Minggu, 18 Agustus 2019


Dengan Abang Sayur Organik, Diyah Menambang Rp 40 juta/bulan

16 Jan 2019, 17:14 WIBEditor : Gesha

Dengan Abang Sayur Organik, Diyah Dapatkan Rp 40 juta per bulan | Sumber Foto:PRIBADI

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang --- Peluang menambang emas sebenarnya bisa dilakukan oleh petani jika digeluti dengan benar. Seperti yang dilakukan Diyah Rahmawati Wicaksana Ningtyas yang bisa menambang Rp 40 juta per bulan lewat Abang Sayur Organik.

Usaha ini berawal dari keresahan Diyah melihat teman-temannya  sebagai alumni pertanian dari Universitas Brawijaya yang justru enggan berkecimpung di dunia pertanian itu sendiri.

“Kalau mahasiswa sarjana pertanian saja tidak menggeluti pertanian, lalu siapa yang nantinya terjun menggeluti pertanian,” ujarnya ketika dihubungi tabloidsinartani.com.

Karena itu, dirinya mulai memberanikan diri untuk mencari tahu peluang usaha di bidang pertanian dan mulai belajar dari sebuah kelompok tani di Kelurahan Cemorokandang, Kedungkandang, Malang pada awal tahun 2011. 

Awalnya Diyah hanya ingin membantu pemasaran produknya saja, ternyata justru diberi amanah untuk menjadi pengurus. "Memang kendala di kelompok tani ini ada pada sumber daya manusianya," tuturnya.

Sempat terhenti di tahun 2013 karena kesehatannya yang sempat drop, di tahun 2015 dengan semangat dan optimisme baru Diyah memutuskan untuk comeback.

"Alasan kesehatan yang menginspirasi saya untuk fokus menggarap pertanian organik, terutama komoditas sayur mayur," tuturnya.

Kini, omzet Rp 40 juta per bulan sudah bisa dikantonginya dengan harga bervariatif yang ditawarkan, seperti brokoli Rp 30 ribu/kg, jagung manis Rp 25 ribu/kg hingga menu paket yang ditawarkan pada promo Harvest Festival yaitu Rp. 25 ribu/paket yang berisi 5  jenis yang bisa dicampur sesuai selera konsumen. 

Pemasarannya pun dilakukan dengan cara kreatif yaitu online melalui Instagram  @abang_sayur_organik .

Postingan “Board Panen Sayur” tersedia disana agar konsumen dapat langsung memesan dan memilih komoditas yang tersedia saat ini.

Sayur, buah, beras, ayam maupun olahan lainnya yang tentunya yang organik ditawarkan oleh Abang Sayur ini.

Berbagai saluran pemasaran pernah dicoba Diyah bersama timnya, mulai dari supermarket, door to door yaitu target konsumennya rumahan, maupun Bussines to Bussines (B2B) yaitu target konsumennnya usaha kecil di sekitar Kota Malang. 

“Untuk pemasaran sayur yang masuk ke supermarket, saya rasa kurang memihak pada petani. Pembayaran dan sistemnya kadang mengalami masalah seperti pembayaran yang mundur meskipun sudah ada nota kesepakatan. Kedaan seperti itu tentunya dapat menghambat kegiatan produksi,” terang Diyah.

Target pasarnya saat ini adalah rumah tangga dan usaha kecil seperti mie sayur yang beraneka warna yang sedang menjadi trend saat ini.

Selain sebagai solusi, cara ini juga dirasa lebih cepat agar sayur sampai ditangan konsumen dalam keadaan segar.

Masyarakat kalangan menengah kebawah juga dapat merasakan sayur organik ini, karena untuk supermarket menurutnya konsumennya hanya untuk kalangan menengah ke atas.

“Makanan dengan kualitas terbaik di Indonesia ini, harus dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia pula,” tegasnya. 

Untuk konsumen B2B di usaha kecil seperti usaha produk herbal atau mie sayur.

Keuntungan lainnya adalah kondisi sayur yang berlubang masih dapat diterima, karena penggunaannya memang sebagai campuran bahan warna. Hal ini yang tentunya tidak bisa tembus di pasar supermarket.

Pembinaan Petani

Program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) telah menjadi andalan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mendorong generasi petani millenial dengan prospek wirausaha pertanian. 

Program inilah yang mempertemukan Diyah dengan kawan-kawan seperjuangan lainnya dan mempermudahnya untuk saling bermitra.

Diyah menyebut Petani mitra dari pihaknya kini berjumlah 7 orang serta beberapa petani binaan, selain itu kerjasama dengan penerima PWMP lainnya juga dilakukan oleh Diyah.

Hal ini seperti saat dirinya membutuhkan komoditas tertentu, maka dirinya akan menghubungi untuk kerjasama budidaya komoditas tersebut. 

Untuk kendala usaha ini, Diyah mengungkap kendala distribusi yang beberapa kali ditemuinya menyebabkan turunnya kualitas produk.

Dirinya menyadari bahwa komoditas hortikultura memang mudah rusak, meskipun sudah kemas dengan baik, terkadang sayur yang menguning sampai di pembeli masih terjadi. Bahkan jika sudah dilakukan dengan ekspedisi yang satu hari sampai. 

Pembinaan dan pelatihan juga masih dilakukan oleh Diyah untuk meningkatkan kualitas SDM petani itu sendiri.

Pembinaannya dapat berupa online maupun offiine, seperti dengan topik urban farming pertanian organik di pekarangan rumah. Awalnya masyarakat memang masih ragu dan bertanya-tanya mengenai pertanian organik.

Setelah berhasil menggaet minat masyarakat untuk konsumsi pertanian organik, kini Diyah pun ingin agar masyarakat mempunyai lumbung pangannya sendiri dengan memanfaatkan pekarangan rumah. 

Peningkatan kualitas masyarakat tani ini juga dirasakan adanya dukungan dari pemerintah. Salah satunya seperti tahun 2013 masih sedikit sekali sumber informasi untuk belajar pertanian, namun pada program PWMP yang muncul tahun 2016 dan Duta Tani Muda yang dapat mendongkrak minat dan kualitas masyarakat di pertanian. 

“Saya melihatnya mulai banyak pemain digital yang dasarnya pertanian. Saya melihat pemerintah juga responsif terhadap keadaan masyarakatnya, salah satunya dengan memberikan fasilitas PWMP. Program serupa pernah juga saya ikuti dari Kemenpora Wirausaha Muda Pemula (WMP), namun kini Kementan memberikan kepeduliannya khusus dengan fokus ke pertanian tentunya,” ujar Diyah.

Diyah juga mengungkapkan antusiasme perkembangan pertanian yang sekarang juga telah mendapat tanggapan positif dari masyarakat. 

“Kedepan saya pikir perkembangan pertanian akan cepat. Saat ini sudah ada tumbuh kesadaran dari lokal untuk lokal. Semoga saja semakin banyak petani muda dengan segala inovasinya yang dapat dikembangkan,” ujarnya. 

Reporter : Putri Yudhia
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018