Rabu, 12 Desember 2018


Asep, Bersama Ayah Pasarkan Herbal Organik di Warung Langit

02 Des 2018, 14:51 WIBEditor : GESHA

Asep (memakai celemek putih) bersama mahasiswa asing yang belajar langsung mengenai herbal organik di Kebun dan Warung Langit | Sumber Foto:ISTIMEWA

Banyak diburu oleh para Herbal Mania di Bandung

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung --- Pemasaran herbal organik hingga kini masih lumayan sulit karena pasarnya yang segmented. Namun di tangan Asep, herbal organik dipasarkan sendiri lewat Warung Langit dan menjadi incaran herbal mania di Indonesia.

Kabupaten Bandung Barat dikenal dengan kawasan hortikultura yang luas. Salah satunya terhampar di Dago, tepatnya di desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan. Di lokasi ini terdapat kuliner sehat dan unik bernama Warung Langit.

Warung ini memiliki beragam menu berbahan herbal dan sayuran. Bahan baku sayur ini diperoleh dari kebun organik di sekitar warung milik ayah dan anak, Purnama dan Asep yang memberi nama Kebun Langit.

Keduanya, telah memulai budidaya organik sejak tahun 2002 dan merasakan jatuh bangun dengan usaha tani herbal organik sampai akhirnya di tahun 2014 tercetus ide membuka usaha Warung Langit.

Ide membuka warung ini terinspirasi dari kunjungan Asep ke petani organik di Imogiri, Yogyakarta pada tahun 2014.

Asep mendukung usaha ayahnya untuk mengembangkan herbal organik. Dengan memanfaatkan hasil kebun organik melalui warung, usaha milik ayahnya ini pun ramai dikunjungi para herbal mania dari Bandung dan sekitarnya.

Minuman herbal yang dihasilkan warung sangat berkhasiat bagi kesehatan dan kebugaran tubuh. Semua bahan dasar berasal dari herbal organik, baik pewarna, perasa hingga pemanisnya yang tentunya tanpa pengawet.

"Semua bahan minuman dan makanan yang kami sajikan di warung ini dipanen dari Kebun Langit, Keistimewaan lainnya adalah keindahannya alam yang dapat dinikmati langsung oleh pelanggan yang datang ke Warung Langit", ujar Asep.

Dalam mengelola warung dan kebun organiknya, Asep melibatkan kelompok tani Cipta Mandiri dimana dirinya menjadi anggota. Kelompok tani ini beranggotakan 20 orang dan enam orang di antaranya aktif menanam herbal organik. 

"Kami menanam berbagai jenis herbal, seperti pepermint, rosemari, lemon bam, kembang Telang, tem, oregano, pagoda, magic fruit. Masing masing anggota memiliki lahan 2000-3000 meter persegi, dan menjual rata-rata 200 kg herbal setiap hari dengan harga rata-rata Rp 13.000 per kg," beber Asep.

Dengan bimbingan Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) propinsi Jawa Barat, kini kelompoknya telah mampu memperbanyak Trikokompos, PGPR dan pestisida nabati. 

"Sebelumnya kami memang memakai pupuk kandang yang kami fermentasi sendiri, sekarang dengan pendampingan fasilitator yg disiapkan oleh BPTPH, kami sudah bisa memproduksi dan menggunakan trichoderma, dan PGPR, sehingga tanaman menjadi lebih subur dan tahan terhadap hama dan penyakit", ujarnya.

Direktur Perlindungan Hortikultura, Sriwijayanti Yusuf menyampaikan, apresiasi yang setinggi- tingginya atas upaya kelompk tani Cipta Mandiri, dalam menyediakan pangan sehat, serta melestarikan tanaman obat yang mulai jarang dibudidayakan.

"Saya berharap Asep dan kelompok secara terus menerus mengajak yang lain untuk melestarikan tanaman herbal dengan budidaya Organik", ucap Wahid Syarifuddin, mewakili BPTPH Propinsi Jawa Barat.

Wahid menyatakan dukungannya untuk pengembangan Desa Pertanian Organik berbasis Hortikultura, dengan menyediakan bantuan fisik, bimbingan dan pendampingan teknis.

Wahid juga menyampaikan impiannya untuk dapat mengembangkan wilayah Cimenyan menjadi kawasan agrowisata khusus bagi pengembangan herbal organik, dengan mempromosikan usaha KT Cipta Mandiri yang telah sukses mengembangkan Warung Langit dan Kebun Langitnya.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018