Sabtu, 25 Mei 2019


Mantap Berhijrah, Herman Fellani Rasakan Keunikan Kelinci

29 Jan 2019, 16:42 WIBEditor : Gesha

Herman menunjukkan salah satu kelincin yang dibudidayakan di Fiela Bunies Rabbitry | Sumber Foto:PRIBADI

Herman mampu meraih keuntungan bersih Rp 4 juta per bulan dan makin dikenal sebagai peternak kelinci sukses

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Sukabumi --- Siapa yang tidak gemas bila membayangkan hewan berbulu nan unik, imut dan lucu yang bernama kelinci. Bahkan seorang Manajer Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) di lembaga asing menjadi jatuh hati dan merasakan keuntungan berbisnis kelinci.

“Kelahiran anak saya pada tahun 2015 merupakan awal mula bisnis kelinci saya dimulai. Hadiah 2 (dua) ekor kelinci jantan untuk anak saya membuat saya berfikir mengapa tidak membudidayakan kelinci, selain bentuknya yang unik, prospek bisnisnya pun cukup menjanjikan,” kenang Herman Pelani.

Di sisi lain, pria berusia 31 tahun ini merasa jenuh dengan aktivitasnya sehari-hari sebagai manager diklat di LPK Jiritsu Nusantara, Organization for Industrial and Cultural Advancement (OISCA) serta guru bahasa Jepang. 

Herman merasa waktunya kian tersita karena pekerjaan sehingga kehangatan keluarga tidak dirasakannya. Disaat itu dia perlu memeras otak untuk mencari pekerjaan baru tanpa meninggalkan keluarganya.

Berbekal pendidikan bidang peternakan dan pertanian dari OISCA Sukabumi Training Center, ia mulai membudidayakan kelinci dengan mencari pasangan untuk kedua kelinci jantannya.

Pemeliharaan serta perawatan kelinci relatif lebih mudah, tidak memerlukan lahan ternak yang luas membuat keputusannya untuk beternak semakin mantap. 

Tinggal di Kecamatan Kebon Pedes, Kabupaten Sukabumi menjadi bonus tersendiri baginya dimana  sektor Peternakan merupakan salah satu sektor yang juga sangat potensial untuk dikembangkan di Kabupaten Sukabumi.  

Saat ini ia telah memiliki 60 ekor kelinci jenis English anggora yang terdiri dari 56 ekor kelinci betina dan 4 ekor kelinci jantan.

Herman pun mampu meraih keuntungan  bersih Rp 4 juta per bulan. “Alhamdulillah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya yakin nantinya akan bisa lebih berkembang dan menguntungkan ”, jelasnya. 

Kesuksesan Herman tak lepas dari pendampingan para penyuluh di Balai Penyuluhan  Pertanian (BPP) Kebonpedes yang telah memotivasi dan memberikan bimbingan dalam pengelolaan pemanfaatan pupuk organik dan POC Pupuk cair Organik dari urine kelinci.  

Berkat kegigihannya terus mengembangkan kelinci, Fiela Bunies Rabiitry kepunyaan Herman meraih beragam penghargaan dari kontes lokal. 

Mulai dari Best oposite breed/pejantan terbaik under judge Scot Rodriguez, Arba Show by Indonesian Rabbit Society tahun 2016, Double best off breed/pejantan terbaik under judge Arie Wardhani dan James Goodrich, Arba Show by Kelinci Ganyeng Semarang tahun 2017, Best off breed pejantan terbaik untuk kelinci jenis mini rex  under Judge Melisaa Cafeluu Magee, Arba Show by Kelinci Nunusanta ( TMII ) 2017, hingga Triple best off breed (jantan) dan triple best oposite breed (betina) under judge Allen Mesick, Michele Perez dan Arie Wardhani, Arba Show by Indonesia Rabbit Society tahun 2018. 

Herman berharap, dari pengalamannya untuk “hijrah” ke dunia pertanian dapat memotivasi rekan-rekan seusianya untuk terjun dan mengengembangkan dunia pertanian.

"Jangan takut untuk mencoba dan lepas dari zona nyaman, bila semua dilakukan dengan usaha tidak ada hasil yang sia-sia," ungkapnya.

Reporter : Lely
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018