Tuesday, 20 October 2026


Jadi Wamentan, Alim Setiawan: Datang, Belajar dan Bekerja Bersama

20 Oct 2026, 16:36 WIBEditor : Yulianto

Wakil Menteri Pertanian, Alim Setiawan Slamet

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Presiden Prabowo Subianto, Kamis (15/10) melantik Alim Setiawan Slamet menjadi Wakil Menteri Pertanian (Wamentan). Pelantikan tersebut hanya berselang dua minggu setelah sebelumnya (Kamis, 1/10) mengangkat Muhammad Saleh Mustafa juga sebagai Wakil Menteri Pertanian mendampingi Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.

Keberadaan dua Wamentan ini, diharapkan memperkuat upaya pemerintah menjaga keberlanjutan swasembada pangan, memodernisasi pertanian, dan mendorong hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian.

Pasca pelantikan pada Kamis (13/10), penyambutan Alim Setiawan berlangsung di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Senin (19/10). Saat penyambutan, Amran Sulaiman berharap kehadiran Wamentan Alim menjadi penguatan bagi Kementan dalam mengawal kesinambungan program swasembada pangan, sekaligus mempercepat transformasi pertanian dari sistem tradisional menuju modern.

Siapa sebenarnya Alim Setiawan? Ternyata Alim bukan lah orang yang tak jauh dari dunia pertanian. Pria yang kini berusia 43 tahun ini adalah rektor IPB University. Sebagai orang nomor satu di Kampus Hijau tersebut sebenarnya amanah yang diemban Alim belumlah lama.

Alim dilantik sebagai Pengganti Antar Waktu (PAW) Rektor IPB University periode 2023-2028 oleh Ketua MWA IPB University, Prof Hardinsyah, di Auditorium Andi Hakim Nasution, Kampus IPB Dramaga, Bogor (11/12) lalu. Sebagai rektor IPB, Alim menggantikan Prof Arif Satria yang mendapat amanah sebagai Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Pelantikan Alim dilakukan berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 42/M Tahun 2026 tentang Pengangkatan Wakil Menteri Negara Kabinet Merah Putih Periode 2024–2029. Sebagai keluarga guru dan petani, Alim mengatakan, dirinya datang ke rumah besar ini (Kementerian Pertanian, red) dengan satu sikap untuk belajar dan bekerja bersama jajaran Kementan yang telah lebih dahulu memahami kondisi lapangan.

“Saya sadar Bapak dan Ibu sudah lama berada di garis depan, memahami kondisi lapangan, anggaran, dan denyut nadi petani. Karena itu, saya ingin lebih banyak mendengar. Tugas kita jelas, yaitu mendukung arah yang sudah ditetapkan Pak Menteri dan memastikan swasembada pangan berjalan berkelanjutan,” kata Alim saat penyambutan dirinya di Kementerian Pertanian.

Pendekatan Data dan Riset

Alim menegaskan siap mendukung arah kebijakan Kementerian Pertanian dengan mengedepankan pendekatan berbasis pengetahuan, data, dan riset. Bukan hanya itu, ia menilai, petani harus menjadi pusat dari seluruh program pertanian, sehingga keberhasilan kebijakan diukur dari manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Sebagai orang yang besar di dunia akademik, Alim menyatakan, pengalaman akademik yang dimilikinya akan dimanfaatkan untuk memperkuat jembatan antara perguruan tinggi dan Kementan. Khususnya, dalam menerjemahkan hasil riset menjadi kebijakan dan teknologi yang dapat diterapkan petani.

“Dari kampus saya ingin membawa pendekatan berbasis pengetahuan, data, dan riset. Saya juga ingin menjadi jembatan antara Kementerian Pertanian dan perguruan tinggi, antara hasil penelitian dan sawah petani kita,” tuturnya.

Prinsipnya, lanjut Alim, petani harus menjadi pusat dari seluruh kerja. Setiap program harus diukur dari apakah petani merasakan manfaatnya. Integritas juga menjadi fondasi penting karena kepercayaan publik yang sudah dibangun harus dijaga bersama.

Dengan penguatan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan petani, Alim juga berkomitmen menjaga keberlanjutan swasembada pangan sekaligus memperkuat transformasi pertanian nasional.

Alim pun menegaskan siap mendukung Menteri Pertanian dalam mempercepat transformasi pertanian nasional melalui penerapan teknologi modern, inovasi, dan riset untuk meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan petani.

Menurutnya, upaya mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan perlu ditopang peningkatan produktivitas, efisiensi, dan keberlanjutan sistem pertanian. Karena itu, ia akan mengawal pengembangan pertanian modern serta peningkatan produksi komoditas strategis, khususnya kedelai dan bawang putih.

Bagi Alim, transformasi pertanian membutuhkan penerapan sistem produksi modern yang didukung inovasi, penelitian, dan teknologi tepat guna. Pengembangan teknologi tersebut perlu terus dilakukan untuk menghasilkan metode budidaya yang lebih produktif dan efisien, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Ia menilai, pengembangan model pertanian modern yang telah diperkenalkan Kementerian Pertanian menjadi salah satu pendekatan yang akan terus didorong. Implementasinya perlu dikawal bersama melalui pengujian dan pengembangan teknologi agar produktivitas pertanian dapat meningkat secara berkelanjutan.

“Pertanian modern hanya bisa dilakukan dengan inovasi, riset, dan teknologi tepat guna. Program yang sudah berjalan akan kita dorong bersama, termasuk meneliti kemungkinan adanya teknologi yang lebih baik. Produktivitasnya sangat menjanjikan, bisa di atas 10 ton per hektare, bahkan lebih. Kalau itu bisa tercapai, tentu swasembada pangan kita bisa lebih berkelanjutan,” tuturnya.

Untuk mencapai target tersebut, Alim menegaskan, berbagai aspek perlu diperkuat. Dari mulai pengembangan varietas unggul, penerapan standar operasional prosedur (SOP) budidaya, hingga riset dan pemanfaatan teknologi. Namun langkah tersebut membutuhkan kolaborasi erat antara Kementan, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian.

Baginya, perguruan tinggi dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memiliki peran penting dalam mempercepat penerapan hasil penelitian di sektor pertanian. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan petani dan kondisi lahan di berbagai daerah. 

PROFIL

Nama  :  Dr. Alim Setiawan Slamet, S.TP, M.Si
Riwayat Pendidikan

S1 Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor 2005
S2 Teknologi Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor 2009
S3 Agricultural Marketing and Agribusiness Ehime University, Jepang 2017

Riwayat Pekerjaan

  • Direktur Kemahasiswaan dan Pengembangan Karir 2018 – 2022
  • Kepala Kantor Sekretariat Rektor IPB 2013 – 2014
  • Komisi Kemahasiswaan, Departemen Manajemen, FEM 2008 – 2013
  • Asisten Rektor IPB 2007 – 2012
  • Wakil Rektor Bidang Resiliensi Sumberdaya dan Infrastruktur 2022-2025

Organisasi Profesi

  • The Agricultural Marketing Society of Japan, 2015 – sekarang
  • Forum Manajemen Indonesia, 2017 – sekarang

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018