Rabu, 22 Mei 2019


Sri Fitriani, Sang Srikandi Kopi dari Gunung Halimun

08 Jan 2019, 11:22 WIBEditor : Gesha

Sri Fitriani sang Srikandi Kopi Halimun | Sumber Foto:PRIBADI

Dua tahun terakhir bersama kelompok tani membuat kopi kemasan bermerek Piro Coffee

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Sukabumi --- Tak banyak memang wanita yang serius menggeluti usaha perkebunan kopi. Sri Fitriani adalah salah satu dari sedikitnya Srikandi tersebut. Padahal jika digeluti serius, hasil panen bisa memasok kedai kopi bahkan diolah dalam bentuk kopi kemasan.

Dengan tanah yang subur dan udara nan sejuk, lahan di Gunung Halimun sangat cocok jika ditanami kopi. Potensi tersebutlah yang mendorong bermunculannya petani kopi dari Sukabumi ini.

Tak hanya petani tua saja yang mendominasi perkebunan kopi ini, generasi muda dengan beragam ide dan inovasi pemasarannya juga terjun langsung dalam usaha perkebunan kopi tersebut. Salah satunya adalah Sri Fitriani, sang Srikandi muda dari Gunung Halimun.

Terjun langsung dirinya ke perkebunan kopi diawali dengan kisah sedih prihatin atas orang tua dan beberapa petani kopi mengalami kerugian saat hasil panennya dibeli tengkulak dengan harga murah. 

Untuk diketahui, perjalanan kopi di tanah Sunda dimulai sejak masa penjajahan Belanda pada abad ke 17, tepatnya di gunung Halimun (Sukabumi). Namun, sekitar tahun 1880 hama penyakit tanaman kopi di gunung Halimun, melengkapi “kepunahan” kopi di Jawa Barat, tanaman kopi pun mulai diganti dengan sayur-mayur oleh penduduk sekitar.

Pada tahun 2000-an, kopi di tanah Sunda berkembang dengan bibit kopi berbagai varietas Arabika dari berbagai daerah seperti Aceh, Timor Timur, Sumatra, dan lain sebagainya.

Hingga tahun 2008, para petani kopi minim informasi sehingga banyak menghasilkan grade asalan. Pada waktu itu, para petani sering melakukan pemetikan secara apres (petik sekaligus dalam satu ranting) dan kurang memerhatikan pengolahan pasca-panen. Dampaknya gabah kopi yang dihasilkan tidak sehat dan harganya jatuh.

"Paling ngenesnya saat era third wave coffee dimana peminum kopi menjadi tertarik dengan kopi itu sendiri seperti dari mana asal kopinya, bagaimana kopi ditanam, dipanen, siapa yang jual, siapa yang me-roasting dan bagaimana kopi tersebut diseduh. Intinya menghasilkan kopi terbaik untuk industri kopi, tidak sampai infonya ke kita," tuturnya.

Padahal, era tersebut muncul kualitas biji kopi tertinggi (specialty coffee) dan mulai juga dikenal beberapa istilah seperti after taste, body, acidity, bitterness, sweetness, aroma, manual brew. Ya, di gelombang ini kopi sudah menjadi sebuah apresiasi, dihargai oleh para penikmatnya layaknya wine dan beer. Para peminum kopi belajar untuk lebih memperhatikan dan menghormati cara untuk menikmati kopi.

Dengan kemudahan akses informasi melalui internet dan lain-lain, Fitriani bersama orang tuanya mencoba melakukan riset untuk proses pasca panen dan diterapkan di panen tahun 2016.

Piro Coffee

Green bean hingga kopi bubuk akhirnya berhasil diproses dan mendapat apresiasi yang sangat baik oleh pasar.

salah satu produk unggulan dariPiro KCoffee

Harga yang didapat pun dua kali lipat lebih tinggi dari tengkulak. Melihat pangsa pasar yang begitu besar, ia pun kemudian lebih fokus untuk melakukan usaha kopinya tersebut.

Kopi yang diberi nama Piro Kopi produksi kelompok Tani Gunung Halimun, tidak hanya laku di pasaran lokal di Sukabumi tapi juga sudah menyasar ke pasar domestik.

“Intinya sih ingin membantu meningkatkan kesejahteraan petani kopi yang harganya rendah,” tuturnya.

Kopi kemasan dibanderol mulai dari Rp25 ribu hingga Rp 30 ribu per 100 gram.

“Penjualan sudah mulai lumayan, sudah masuk ke kafe-kafe sama ke hotel di Sukabumi,” terangnya.

Menurutnya, kopi asli Sukabumi memiliki kualitas terbaik. Tak heran jika banyak pebisnis kopi dari Bandung, mengambil biji kopi dari Gunung Halimun.

Selain rasanya yang enak serta bubuk kopi yang lembut, kini kopi bubuk kemasannya sudah memiliki sertifikat Q Grade Basic, dan kini ia pun sedang mengejar sertifikan Uji Cita Rasa. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018