Thursday, 12 March 2026


Sahat Sinaga: Mengubah Sudut Pandang Minyak Sawit

01 Mar 2026, 09:47 WIBEditor : Yulianto

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Minyak sawit kerap mendapat image negatif di pasar dunia. Karena itu, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga mengusulkan untuk mengubah sudut pangan terhadap minyak sawit tidak lagi dengan sebutkan CPO (crude palm oil) tapi DPMO (degummed palm mesocarp oil).

Pulang dari Negeri Tiongkok mendapat tugas dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Sahat mengatakan, pihak China berminat untuk membeli karbon dari tanaman perkebunan sawit. Bukan hanya itu, ia juga bercerita, pada tahun tahun 2022 pernah membuat suatu presentasi di International Palm Oil Conference (IPOC) Kuala Lumpur mengenai Total Rebranding of Palm Oil.

Saat itu dirinya bertanya kepada perwakilan Afrika, Asia Tenggara, Pasifik dan Amerika Latin yang sifatnya sederhana. “Do you really know what is palm oil?” “Oh yes, of course we know. We already spent a lot of money for this researchingm” tutur Sahat yang mendapat penugasan dari Badan Perencanaan Nasional (Bappenas) untuk berbicara dengan CSES (China Science, Ecology dan Society) di bawah  Ministry of Ecology and Environment, beberapa waktu lalu.

Sahat mengaku, mendapat pertanyaan balik mengapa mempermasalahkan hal tersebut. “Saya bilang, kita itu pura-pura tahu, padahal enggak tahu. Kenapa saya bilang begitu? Kalau kita tahu betul sawit, kita harus protes Codex Alimentarius. Karena Codex Alimentarius itu adalah kitab sucinya vegetable oil,” katanya.

Menurutnya, kualitas seluruh minyak dunia beradasarkan Codex Alimentarius, mulai dari sunflower, castor oil, rapeseed, soybean, olive oil dan minyak kelapa berdasarkan tingkat lemak jenuhnya. Minyak kelapa diurutan ke 14, karena hampir 98% mengandung lemak jenuh.

“Jadi saya bilang, kalau itu yang menjadi referensi berdasarkan chemical composition, saya kira itu tidak betul,” tegasnya saat buka Puasa Bersama GIMNI, APROBI dan APOLIN dengan Forum Wartawan Pertanian di Jakarta, Selasa (24/2).

Sahat kemudian mengusulkan agar menggunakan standar nutrisi sebagai patokan minyak makan. “Kenapa kita tidak pernah berpikir nutrisi yang dikandung minyak itu sendiri? Saya bilang, olive oil-lah minyak yang terjelek di dunia, karena kandungan Vitamin E hanya sekitar 20 ppm dan tidak ada tokotrienol. Minyak sawit mengandung 1.150 ppm dan antioksidan, tapi tidak pernah diungkap. Mengapa selama ini tidak menjadi patokan?,” tuturnya.

Dalam forum tersebut, Sahat mengatakan, pelaku usaha minyak sawit dunia harus mulai berpikir revolusi teknologi. Sebab teknologi yang ada sekarang sudah usang. “Kita terlalu bodoh menggunakan itu terus, sudah 100 tahun Indonesia menggunakan itu, kita 80 tahun merdeka tapi tidak ada improvement,” tuturnya.

Padahal menurut Sahat, Indonesia mempunyai minyak yang hebat. Tapi saat di pabrik menjadi minyak makan dengan temperatur hampir 140 derajat, justru menghilangkan atau menyisakan kandungan vitamin yang sedikit. Setelah diproses lagi menjadi CPO (Crude Palm Oil).

“Crude itu kan minyak kotor. Jadi tidak salah orang Barat mengatakan itu namanya dirty palm oil. Karena tidak ada crude soybean, tidak ada crude sunflower. Mengapa hanya Palm Oil dibilang crude? Itukan sudah diskriminasi,” sesalnya.

Karena itu, Sahat mengusulkan pola pikir tidak lagi menyebut sebagai CPO tapi DPMO (degummed palm mesocarp oil) yakni minyak sawit mentah yang telah dihilangkan getahnya dan siap menjadi bahan baku pabrik untuk menjadi minyak goreng, dan produk turunan lainnya.

“Jadi saya bilang namanya DPMO. Kenapa dari dulu kalau dari kernel dan biji sawit, namanya Palm Kernel Oil? Sedangkan dari sabutnya disebut mesocarp. Jadi saya bilang Palm Mesocarp Oil,” katanya.

Karena itu, Sahat mengusulan, perlu launching tidak lagi dengan nama CPO, tapi DPMO. Sebab dalam kandungan DMPO nutrisi minyak mencapai 96-97 persen. “Bukan CPO namanya. CPO is a lousy oil. Jadi kita juga kalau marketing perlu strategy. Kita tidak mau dinina-bobokan dengan nama CPO,” ujarnya.

Bahkan yang cukup menganggetkan saat berdiskusi dengan pihak China, Sahat mengatakan, minyak sawit itu mirip dengan Air Susu Ibu (ASI). Ada keseimbangan lemak jenuh dan lemak tak jenuh dalam ASI. Nah, minyak sawit adalah minyak yang mempunyai keseimbangan antara lemak jenuh dan lemak tak jenuh.

“Kita pernah lihat gambar pola makan 4 sehat 5 sempurna? Di tengah itu kan ada gambar susu.Nanti bukan hanya susu, tapi ditambah minyak sawit,” katanya.

China Minta Beli Karbon Sawit

Negeri China menyatakan minat membeli kredit karbon dari transformasi industri sawit Indonesia, dengan potensi nilai mendekati 700 juta dollar AS per tahun. Ketertarikan tersebut muncul setelah delegasi Indonesia mempresentasikan konsep perubahan teknologi pengolahan sawit yang diklaim mampu menurunkan emisi karbon hingga 78 persen.

Sahat mengatakan, angka potensi penurunan emisi 45,3 juta ton CO₂ ekuivalen per tahun muncul dari perhitungan yang dibuat setelah pihak China menanyakan volume karbon yang dapat diperoleh. “Kalau kita ubah teknologinya, minimal emisi karbon bisa turun 78 persen. Dari perhitungan saya, potensi penurunannya sekitar 45,3 juta ton CO₂ ekuivalen per tahun,” kata Sahat.

Dengan asumsi harga karbon 15 dollar AS per ton, nilai perdagangan karbon berpotensi mencapai hampir 700 juta dollar AS per tahun. Hitungannya, 45,3 juta dikalikan 15 dollar AS, hampir 700 juta dollar AS. “Itu hanya dari trading karbon,” katanya.

Ketika ditanya mengenai dana yang diperlukan, Sahat menghitung hanya untuk peremajaan kebun sawit rakyat seluas 2,5 juta ha yang menelan biaya sekitar Rp171 triliun selama tujuh tahun. Biaya modernisasi mesin diperkirakan mencapai Rp141 triliun, sehingga total investasi yang diperlukan sekitar Rp345 triliun.

“Bagi China, rupanya uang Rp 350 triliun itu enggak ada artinya,” kata Sahat menirukan pernyataan pihak CSES. Namun ia menegaskan, pihak China berharap mendapatkan hak pembelian minyak sawit berkualitas.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018