Sabtu, 19 Oktober 2019


Kenalin Nih ! Haji Zakaria, Sang Petani Canggih dari Cigombong

12 Mar 2019, 23:20 WIBEditor : Gesha

Haji Zakaria, Sang Petani Canggih dari Cigombong Jawa Barat | Sumber Foto:NATTASYA

Dengan kreativitas dan ide manajemen bisnis yang dilakukannya, Gapoktan Silih Asih jadi Lembaga Petani yang kuat dan berdaya saing.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Jika melihat sekilas penampilan Haji Zakaria, gambaran umum petani Indonesia terlihat jelas. Namun siapa sangka, dari dirinya lahir banyak ide dan manajemen bisnis pertanian yang lebih dari sebuah Gabungan Kelompok Petani (Gapoktan).

"Saya Presiden Derektur, ngaderek (menarik) sambil ngatur dari Gapoktan Silih Asih yang berlokasi di Desa Ciburuy, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat," tutur pria kelahiran tahun 1932 ini dalam Bincang Asik Seputar Pertanian Indonesia (BAKPIA) di Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, Selasa (12/3).

Uniknya, manajemen bisnis pertanian ala Haji Zakaria tidak berhenti pada Gapoktan Silih Asih semata. Tetapi melebarkan sayap pada kelembagaan petani lainnya seperti Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) , Koperasi, UPJA ( Unit Pelayanan jasa Alsintan), dan P3A Mitra Cai, dan Unit Pengkajian Teknologi Gapoktan (UPTG).

"Selama ini kan brand image petani itu kotor, dekil, miskin, bodoh karena hanya berkutat di onfarm. Padahal disana (onfarm) high risk low profit. Karenanya, kita punya UPTG itu untuk menguji inovasi teknologi yang spesifik lokasi dan menjadi filter dari sarana prasarana yang masuk misalnya waspada pupuk palsu dan lain-lain. Melatih petani Jawa Barat itu harus praktek. Nu ka deleu (terlihat), ka rasa (terasa), jadi harus ada bukti kongkrit, real bisnis. Dari mulai budidaya di P4S sampai manajemennya di Koperasi," beber H. Zakaria.

Gapoktan Silih Asih memproduksi beras sehat yang dikenal masyarakat adalah beras SAE yang artinya beras yang Sehat, Aman, dan Enak. Beras SAE adalah produk beras yang tidak mengandung residu pestisida berbahaya (dibawah ambang batas kandungan pestisida yang boleh dikonsumsi manusia), Aman karena bebas residu dari pestisida yang berbahaya, Enak karena rasa nasinya yang pulen dan mempunyai aroma pandan.

Tak hanya itu, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Silih Asih juga mengembangkan beras organik lainnya yaitu Sigemar. "Kami juga memproduksi sayuran dengan pertanian organik absolut (POA), jadi benar-benar organik. Sedangkan padi, kita masih gunakan pertanian organik rasional (POR)," tuturnya.

Produk lainnya juga dihasilkan oleh Gapoktan Silih Asih yaitu pupuk padat OFER (Organic Fertillizer) dan pupuk cair LOF (Liquid Organic Fertilizer. "Untuk mendukung kegiatan operasional, kami sudah memiliki Standart Operation Precedure (SOP). Baik untuk produksi maupun koperasi. Penanggung jawab di lapangan masing-masing ada Quality Control," jelas H. Zakaria.

Untuk mengakselerasi kemandirian petani, Gapoktan Silih Asih tersebut menjalin kemitraan dengan berbagai pihak mulai dari Akademisi (Litbang dan Universitas), Bussiness (Pelaku Bisnis), Government (Pemerintah) hingga Community (Komunitas). "Karenanya, meskipun petani berada di kampung harus memposisikan diri di tempat yang gampang diakses, mendapatkan say hello dari pembina maupun say hello dari pengguna," tuturnya.

Haji Zakaria berpesan agar petani terus mencari ciri khas dari produk yang dihasilkannya. Seperti dirinya yang memilih produk organik karena bisa menghasilkan produk unik dengan nilai tambah juga bisa menjamin keberlanjutan tanah yang menjadi sumber produksi kelompoknya. "Kalau sudah begini, Siapa Takut jadi Petani !," tutup H. Zakaria.

 

 

 

 

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018