuk, dengan pemupukan rutin dua minggu sekali.

“Hoya bisa diletakkan di teras, dekat jendela, atau halaman dengan naungan. Jika ingin full sun dan rain, tanaman harus dibiasakan sejak awal,” terang Hervia.

Menurutnya, keindahan Hoya bukan hanya pada bunganya, tetapi juga daunnya yang unik. Bunga Hoya pun memiliki keistimewaan: setelah mekar, bagian kelopaknya akan tumbuh kembali dalam satu bulan setelah bunga tua rontok.

Hervia juga aktif melibatkan anak-anak muda dalam pelestarian Hoya. Ia menekankan, pendekatan yang dilakukan bukan sebagai pemburu tanaman, tetapi sebagai “pendekar Hoya” yang ikut merawat kekayaan alam.

“Saya membuat komunitas pelestari dan menampung hoya-hoya yang mereka temukan di hutan untuk dibudidayakan. Dengan begitu, anak-anak muda belajar menghargai tanaman, bukan menjualnya begitu saja,” jelas Hervia.

Selain itu, Hervia sering menggelar pameran dan workshop gratis untuk masyarakat dan kolektor muda. Ia ingin menumbuhkan kecintaan terhadap tanaman lokal, sekaligus menumbuhkan ekonomi kreatif berbasis flora nusantara.

“Kalau kita menjalani dengan cinta, merawat Hoya jadi tidak terasa sulit. Yang penting kita menghargai setiap prosesnya,” katanya.

Dengan dedikasi dan cintanya terhadap Hoya, Hervia Latuconsina menjadi inspirasi bagi pelestari tanaman Indonesia.

Lebih dari sekadar hobi, upaya konservasinya kini berperan penting menjaga warisan flora nusantara agar tetap dikenal dunia.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018