Rabu, 22 Mei 2019


Suparji, Raih Rekor MURI Berkat Hasilkan TBS 95 kg

11 Des 2018, 06:27 WIBEditor : Yulianto

Suparji (tengah), petani sawit sekaligus Ketua Koperasi Barokah Jaya di Tegal Mulyo, Sumatra Selatan, menerima penghargaan MURI dengan TBS terberat (95 kg). | Sumber Foto:kontributor

Berkat pelatihan praktik pertanian yang berkelanjutan, Suparji belajar peduli terhadap tanah sekaligus menjaga produktivitasnya secara jangka panjang

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--Acara IPOC ke 14, di Bali beberapa waktu lalu menjadi salah satu kenangan terindah bagi Suparji. Berkat kegigihan dalam berkebun sawit, ia bisa bertemu langsung, bahkan mendapat penghargaan dari orang nomor satu di Indonesia, Presiden Joko Widodo.

Suparji memperoleh penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) berkat produksi Tandan Buah Segar (TBS)-nya mencapai 95 kg. Penghargaan yang diterima Ketua Koperasi Barokah Jaya di Tegal Mulyo Sumatra Selatan, sebenarnya bukan pertama kali, tapi sudah yang kedua.

TBS milik Suparji ini jauh lebih berat dibanding rata-rata TBS milik petani yang hanya 25-35 kg. “Keberhasilan tersebut tak lepas dari pengembangan kapasitas yang rutin diberikan Cargill kepada petani plasma sebagai bagian dari program keberlanjutannya,” kata petani yang merupakan plasma dari perusahaan tersebut.

Suparji mengatakan, berkat pelatihan praktik pertanian yang berkelanjutan dari Cargill, dirinya jadi belajar peduli terhadap tanah sekaligus menjaga produktivitasnya secara jangka panjang dan memastikan kelestariannya untuk generasi mendatang.

“Kami mulai mengerti pentingnya keterlibatan semua pihak yang terlibat di rantai pasok minyak sawit,  mulai dari perkebunan hingga ritel  untuk menjaga keberlangsungan lingkungan serta tanggung jawab sosialnya. Sertifikasi RSPO menjadi bukti kepatuhan kami atas praktik tersebut,” tuturnya.

Ketika sebuah perkebunan mendekati akhir siklus hidupnya, hasil panen pun biasanya akan menurun. Namun dengan praktik pertanian yang berkelanjutan, produktivitas dan kualitas TBS pun tetap terjaga dengan penanganan yang ramah lingkungan. Cargill berkomitmen melakukan penanaman sawit yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

 

Pendampingan Perusahaan

Koperasi Barokah Jaya merupakan satu dari 20 koperasi bagian dari 21.000 ha lahan perkebunan sawit PT Hindoli milik Cargill di Sumatera Selatan. Dengan pendampingan dari Cargill, koperasi ini menjadi salah satu kelompok petani plasma di dunia yang memperoleh sertifikasi sesuai prinsip dan kriteria RSPO (Round Table for Sustainable Palm Oil) di akhir 2010.

Ong Kee Chau, President Director PT Hindoli, menjelaskan, petani plasma menyumbang sekitar 40?ri pasokan minyak kelapa sawit milik perusahaannya. Petani plasma ini menggunakan hak mereka dan menjadi bagian penting dalam menyediakan sumber pangan yang berkelanjutan, sekaligus memenuhi permintaan global yang meningkat akan minyak sawit yang berkelanjutan. 

Kami mendukung petani plasma dengan memberikan pengetahuan mengenai praktik pertanian yang baik, sehingga panen dan pendapatan mereka pun dapat meningkat. Selain itu, semakin banyak permintaan kepatuhan terhadap praktik-praktik berkelanjutan, mendorong mereka untuk memenuhi persyaratan sertifikasi,” tuturnya.

Sebagai bagian dari program keberlanjutan bagi para petani plasma, Cargill mempersiapkan petani mendapatkan sertifikasi RSPO dengan berbagai dukungan pelatihan. Cargill juga mengembangkan program formal agar para petani plasma dapat menerima premium minyak sawit dari penjualan produk bersertifikasi RSPO.

Petani Plasma Hindoli telah memperoleh premium RSPO pertamanya pada tahun 2011. Hingga Juni 2018 mereka telah menerima premium RSPO dengan total lebih dari 3,6 juta dolar AS (Rp 51.401.027.883). Hingga saat ini, Cargill telah melakukan pendampingan kepada sekitar 13.500 dari 21.600 petani plasmanya di Sumatra Selatan dan Kalimantan Barat untuk memperoleh sertifikat RSPO.

Reporter : kontributor
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018