Thursday, 12 March 2026


Mengenang Try Sutrisno, Wapres RI yang Blusukan ke Sawah Demi Kesejahteraan Petani

02 Mar 2026, 15:27 WIBEditor : Gesha

Kabar wafat Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno membawa duka sekaligus kenangan pengabdiannya di sektor pertanian. Ia dikenal turun langsung ke sawah, berdialog dengan petani, demi ketahanan pangan dan kesejahteraan nasional.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Kabar wafat Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno membawa duka sekaligus kenangan pengabdiannya di sektor pertanian. Ia dikenal turun langsung ke sawah, berdialog dengan petani, demi ketahanan pangan dan kesejahteraan nasional.

Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Try Sutrisno, meninggal dunia pada Senin (2/3/2026) di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta. Kepergian tokoh militer sekaligus negarawan ini meninggalkan jejak panjang pengabdian, termasuk perannya dalam mengawal kebijakan pertanian nasional dan memperkuat ketahanan pangan Indonesia.

Semasa hidupnya, Try Sutrisno dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat, termasuk para petani. Saat menjabat Wakil Presiden periode 1993–1998 mendampingi Presiden Soeharto, ia aktif memantau kondisi pertanian di berbagai daerah, bahkan turun langsung ke sawah untuk berdialog dengan masyarakat.

Langkahnya menyusuri pematang sawah dan berbincang dengan petani menjadi simbol kepemimpinan yang membumi. Dari kunjungan lapangan tersebut, perhatian pemerintah kala itu semakin terarah pada pembangunan irigasi, peningkatan produksi padi, hingga kesejahteraan petani sebagai fondasi ketahanan pangan nasional.

Sebagai Wakil Presiden, Try Sutrisno tidak secara langsung memegang jabatan teknis di bidang pertanian. Namun, perannya sangat erat dalam mendukung program swasembada pangan yang menjadi prioritas pemerintah pada masa itu.

Ia aktif mengawal berbagai kebijakan pembangunan nasional, termasuk sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat. Bersama jajaran satuan kerja pemerintah, Try Sutrisno terlibat dalam pengawasan implementasi program di lapangan, memastikan kebijakan berjalan hingga tingkat akar rumput.

Perhatian terhadap ketahanan pangan juga tak lepas dari latar belakang militernya. Sebagai mantan Panglima ABRI pada 1988, ia memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas dan keamanan pelaksanaan program pembangunan nasional, termasuk di sektor pertanian.

Pendekatan tersebut menempatkan pertanian bukan sekadar urusan produksi, tetapi juga bagian dari ketahanan nasional. Sawah bukan hanya hamparan padi, melainkan benteng pangan yang harus dijaga demi masa depan bangsa.

Blusukan ke Sawah

Dalam catatan sejarah pembangunan nasional, Try Sutrisno dikenal aktif mendampingi Presiden Soeharto meninjau langsung kondisi pertanian. Keduanya kerap turun ke lapangan, melihat proses tanam, berdialog dengan petani, hingga memantau pengelolaan irigasi.

Kehadiran pemimpin negara di tengah sawah memberi pesan kuat bahwa sektor pertanian merupakan prioritas strategis. Dari lumpur sawah yang menempel di sepatu hingga percakapan sederhana dengan petani, lahir kebijakan yang berorientasi pada produksi pangan dan stabilitas nasional.

Pendekatan langsung tersebut juga memperlihatkan gaya kepemimpinan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Masalah pupuk, irigasi, dan hasil panen menjadi perhatian utama, sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat swasembada pangan.

Perjalanan Karier

Try Sutrisno lahir pada 15 November 1935 di Surabaya, Jawa Timur. Ia termasuk salah satu Wakil Presiden Indonesia yang berasal dari kalangan militer.

Perjalanan kariernya dimulai ketika diterima sebagai taruna di Akademi Teknik Angkatan Darat pada 1956. Sejak saat itu, ia meniti karier panjang di lingkungan militer hingga menduduki berbagai posisi strategis.

Hubungannya dengan Presiden Soeharto terjalin sejak Operasi Pembebasan Irian Barat pada 1962. Kariernya semakin menanjak ketika pada 1974 ia dipercaya menjadi ajudan Presiden.

Pada Agustus 1985, Try Sutrisno diangkat sebagai Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat dengan pangkat Letnan Jenderal. Tak lama kemudian, pada Juni 1986, ia dipercaya menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat menggantikan Jenderal TNI Rudhini.

Puncak karier politiknya terjadi ketika Majelis Permusyawaratan Rakyat periode 1992–1997 memilihnya sebagai Wakil Presiden melalui Sidang Umum 1993. Ia kemudian mendampingi Presiden Soeharto hingga 1998.

Kepergian Try Sutrisno menutup perjalanan panjang seorang prajurit, negarawan, sekaligus pemimpin yang menempatkan pembangunan nasional sebagai prioritas utama. Dalam sejarah Indonesia, namanya tercatat sebagai tokoh yang turut mengawal program ketahanan pangan dan penguatan sektor pertanian di masa pembangunan.

Warisan pengabdiannya menjadi bagian dari perjalanan bangsa dalam menjaga ketersediaan pangan dan kesejahteraan petani. Sosoknya dikenang bukan hanya dari jabatan yang pernah diemban, tetapi juga dari langkah-langkah yang pernah menapak di pematang sawah — tempat harapan rakyat tumbuh bersama bulir padi.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018