Kamis, 15 November 2018


Abd Harissuhud, Tokoh Pendorong MTS di Lamongan

01 Nov 2018, 14:14 WIBEditor : Gesha

Kepala Desa (Kades) Besur, Abd. Harissuhud tekun mengajak masyarakat Lamongan terapkan MTS | Sumber Foto:Indarto

Daerah lain bisa tiru keberhasilan di Lamongan

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Lamongan --- Mengenalkan pengetahuan terkait perlindungan tanaman pangan, khususnya padi ke petani bukan perkara mudah. Karena itu diperlukan tokoh masyarakat yang aktif berperan serta dalam mengembangkan prinsip dasar manajemen tanaman sehat (MTS) di kelompok tani.

Sukses pengembangan MTS di Desa Besur, Kec. Sekaran, Kab. Lamongan, Jawa Timur (Jatim) tak lepas dari peran serta Kepala Desa (Kades) Besur, Abd. Harissuhud. Berkat keuletan dan ketelatenannya dalam mengembangkan MTS di desanya, kelompok tani di Desa Besur saat ini bisa panen padi 3 kali setahun dengan produktivitas padi 8 ton/ha.

"Tak hanya panennya bagus. Hama wereng batang cokelat yang dulu kerap menyerang padi petani, saat ini sudah berkurang," ujar Abd. Harissuhud, di Lamongan, Jatim (30/10).

Agar petani mau menerapkan MTS, perlu pemahaman yang sama pentingnya MTS. Sehingga petani harus dikelompokkan dahulu untuk menerapkan prinsip MTS.

"Sebenarnya hampir sama dengan pengendalian hama terpadu (PHT). Bedanya, kalau MTS ini yang merencanakan petani, dan yang melakulan petani dengan didampingi petugas (penyuluh dan POPT. Sehingga, kuncinya di kelembagaan petani," kata Abd. Harissuhud.

Ia juga mengatakan, agar pelaksanaan MTS berjalan dengan baik, seluruh komponen di tingkat desa pun harus dilibatkan. Artinya,  pemerintah desa harus berperan aktif membangun kesadaran petani untuk melakulan MTS.

Keikutsertaan aparat desa dalam proses MTS itu mulai dari pengolahan lahan, tanam, pengendalian OPT dengan agen hayati, aplikasi alsintan, sampai panen. "Di desa kami ada tiga kelompok tani ( Tani Karyo I,II dan III) yang sudah aktif mengaplikasi MTS.  Kelembagaan kelompok tani tersebut terus kami perkuat dengan pendampingan," jelas Abd Harissuhud.

Peran alktif aparat desa dalam pelaksanaan MTS, lanjut Abd. Harissuhud sangat diperlukan untuk memberi dukungan moril bagi kelompok tani dari mulai olah tanah, membuat pesemaian, tanam, sampai panen.

Bahkan, aparat Desa Besur menyiapkan 20 petani yang sudah dilatih petugas POPT untuk melakukan pengamatan OPT di setiap lahan sawah. "Petani pengawas ini secara khusus bertugas melakukan pengamatan tiap minggu sekali," ujarnya.

Petani pengawas tersebut dalam melakukan tugasnya didampingi, petugas POPT dan PPL. Dengan adanya pengawasan rutin, petani bisa melakukan antisipasi sejak dini terhadap hama dan penyakit padi.

"MTS yang diterapkan petani di sini dalam membasmi hama dan penyakit tumbuhan tak menggunakan pestisida. Petani hanya memanfaatkan agen hayati. Bahkan, pupuk kimia yang digunakan pun takarannya sudah dikurangi. Petani lebih banyak menggunakan pupuk organik," kata Abd.Harissuhud.

Menurut Abd.Harissuhud, petani yang mengaplikasi MTS di lahan 100 ha terbukti produktivitas padinya cukup tinggi, dari 5-6 ton/ ha saat ini bisa mencapai 7-8 ton/ha. Menariknya, Desa Besur yang semula endemi wereng batang coklat (WBC), setelah menerapkan MTS hama WBC berkurang.

"Petani juga memanfaatkan tanaman refugia sebagai tempat musuh alami WBC. Petani juga memanfaatkan burung hantu untuk mengatasi hama tikus," ujarnya.

MTS yang dikembangkann 3 Poktan di Desa Besur sejak pertengahan 2016 lalu, kata Abd Harissuhud sudah mulai diaplikasi di sejumlah desa di Kec. Sekaran. Ia juga berharap, MTS di Desa Besur ini bisa diaplikasi petani lainnya di tanah air.

Petani yang mengaplikasi MTS diharapkan bisa mandiri benih dan pupuk (kompos). Setelah mandiri dan berdaulat, petani bisa mewujudkan kedaulatan pangan

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018