Sabtu, 25 Mei 2019


Buah Surga, Antarkan Warta Menginjak Tanah Suci

10 Jan 2019, 15:56 WIBEditor : Yulianto

Warta Kusuma (peci putih) saat memberikan pelatihan | Sumber Foto:Warta Kusuma

Usaha yang diawali dengan modal awal Rp 25 juta, Warta kini dapat meraup omset sebanyak Rp 30-40 juta/bulan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--Buah Tin banyak dikenal masyarakat sebagai buah surga. Ceritanya pun tertuang di kitab suci Al-Qur’an serta kitab Taurat dan Injil. Hal itu yang menjadi salah satu alasan Warta Kusuma tertarik menggeluti usaha buah tin. Omsetnya pun fantastis mencapai Rp 40 juta/bulan.

Dengan penghasilan sebesar itu, menjadi peluang usaha potensial saat ini. “Hasilnya luar biasa, tahun pertama saya bisa menyelesaikan pembuatan rumah, tahun kedua bisa berangkat umroh dengan istri dan tahun ketiga bisa untuk membuat naungan kebun dengan luas sekitar 300 meterpersegi,tutur Warta kepada Sinar Tani.

Usaha yang diawali dengan modal awal Rp 25 juta, Warta kini dapat meraup omset sebanyak Rp 30-40 juta/bulan. Keuntungan bersih yang diperolehnya sekitar Rp 5-7 juta/bulan.

Harga bibit buah surga ini yang sangat mahal menjadi daya tarik Warta mempelajari usaha buah tin ini. “Saya mengenalnya sekitar 4 tahun lalu dari majalah pertanian. Melihat nilainya yang fantastis saya semakin tertarik. Kemudian mencari ke Jawa TImur dan beberapa tempat bibit, sekitar setahun persiapan baru memulai bisnis ini hingga bisa berkembang sampai sekarang,tutur Warta.

Warta menyadari buah tin sebagai komoditas holtikultura mudah rusak, bahkan tidak lebih dari 3 hari mulai membusuk. Keadaan inilah yang kembali menginspirasinya membuat produk olahan buah tin disamping kegiatan budidayanya. Karena itu selain usaha dalam pengadaan bibit, Warta juga mengolah buah tin menjadi berbagai produk makanan.

Adapun olahannya bermacam-macam mulai dari teh daun tubruk maupun celup, manisan, buah tin kering, selai, sirup, nastar, brownis, cuka hingga cokelat buah tin yang paling banyak digemari konsumen. Harga yang ditawarkan beragam untuk setiap ukuran mulai dari Rp 25 ribu untuk cokelat buah tin. Sedangkan untuk buah tin kering mencapai Rp 225 ribu/kg.

Perlakuan Khusus

Sebagai buah langka di Indonesia dan belum banyak masyarakat yang mengetahuinya, menurut Warta, budidayanya pun membutuhkan perlakuan khusus. Misalnya, pembuatan naungan seperti yang dilakukan Warta di kebun miliknya. Hal ini karena karakter tanaman tin yang kurang baik jika kondisi lahan banyak air. Jika terkena air hujan, buah tin dapat berguguran

Kegiatan budidaya dan pengolahan buah tin yang dilakukan Warta sampai kini masih berjalan berdampingan. Terpusat di Desa Watusambang, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Namun Warta menambahkan, saat ini kebutuhan pasar bibit masih tinggi dan olahan juga belum banyak yang bisa membuat. Jadi dapat dikatakan untuk produk olahan buah tin terlengkap se-Indonesia ada ditempatnya. Selama ini untuk  membuat produk olahan, bahan bakunya masih dari hasil budidaya sendiri.

Warta mengakui, dirinya kadang kekurangan bahan baku, sehingga terpaksa harus impor dari Turki yang harganya Rp 250.000/kg. Selain itu dirinya juga mempunyai komunitas tin seluruh Indonesia yang jumlahnya sekitar 2 ribu petani, sehingga dapat mengatasi kendala, khususnya pasokan bahan baku.

“Sekarang ini saya juga membina petani buah tin untuk bisa menjaga ketersedian bahan baku. Petani binaannya sekitar 10 orang, baik di kampungnya maupun di luar kampung,” tuturnya.

Untuk pemasarannya Warta mengungkapkan, saat ini fokus pada penjualan online dengan memanfaatkan sosial media dan toko online yang ada. Jangkaunya hampir di seluruh Indonesia, kecuali Papua karena kendala ongkos kirimnya.

Keterbatasan modal menjadi kendala Warta untuk pemasaran melalui offline seperti toko. Saat ini ia memasarakan dari rumahnya. Namun, akhir-akhir ini istrinya mulai mencari reseller dari berbagai daerah agar dapat memperluas target pasarnya.

Selain kendala modal, cuaca di Indonesia juga menjadi hambatan dalam budidaya buah tin. Menurut Warta, saat musim penghujan banyak yang mati karena tidak tahan di lahan yang kadar airnya tinggi. Hama dan jamur juga sering muncul saat musim penghujan. Hal ini tentunya akan mempengaruhi produktivitas tanaman buah tin. “Antisipasinya kita membuat naungan agar cahaya bisa masuk, tetapi air hujan tidak,” katanya

Meski hampir setiap hari produksi, Warta mengakui terkadang kewalahan memenuhi pesanan baik itu online maupun offline yang datang ke rumahnya. Namun, dirinya masih terus ingin mengembangkan usaha ini dengan target membuat agrowisata.

“Harapannya agrowisata dapat menjadi tempat belajar untuk anak dan keluarga. Inshaa Allah sekitar 1 atau 2 tahun lagi sudah ada toko untuk display produk,” ujar Warta. 

 

Reporter : Putri Yudhia
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018