Kamis, 21 Maret 2019


Reyhan Hadisaputra, Rasakan Dobel Manfaat dari Hidroponik

22 Jan 2019, 07:20 WIBEditor : Gesha

Reyhan (kanan) mengecek langsung kesegaran sayuran hidroponiknya | Sumber Foto:PRIBADI

Hidup sehat sekaligus tambahan pendapatan dengan ekspor sayuran hidroponik

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Berawal dari menanam di pekarangan rumah rumah untuk konsumsi pribadi. Reyhan Hadisaputra, pemuda kelahiran Jakarta 29 tahun silam ini berhasil mengekspor sayuran daun ke Singapura.

 "Dulu ayah saya sakit jantung hingga pasang ring. Saya pun bertekad merubah pola makan sekeluarga. Juga bertanam hidroponik di pekarangan," ujarnya. Setelah adanya peningkatan kesehatan, beberapa orang mulai menanyakan dan mengikuti pola makan yang keluarga Reyhan terapkan.

Melihat antusiasme sekitarnya, Reyhan melihat adanya peluang usaha di pertanian. Pada 2016, pemuda lulusan University of New South Wales Australia ini memulai usaha agrikuktur berbasis hidroponik yang diberi nama Villa Duta Farm.

Lokasi greenhouse yang dilengkapi dengan teknologi otomatisasi terletak di Perumahan Villa Duta tengah kota Bogor. “Sekedar informasi teknologi otomatisasi yang dimaksud adalah penggunaan mikrokontroler dan sensor untuk menjaga parameter yang diinginkan," katanya.

Budidaya hidroponik yang dilakukan di Villa Duta Farm adalah sayuran daun seperti selada, sawi, kale, dan sebagainya. Selain berhidroponik, Villa Duta Farm juga menjual berbagai macam produk turunan seperti jus, salad, dan lain-lain.

Pasar terbesar Villa Duta Farm adalah warga kompleks perumahan Villa Duta, hotel, restoran dan supermarket. Bahkan beberapa komoditas juga sudah merambah ke pasar ekspor.

Rambah Ekspor

Akhir 2018, Villa Duta Farm melakukan ekpor komoditas hortikultura ini ke Singapura. Menurutnya, konsistensi, persistensi, reabilitas adalah kunci untuk bisa dipercaya oleh pembeli luar negeri.

“Saat pertama kali kami membangun komunikasi ke pembeli di luar negeri, kemampuan petani Indonesia sangat diremehkan. Setelah beberapa lama membangun komunikasi, kami undang mereka ke kebun kami dan mereka pun kaget bahwa di Indonesia ternyata punya kemampuan dan teknologi yang memenuhi persyaratan mereka," terangnya.

Sebelum menembus pasar ekspor, Reyhan pun pernah mengalami kendala. Ia sempat kesulitan mencari pasar hasil produksi, mencari suplai nutrisi, mencari tenaga kerja, dan melawan hama.

Reyhan mengaku dalam proses melakukan ekspor perdananya, masih belum mendapatkan dukungan signifikan dari pemerintah. "Yang awalnya lebih fokus terhadap pertanian konvensional berskala besar, sekarang juga sudah mulai memperhatikan start up dan memotivasi kaum milenial menjadi petani. Saya sangat mengapresiasi itu. Dan juga teknologi pertanian kita berorientasi untuk diekspor walaupun volumenya juga masih kecil," ungkapnya.

Reyhan mengaku saat ini dirinya masih fokus dengan pengembangan bisnis. Ia merasakan, profesi petani saat ini masih sangat dipandang sebelah mata khususnya bagi kaum milenial. “Di zaman sekarang bertani itu sudah sangat berbeda di zaman dulu. Kita tidak perlu repot - repot ke sawah, mencangkul karena petani banyak dimanjakan dengan hidroponik, terangnya.

Reyhan mengajak para petani milenial agar tidak cepat menyerah saat menemui kendala. “Cari solusinya karena pasti ada jalan keluarnya," tegasnya.

Ia juga mengajak untuk belajar mengedukasi pasar dengan produk yang belum terlalu banyak petaninya karena itu menjadi nilai tambah. Juga belajar untuk memproses produk hasil tanam karena dengan adanya nilai tambah maka keuntungan bisa meningkat.  

Reporter : Tiara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018