Selasa, 19 Maret 2019


Efrizal Ali, Nenas Subang Bisa Tembus 40 ribu batang/ha

10 Des 2018, 17:28 WIBEditor : Gesha

Efrizal menunjukkan Nenas Subang yang ditanamnya | Sumber Foto:PRIBADI

Ternyata Jarak Tanam jadi kunci pertanaman nanas

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Subang --- Beberapa orang seakan tidak percaya jika dari 1 hektar lahan bisa menghasilkan nenas hingga 40 ribu batang. Namun, salah satu petani Nenas Subang dari Desa Mekarsari, Kab. Subang, Efrizal, hasil tersebut biasa bagi dirinya.

"Masalah populasi, kita inginkan buah gede atau bagaimana. Jarak (tanam) mempengaruhi besar hasilnya buah," tutur Efrizal dalam sambungan telepon dengan tabloidsinartani.com.

Dirinya sudah mencoba kombinasi jarak tanam sejak tahun 2012. Mulai dari 40 cm x 40 cm, 50 cm x 50 cm, 60 cm x 60 cm, 60 cm x 80 cm bahkan 1 meter x 1 meter. 

"Dari pengalaman saya, makin jauh jaraknya maka hasil buahnya makin besar," tutur anggota Kelompok Tani Mekarsari Maju di Kampung Mekarsari, Desa Sarireja, Kecamatan Jalan Cagak, Kab. Subang.

Efrizal yang kini memasok hampir 500 ton setiap tahunnya ke pabrik olahan selai ini mengaku ditargetkan memproduksi nenas berbobot 1 kg keatas.

"Kalau untuk pabrik, memang saya targetkan bobotnya 3 kg keatas. Makanya jarak (tanam) minimal 60 cm x 60 cm," tuturnya.

Nah, jika menginginkan panen dengan bobot 1 kg 2 ons (1,2 kg), Efrizal menyarankan jarak pertanaman 40 cm x 40 cm.

"Begitu juga kalau mau hasilnya 8 ons (800 gram), dibuat jarak tanamnya 25 cm x 25 cm. Intinya bobot buah yang ingin kita buat, kita atur jaraknya saja," jelas pria kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat.

Selain jarak tanam, Efrizal juga menuturkan dirinya menggunakan plastik mulsa dalam pemeliharaan nenasnya. 

"Disini petani hanya menggunakan cara konvensional. Kalau saya enggak, saya nanam pakai plastik mulsa," tuturnya.

Banyak manfaat yang dirasakan Efrizal dengan plastik mulsa ini. Mulai dari perawatan dari hama, gulma hingga perkembangan buah nenas yang lebih bagus. 

"Antara yang pakai mulsa dengan tidak pakai mulsa, jarak tanam ke panen lebih cepat 3- 4 bulan. Saya cuma tanam selama 14 bulan, kalau yang lain (tidak pakai mulsa) bisa sampai 19 bulan," jelas Efrizal.

Hasil Pertanaman di lahan Efrizal

Lamanya pertanaman nanas yang tidak memakai mulsa karena ketika pembersihan gulma, batang nenas bisa saja tercabut.

"Ini yang sering membuat akar tanaman nenas stress, dan berpengaruh pada pertumbuhan nenas ke depannya," tukas Efrizal.

Dengan dua kunci tersebut, Efrizal mengakui populasi pertanaman nenas Subang bisa mencapai 40 ribu batang per hektarnya. 

"Sudah saya buktikan sendiri. Bahkan diluar daerah Subang ada juga yang bisa mencapai 80 ribu batang," tutur Efrizal yang tidak menyesali keputusannya menjadi petani sejak 2012 ini.

Hanya saja ukuran atau bobot dari pertanaman 80 ribu batang, akan jauh lebih kecil. "Karena nenas membutuhkan pencahayaan minimal 7 jam sehari yang akan berpengaruh pada pertumbuhan batang," tutur .

Tumpang Sari

Setelah sukses mengembangkan nenas dengan plastik mulsa, Efrizal mengaku kini dirinya tengah mengembangkan sistem tumpangsari di lahan nenasnya. 

"Lagi coba tumpang sari sama cabai merah, kacang buncis dan terong panjang. Alhamdulilah lagi panen," tuturnya.

Ide ini tercetus karena masa tunggu panen nenas yang lama yaitu 14 bulan. 

Efrizal menuturkan jumlah sayuran yang bisa dihasilkan dari tumpang sari ini bergantung pada jarak dan jumlah ajiran yang digunakan. 

Misalnya, jarak tanam nanas 1 meter x 1 meter di lahan 4 ribu meter persegi bisa menghasilkan nenas sebanyak 5 ribu batang.

Di lahan tersebut, dirinya bertanam kacang buncis sebanyak 4 ribu batang, terong panjang dan tomat 2 ribu batang "Jadi populasi itu semua hampir 15 ribu sama nanas," jelasnya.

Adanya tumpang sari ini, pertanaman Nenas tersebut tidak memerlukan modal dasar sampai Rp 500 per batangnya. "Kalau enggak pakai tumpangsari, modal dasar bisa mencapai Rp 2500 per batang," tuturnya.

Cara tumpang sari seperti ini diharapkan Efrizal bisa ditiru oleh petani lainnya agar tetap meremajakan nenas Subang sekaligus tidak memerlukan modal dan waktu yang lama untuk menunggu panen Nenas. 

"Saya contohin lah, mudah-mudahan ada yang mau ikutin," harapnya. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018