Friday, 16 October 2026


Bungaran Saragih Wariskan Pemikiran Agroindustri untuk Generasi 2045

16 Oct 2026, 08:42 WIBEditor : Gesha

Prof. Bungaran Saragih menyiapkan buku agroindustri agar pemikirannya hidup lintas generasi menuju Indonesia 2045.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor – Prof. Bungaran Saragih menyiapkan buku agroindustri agar pemikirannya hidup lintas generasi menuju Indonesia 2045.

Pemikiran Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec. tentang pertanian dan agroindustri akan dibukukan agar tetap hidup lintas generasi. 

Buku bertajuk Indonesia 2045: Sistem Agro-Industri Nasional untuk Negara Tropis Kepulauan, dari Anugerah Alam Menuju Kemampuan dan Transformasi Bangsa, dibedah dalam forum Bungaran Saragih Insight Seri ke-1 di Ruang Jati, Sekolah Bisnis IPB University, Bogor, Kamis (15/10/2026).

Setidaknya buku itu disusun supaya gagasan Bungaran tidak berhenti pada satu orang atau satu masa, tetapi bisa terus dibaca, dibahas, dikritik, dan dikembangkan oleh anak-anak muda yang kelak memimpin Indonesia.

Ketua Pelaksana Gusti Artama Gultom menjelaskan bahwa Bungaran pernah berkata buku ini mungkin karya terakhirnya, "mungkin saja tidak". 

Ucapan itu membawa pesan penting. Perjalanan seseorang ada batasnya, tetapi pemikiran yang bermanfaat bagi bangsa tidak boleh ikut berhenti.

"Pemikiran harus terus dibaca, didiskusikan, dikritisi, dan dikembangkan oleh generasi berikutnya," ujar Gusti, menirukan Prof Bungaran Saragih.

Semangat itulah yang mendasari Bungaran Saragih Insight, yakni menjaga agar gagasan tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi tindakan nyata.

IPB dipilih sebagai tempat seri pertama karena bagi Bungaran kampus ini bukan sekadar tempat belajar. 

“Karena di sinilah ia memulai perjalanan intelektual, belajar, mengajar, dan membangun jejaring yang menyertai kiprahnya. Memulai dari IPB,” kata Gusti.

Dengan demikian, kembali ke tempat gagasan itu tumbuh dan ilmu pengetahuan dikembangkan. 

Karena itu, ia berharap IPB menjadi titik awal agar pemikiran Bungaran menjangkau lebih banyak kalangan, terutama generasi muda.

Bedah buku seri pertama ini kemudian dipandu Prof. Dr. Ir. Y. Bayu Krisnamurthi, M.S., Guru Besar Agribisnis IPB University. 

Empat penanggap hadir, yaitu Prof. Dr. Ir. Haryanto, M.S. (Guru Besar IPB University), Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, M.Ec. (Rektor Perbanas Institute), Prof. Dr. Ir. Noer Azam Achsani, M.S. (Dekan Sekolah Bisnis IPB University), dan Prof. Dr. Ir. R. Nunung Nuryartono, M.Si. (Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN).

"Saya tidak datang untuk meminta buku ini diterima begitu saja. Saya datang untuk menyerahkannya kepada masyarakat akademik agar diuji," kata Prof. Bungaran. 

Ia mempersilakan hadirin mengkritik diagnosisnya, memeriksa konsistensi teorinya, dan menanyakan apakah gagasannya benar-benar bisa dijalankan. 

Menurutnya, buku yang tidak membuka ruang koreksi akan cepat menjadi monolog, padahal Indonesia membutuhkan percakapan ilmiah yang jujur dan keberanian untuk belajar.

Pemikiran Prof Bungaran

Seri pertama ini berangkat dari satu pertanyaan sederhana.

Mengapa Indonesia, yang dianugerahi kekayaan alam, keanekaragaman hayati, wilayah kepulauan luas, penduduk besar dan muda, serta budaya beragam, belum sepenuhnya menjadikan semua itu kemakmuran bersama?

Bungaran menjawab bahwa masalahnya bukan kekurangan modal, tetapi Indonesia belum mampu mengorganisasikan modal yang sudah dimiliki. 

Selama ini bangsa ini sering berbicara tentang potensi, sebagai negara agraris, maritim, dan kaya hayati. Semua itu benar, tetapi potensi belum tentu menjadi kemampuan.

Ia memberi gambaran yang mudah dipahami. Hasil bumi bisa diekspor tanpa membuat kita menguasai teknologinya. Produksi bisa naik tanpa memperbaiki nasib petani. 

Ekonomi bisa tumbuh sambil menyisakan kesenjangan, kerusakan lingkungan, dan ketergantungan pada pengetahuan dari luar. 

Sumber daya alam, manusia, ilmu, teknologi, pasar, pemerintah pusat dan daerah, serta masyarakat pun masih terlalu sering berjalan sendiri-sendiri.

Bungaran mengaku dididik dalam tradisi ekonomi neoklasik dan banyak dipengaruhi Chicago School. Cara pandang itu, katanya, tetap berguna untuk memahami harga, pilihan, dan persaingan. 

Namun pengalaman pembangunan Indonesia menunjukkan bahwa pasar tidak bekerja di ruang kosong. 

“Pasar dibentuk oleh hukum, hak kepemilikan, birokrasi, budaya, kepercayaan, dan kekuatan negara. Harga memang memberi sinyal, tetapi aturan main yang menentukan siapa yang mampu menanggapi sinyal itu,” cetusnya.

Karena itu ia memperkaya pandangannya dengan ekonomi pembangunan, sejarah, sosiologi, dan ekonomi kelembagaan.

Dari pandangan itu, Bungaran menyoroti kekeliruan cara melihat pertanian. Selama ini pertanian dianggap hanya kegiatan di lahan, kebun, kandang, dan kolam. 

“Jika hanya itu yang dihitung, sumbangannya sekitar seperdelapan perekonomian. Angka yang kecil ini mudah memunculkan kesimpulan bahwa pertanian akan terus mengecil dan bisa ditinggalkan ketika ekonomi semakin maju,” tukasnya.

Menurut Bungaran, cara menghitung itu keliru. Pangan dan biomassa menggerakkan banyak usaha lain, mulai dari benih, pupuk, pakan, alat dan mesin, pengolahan, perdagangan, angkutan, pembiayaan, riset, jasa digital, sampai konsumsi.

Seluruh rangkaian itu ia sebut agribisnis sebagai mega-sektor. Nelayan tidak bisa dipisahkan dari rantai dingin, perkebunan dari industri pengolahan, dan produksi dari logistik. Pangan pun tidak berhenti pada hasil panen, tetapi menyangkut gizi dan daya beli.

Karena itu, sistem agroindustri nasional bukanlah nama baru untuk Kementerian Pertanian. Ia adalah rancangan besar untuk mengubah ekonomi dengan bertumpu pada kekayaan hayati Indonesia. 

Rancangan itu menghubungkan empat hal yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi, produksi di darat dan laut, pengolahan menjadi pangan, pakan, energi hayati, dan produk kesehatan, serta pasar dan konsumsi yang memberi arah bagi seluruh sistem.

Keempatnya hanya berjalan jika ditopang logistik antarpulau, pembiayaan yang melihat usaha sebagai satu ekosistem, organisasi petani dan nelayan yang kuat, pemanfaatan data dan kecerdasan artifisial, serta pengelolaan lingkungan. 

Bungaran menilai logistik adalah titik terlemah. "Kita tidak memiliki konsep logistik untuk mega-sektor agribisnis," ujarnya. Di negara kepulauan, jadwal kapal, pelabuhan, gudang, dan rantai dingin ikut menentukan biaya produksi dan daya saing.

Tropis Kepulauan

Seri pertama ini juga menekankan bahwa strategi harus bertolak dari jati diri bangsa. Indonesia adalah negara tropis dan kepulauan, bukan negara subtropis atau kontinental, sehingga tidak bisa dibangun seragam dari Jakarta.

Iklim tropis memungkinkan proses biologis berjalan sepanjang tahun dan menyediakan keanekaragaman hayati yang besar. 

Keunggulan itu membuka jalan ke bioindustri, bukan hanya produksi bahan mentah. Sementara itu, jarak antarpulau memang menimbulkan biaya dan memecah pasar, tetapi keragaman pulau juga memberi beragam sumber daya dan peluang belajar yang luar biasa. 

Laut dan darat pun bukan dua dunia yang terpisah, karena air bergerak dari hutan dan daerah aliran sungai menuju pesisir, dan hasil produksi bergerak dari desa ke kota hingga antarpulau.

Karena itu Bungaran mengusulkan pendekatan agromaritim, yakni menyatukan pertanian, perikanan, kehutanan, daerah aliran sungai, pulau, pesisir, dan logistik. 

Pusat cukup menjaga tujuan, standar, pemerataan, dan infrastruktur, sementara daerah menerjemahkannya sesuai kondisi alam, sejarah, dan budaya setempat.

Ia pun menyayangkan otonomi daerah yang menurutnya makin dipereteli menjadi sentralisasi.

Gagasan paling menonjol dalam buku ini adalah pergeseran dari keunggulan komparatif ke keunggulan transformasional. Keunggulan komparatif berarti kita unggul karena alam kita kaya. 

Bungaran mengingatkan bahwa kekayaan alam tidak otomatis membawa kemajuan. Ia bisa membuat negara bergantung pada ekspor bahan mentah, memicu perebutan keuntungan tanpa kerja produktif, merusak lingkungan, dan memusatkan kekuasaan ekonomi pada segelintir pihak.

Dalam kerangka baru itu, setiap kegiatan ekonomi harus meninggalkan kemampuan yang lebih besar dari sebelumnya. Produksi harus memperbaiki hasil panen dan produktivitas. 

Produktivitas harus menghasilkan nilai tambah. Nilai tambah harus membangun manusia, teknologi, organisasi, dan jaringan. Pada akhirnya, kemampuan yang menumpuk itu melahirkan keunggulan yang sulit ditiru bangsa lain.

Ukuran keberhasilan pun perlu bergeser. Selain produksi, investasi, dan ekspor, Bungaran mengajak bertanya: apakah petani dan nelayan naik kelas, apakah teknologi dikuasai sendiri, apakah nilai tambah tinggal di daerah, apakah pekerjaan makin bermutu, apakah lingkungan tetap produktif, dan apakah generasi berikutnya mewarisi kemampuan yang lebih besar.

Pertanyaan terakhir itu berkaitan langsung dengan semangat warisan pikiran yang diusung forum ini. Bagi Bungaran, ukuran akhir pembangunan bukan hanya apa yang dinikmati hari ini, tetapi kemampuan apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Peran Negara dan Pasal 33

Agar semua itu terwujud, Bungaran menekankan pentingnya aturan main dan kelembagaan. Menurutnya, negara yang kuat bukan negara yang mengerjakan semuanya. 

Negara bertugas menetapkan arah, menyediakan fasilitas umum, menjamin hukum, menjaga persaingan, melindungi yang lemah, dan memperbaiki kegagalan pasar.

Dunia usaha membawa modal dan inovasi, kampus memperluas apa yang mungkin dilakukan, dan masyarakat membawa prakarsa, pengetahuan lokal, serta pengawasan.

Gabungan kekuatan itu ia sebut kapasitas nasional, yang lebih besar daripada kapasitas pemerintah semata.

Bungaran juga meluruskan tafsir Pasal 33 UUD 1945. Penguasaan negara, katanya, tidak sama dengan kepemilikan atau monopoli pemerintah. 

Maknanya adalah kewenangan dan tanggung jawab negara untuk memastikan sumber daya dan cabang produksi penting dipakai sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. 

Jika tidak membawa kemakmuran rakyat, menurutnya, hal itu sudah melanggar amanat konstitusi.

Untuk itu diperlukan pemerintahan yang baik, bersih, cerdas, dan efektif. Baik berarti terbuka dan bertanggung jawab. Bersih berarti melawan korupsi dan perburuan rente.

Cerdas berarti mampu melihat sistem secara utuh, memakai data, dan mau belajar. Efektif berarti mampu mengubah kebijakan menjadi hasil nyata.

Pemerintah yang bersih tetapi tidak mampu akan membiarkan masalah, sedangkan yang cerdas tetapi tidak bersih akan menyalahgunakan kekuasaan.

Laboratorium Transformasi

Dalam hal strategi, Bungaran mengusulkan agar yang didahulukan adalah kemampuan yang tidak hilang ketika anggaran habis atau pemerintahan berganti, seperti manusia terlatih, organisasi yang dipercaya, data yang baik, jaringan pemasok, kemampuan riset, dan standar mutu. 

Menurutnya, Indonesia sudah terlalu sering memiliki proyek yang berhenti begitu anggaran atau pemimpinnya berakhir.

Sebagai gantinya, ia mengusulkan "laboratorium transformasi".

Bedanya dengan proyek percontohan, laboratorium ini dimulai dari dugaan yang jelas, data awal, tujuan belajar, dan evaluasi independen, lalu didokumentasikan agar bisa dipelajari pihak lain. 

Kegagalan yang jujur, kata Bungaran, bisa lebih berguna daripada keberhasilan semu. Yang diperluas ke daerah lain bukan bentuk organisasinya, melainkan prinsip, kemampuan, standar, dan pengetahuannya.

Dengan cara ini, Indonesia diharapkan bergerak dari bangsa yang pandai merencanakan menjadi bangsa yang pandai belajar dan berubah. "Kita sudah pintar merencanakan, tetapi masih lemah dalam belajar dan bertransformasi," ujarnya.

Perubahan sebesar itu, menurut Bungaran, tidak harus menunggu seluruh bangsa sepakat. 

Ia dimulai dari sejumlah orang yang memahami arah, berani mengambil prakarsa, dan membuktikan bahwa perubahan mungkin.

Indonesia yang luas membutuhkan "ribuan titik api", yakni di desa yang membangun agroindustri lokal, di pesisir yang menghubungkan nelayan dengan rantai dingin, serta di perusahaan, bank, pemerintah, dan kampus. 

Perubahan datang dari dua arah, yaitu kebijakan dan anggaran dari atas, serta prakarsa petani, pengusaha, akademisi, dan generasi muda dari bawah. Keduanya bertemu dalam bukti nyata.

Kepada IPB, Bungaran menyampaikan lima harapan. Pertama, menguji apakah sistem agroindustri nasional layak menjadi arsitektur transformasi. 

Kedua, mendekatkan laboratorium kampus dengan lahan, laut, dan industri. Ketiga, memprakarsai laboratorium transformasi bersama daerah, perusahaan, koperasi, dan lembaga keuangan.

Keempat, mendidik mahasiswa menjadi pencipta usaha dan nilai, bukan sekadar pencari kerja. Kelima, menjaga ingatan kelembagaan agar kegagalan tidak diulang dan disebut kebijakan baru.

Tanggapan Guru Besar

Guru Besar di Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Prof. Haryanto menilai membangun sistem agroindustri tidak cukup dengan perbaikan sedikit demi sedikit. 

Menurutnya, tanah bisa merosot kualitasnya, kelembagaan bisa melemah, dan pasar bisa memburuk, sehingga sistem perlu terus disuntik teknologi, manajemen yang lebih baik, aliran informasi, dan tata kelola.

Di sisi lain, Prof. Haryanto mengingatkan bahwa produk pertanian bersifat musiman, mudah rusak, memakan tempat, dan mutunya beragam, sehingga sistemnya lebih rumit daripada pabrik biasa.

Haryanto mencontohkan Vietnam dengan Doi Moi, Korea Selatan dengan Saemaul Undong, Chile dengan revolusi buahnya, dan Belanda dengan pertanian presisi. 

Tetapi, semuanya butuh 30 sampai 40 tahun untuk berubah. Kuncinya adalah kebijakan yang konsisten dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya. "Pemerintah datang dan pergi, tetapi negara tetap ada," ujarnya.

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University yang kini menjadi  

Rektor Perbanas Institute, Prof. Hermanto Siregar menyebut buku ini padat dan berbobot. 

Ia merangkum empat gagasan utamanya yaitu daya saing yang dibangun lewat ekosistem, agroindustri sebagai rancangan industrialisasi, kekuatan bangsa yang tidak hanya bertumpu pada pemerintah, serta keseimbangan antara pertumbuhan dan keadilan. 

Ia juga menggarisbawahi bahwa hilirisasi bukan sekadar membangun pabrik.

Hilirisasi berarti menaikkan produk dari bahan mentah ke produk olahan, produk fungsional, teknologi, hingga merek bernilai tinggi, sambil menaikkan manusianya dari pekerja biasa menjadi operator terampil, teknisi, manajer, dan akhirnya inovator serta wirausahawan.

Hermanto juga memberi catatan. Menurutnya, buku ini kuat menjawab "mengapa" dan "ke arah mana", tetapi belum sepenuhnya menjawab "berapa, di mana, siapa, kapan, dan berapa biayanya". 

Karena itu ia menyarankan seri-seri berikutnya menjadi tahap pembuktian.

Salah satu usulnya adalah buku berjudul Indonesia 2045: Dari Paradigma ke Eksekusi yang berisi peta jalan, lima sampai delapan laboratorium transformasi, dan papan penilai tata kelola.

"Buku ini paradigma, buku berikutnya pembuktian dan strategi implementasi," katanya.

Di sisi lain, Guru Besar di bidang Ilmu Ekonomi, Statistik, dan Ekonometrika, Prof. Noer Azam Achsani, yang mengaku murid Bungaran dalam mata kuliah makroekonomi dan ekonomi pembangunan, mengaitkan buku ini dengan pemikiran Daron Acemoglu, peraih Nobel Ekonomi 2024, yang menyebut lembaga yang hanya menyedot kekayaan sebagai penyebab banyak negara gagal. 

Ia mencontohkan Norwegia yang kaya minyak dan makmur, sedangkan Nigeria yang juga kaya minyak tetap miskin.

Azam menyarankan agar pengaruh luar, termasuk sejarah penjajahan dan hubungan antarbangsa, dibahas lebih banyak dalam seri berikutnya.

Tak mau ketinggalan, Guru Besar Ilmu Ekonomi dari IPB University yang kini di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Nunung Nuryartono melengkapi dengan data. 

Dirinya membandingkan Korea Selatan dan Chile berhasil keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle class trap) dalam sekitar 30 tahun, sedangkan Brasil sudah sekitar 50 tahun bertahan di kelompok itu. 

Dari simulasinya, jika ekonomi hanya tumbuh 4 persen per tahun, Indonesia butuh 24 sampai 26 tahun untuk menjadi negara berpendapatan tinggi. 

Pada pertumbuhan 5 persen, waktunya 19 sampai 21 tahun. Untuk mencapainya dalam 15 tahun dibutuhkan pertumbuhan 7 sampai 8 persen, dan 10 tahun jika tumbuh 10 sampai 11 persen, itu pun dengan pembaruan kebijakan dan investasi pada manusia.

Nunung menekankan bahwa inovasi harus sampai ke industri, tidak berhenti di laboratorium.

Petani dan nelayan, katanya, perlu dilibatkan sebagai ko-arsitek teknologi, sedangkan teknologi dari luar harus dipelajari cara kerjanya agar Indonesia tidak sekadar menjadi pengguna. 

Ia juga menyebut Indonesia memiliki 22 tipe ekosistem yang tidak dimiliki negara lain. Menurutnya, banyak pertanyaan dalam buku ini yang bisa menjadi bahan riset.

Menutup diskusi, Bayu Krisnamurthi menilai keunggulan transformasional sebagai konsep baru yang bisa menjadi tahap keempat setelah keunggulan absolut, komparatif, dan kompetitif. 

Konsep itu, katanya, belum selesai dan perlu dikembangkan menjadi buku teks. Ia mengajak mahasiswa magister dan doktor menjadikan gagasan dalam buku ini sebagai bahan tesis dan disertasi.

Pesan itu sejalan dengan tujuan tujuh seri buku. Gagasan Bungaran dimaksudkan bukan sebagai monumen, melainkan bahan kerja bagi peneliti, mahasiswa, pelaku usaha, petani, dan pembuat kebijakan.

Bungaran sendiri menyebut bukunya bukan kata akhir, melainkan undangan untuk membangun bahasa bersama tentang masa depan Indonesia. 

Ia lahir empat bulan sebelum proklamasi dan menyaksikan revolusi, pembangunan, reformasi, krisis, hingga demokratisasi. 

"Setiap masa meninggalkan pelajaran, dan tugas kita adalah menyusun pelajaran itu menjadi paradigma transformasi," katanya.

Menurutnya, bangsa ini perlu bergerak maju tanpa merusak keseimbangan, dan menjaga keseimbangan tanpa takut maju.

Ia berharap IPB bersedia menyalakan api pertama, dimulai dari satu atau dua misi dan koalisi kecil yang sungguh bekerja.

"Indonesia 2045 tidak akan lahir karena berjalannya kalender. Ia akan dibangun oleh manusia yang mengubah anugerah menjadi kemampuan, kemampuan menjadi keunggulan ekosistem, dan keunggulan menjadi kemakmuran yang adil serta berkelanjutan," ujarnya.

Dengan seri pertama ini, Bungaran Saragih Insight akan berlanjut ke seri-seri berikutnya sesuai rencana tujuh buku.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018