Jumat, 22 Februari 2019


Meybi Agnesya, Olah Daun Kelor Capai Omset Rp 30 juta

04 Peb 2019, 18:18 WIBEditor : Gesha

Meybi Agnesya, Sociopreneur dari NTT | Sumber Foto:DUTA PETANI MUDA

Dirinya ingin mengajak masyarakat di NTT untuk sadar bahwa ada potensi sumber daya melimpah daun kelor yang mempunyai potensi bisnis. Timor Moringa ini pun ia geluti sejak Januari 2018.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Kupang ---Dunia memang tak selebar daun kelor, namun kini peluang usaha daun kelor melebar di timur Indonesia berkat Mebyi Agnesya yang mengolahnya menjadi cokelat dan teh.

Inspirasi memang bisa datang dari mana saja, salah satunya daun kelor yang merupakan tanaman liar yang biasa tumbuh di Nusa Tenggara Timur (NTT). 

“Miris memang saya lihatnya, kelor banyak manfaatnya banyak tapi belum ada nilai jualnya. Maka dari itu saya cari cara untuk setidaknya menambah nilai jual dari kelor,” ujar perempuan asal Kupang, NTT, Meybi Agnesya.

Meybi sendiri belajar tentang manfaat dan peluang kelor saat di Blora, Jawa Tengah. "saya ikut kegiatan disana. Mulai dari teori hingga praktiknya di kebun, bahkan diajarkan olahan pasca panennya,” katanya. 

Setelah mempunyai bekal dari Blora, Meybi pulang dengan niat tidak hanya sebagai entrepreneur tetapi juga sebagai sociopreneur.'

Dirinya ingin mengajak masyarakat di NTT untuk sadar bahwa ada potensi sumber daya melimpah daun kelor yang mempunyai potensi bisnis. Timor Moringa ini pun ia geluti sejak Januari 2018.

"Tujuannya ke masyarakat, tetapi juga ke anak muda. Mereka ini tidak akan percaya kalau belum melihat, maka terciptalah produk saya itu awalnya cokelat kelor tapi sekarang sudah ada teh daun kelor,” jelas Meybi.

Melalui Timor Moringa ini hal utama yang disampaikan adalah pemberdayaan lokal, hingga produknya kini sudah 100 persen bahan bakal lokal. 

“Kalau dulu petani belum ada yang membudidayakan, kita ambil dari Blora untuk bubuk daun kelornya. Sekarang kita sudah bisa produksi sendiri termasuk untuk kegiatan budidanya,”

Hingga kemudian Meybi berhasil mengedukasi petani untuk budidaya daun kelor karena memang peluang bisnisnya sudah terlihat.

Nilai tambah memang menjadi kunci dalam usaha agrbisnis yaitu dengan adanya  inovasi baru dalam pengolahannya.

Daun kelor yang jika dijual hanya seharga Rp 5 ribu/ikat bahkan dapat diperoleh secara gratis di alam, Meybi ubah menjadi cokelat kelor seharga Rp 30 ribu/pack dan teh celup daun kelor Rp 35 ribu/pack. Hingga kini omset Timor Moringa telah mencapai Rp 30 juta/bulan.

Media pemasaran utama yang Ia gunakan adalah online baik itu media sosial online maupun situs jual beli online.

“Ada juga beberapa retail, sekarang kita juga merambah ke sekmen oleh-oleh khas NTT. Kita kerja sama dengan toko oleh-oleh, karena produk kita memang 100?ri NTT,” ujarnya.

Pangan Alternatif

Upaya Meybi ini ternyata dilirik juga oleh pemerintah daerah yang secara kebetulan juga menjadi salah satu program utama Gubernur NTT. Program tersebut yaitu berupa ajakan untuk mengkonsumsi daun kelor untuk memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat NTT.

“Dulu,Kelor di NTT itu pertahanan pangan terakhir ketika sudah tidak ada uang, identik dengan makanan orang miskin. Karena kelor tumbuh liar sehingga tidak ada nilai jualnya, mereka malah belum tahu kandungan dalam kelor yang banyak bermanfaat,” terang Meybi.

Namun ketika kelor kini sudah dibuat olahan, masyarakat mulai tidak memandang sebelah mata.

Selain itu, menurut Meybi belum banyak yang tahu kalau kelor NTT itu terbaik nomor dua di dunia setelah Spanyol, karena memang tanaman ini dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis.

”Tidak usahlah jauh-jauh saya bicara ekspor, wilayah saya sendiri saja masih dengan angka tinggi untuk kasus mal nutrisi di Indonesia. Maka dari itu saya juga berharap juga ini nantinya dapat menjadi strategi kecukupan pangan dan gizi masyarakat disini,” ujar Meybi.

Kedepannya, Meybi juga menginginkan kelor tidak hanya untuk pangan, tetapi juga dapat untuk sumber energi.

“Bijinya kan biasanya dibuang kulitnya, nah saya sedang uji lab untuk kandungan gas kulit biji. Selain itu edible cutlery juga ingin saya buat dari serbuk kelor ini,” ujar Meybi.

Kepedulian Meybi terhadap kondisi pangan di NTT juga mendorong Meybi untuk terus berusaha mendorong kesadaran dan kemampuan masyarakat untuk mengolah daun kelor sebagai bahan pangan sekaligus sebagai produk bisnis.

Pola pikir petani juga harus diubah, tidak hanya melulu soal berkebun setiap hari di tanah, tetapi dengan mengolahnya sehingga menambah nial jualnya pemuda atau masyarakat daerah dapat sukses di sektor pertanian.

“Jadilah tuan di tanah sendiri,” tukas Meybi.

Reporter : Putri
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018