Thursday, 16 July 2026


Ditakuti Mafia Pangan, Mentan Amran Jadi Jenderal Perang Penjaga Kedaulatan Pangan RI

23 Feb 2026, 07:48 WIBEditor : Gesha

Pakar kebijakan publik dari Universitas Nasional, Muhammad Nur Sadik, menilai kebijakan yang dijalankan Mentan Amran mencerminkan kepemimpinan tegas, terarah, dan berpihak pada masyarakat kecil, terutama petani.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Sosok Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kembali jadi sorotan. Di tengah gejolak harga dan tekanan sektor pangan, kepemimpinannya disebut bak “jenderal perang” yang berdiri di garis depan menjaga stabilitas dan kedaulatan pangan nasional.

Pakar kebijakan publik dari Universitas Nasional, Muhammad Nur Sadik, menilai kebijakan yang dijalankan Mentan Amran mencerminkan kepemimpinan tegas, terarah, dan berpihak pada masyarakat kecil, terutama petani.

Menurutnya, langkah-langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan hingga menindak praktik mafia pangan menunjukkan karakter pemimpin yang tak ragu mengambil keputusan cepat dengan dampak langsung.

“Kebijakan Menteri Pertanian jelas arahnya, tegas dalam eksekusi, dan nyata keberpihakannya kepada rakyat,” ujar Prof. Nur Sadik pada keterangan rilis Minggu (22/2/2026).

Di tengah riuh pasar dan fluktuasi harga yang kerap membuat masyarakat resah, Mentan Amran dikenal memilih turun langsung ke lapangan. Pendekatan ini dinilai menjadi kunci stabilitas pasokan dan harga pangan.

Menurut Prof. Nur Sadik, sikap tersebut memperlihatkan kepemimpinan yang hadir, bekerja nyata, dan tidak gentar menghadapi tekanan.

“Ia tidak takut menghadapi mafia pangan. Ketika harga bergejolak, beliau turun tangan dan kondisi kembali stabil,” tegasnya.

Langkah-langkah percepatan produksi, penguatan distribusi, hingga penindakan tegas terhadap praktik permainan harga disebut sebagai benteng utama menjaga pasokan nasional tetap aman.

Guru Besar jebolan Golden Gate University itu menilai gaya kepemimpinan Mentan Amran tergolong langka. Ketegasan, kecepatan, dan keberanian dalam mengambil kebijakan strategis dinilai layak menjadi contoh bagi pemimpin masa depan, khususnya di sektor pertanian.

Ia juga menyoroti latar belakang keluarga yang disebut membentuk karakter kepemimpinan Amran — disiplin, tanggung jawab, dan keberanian menghadapi tantangan.

Secara historis, Amran disebut merupakan keturunan bangsawan Bugis, cucu dari Raja ke-16 Kerajaan Bone, Lapatau Matanna Tikka, yang dikenal sebagai pemimpin tegas dan bijaksana dalam sejarah Sulawesi Selatan.

Dalam pandangan akademisi, kepemimpinan Mentan Amran juga terlihat dari keberhasilannya menjalankan program prioritas pemerintah dengan tempo cepat.

Target Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai swasembada pangan dalam waktu singkat sempat dianggap mustahil oleh banyak pihak. Namun, menurut Prof. Nur Sadik, capaian tersebut berhasil diwujudkan melalui kebijakan terukur dan eksekusi yang agresif.

Ia menyebut Indonesia kini mampu meningkatkan produksi hingga mengekspor sejumlah komoditas pangan, termasuk beras, yang sebelumnya masih bergantung pada impor.

“Banyak pakar menilai target itu tidak mungkin. Namun ketika tugas diberikan kepada orang yang tepat, hasilnya bisa tercapai,” ujarnya.

Kebijakan percepatan produksi, penguatan distribusi, dan respons cepat terhadap gejolak pasar dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas pangan nasional. Pendekatan ini juga disebut memberi rasa aman bagi petani sekaligus melindungi konsumen.

Dengan kepemimpinan yang kuat dan berpihak pada rakyat, Prof. Nur Sadik optimistis sektor pertanian Indonesia akan semakin tangguh dan berdaulat, sekaligus memperkokoh posisi Indonesia menuju swasembada pangan berkelanjutan.

Di tengah tantangan global dan ancaman krisis pangan dunia, sosok Mentan Amran digambarkan bukan sekadar pengambil kebijakan — melainkan penjaga lumbung negeri, berdiri tegak di antara riuh kepentingan, memastikan piring rakyat tetap terisi.

Reporter : NATTASYA
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018