Senin, 26 Agustus 2019


Suhandi, Serius Kembangkan Lidah Buaya

14 Mar 2019, 23:46 WIBEditor : Gesha

Suhandi menuturkan peluang lidah buaya masih sangat menjanjikan untuk ditekuni petani | Sumber Foto:NATTASYA

Lidah buaya kini menjadi primadona pertanaman dari P4S Antanan. Dari lahan 1 hektar yang dimiliki Suhandi, sekitar 4 ribu meter persegi ditanami oleh lidah buaya. “Kami masih jual dalam bentuk pelepah. Jual ke supplier untuk masuk ke Supermarket,” tu

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Menjadi petani itu harus cerdas dan pandai membaca peluang. Seperti itulah gambaran seorang petani dan Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Antanan, Suhandi yang kini tengah mengembangkan integrated farming dengan organik dan komoditas lidah buaya.

“Komoditi unggulan dari kami memang berubah-ubah. Dulu tahun 1975, awal terbentuk Kelompok Tani Antanan, komoditinya pepaya, talas bogor, jahe gajah, buncis Perancis. Kesini-sini kita mulai Pupuk Organik Bokashi, Salak Slebor dan Lidah Buaya,” tutur Suhandi.

Bahkan untuk pupuk Bokashi, bisa dibilang P4S adalah pelopor dari penggunaan pupuk organik tersebut. “Waktu belum booming, disini kita sudah pakai pupuk tersebut. Buat sendiri,” ungkapnya.

Untuk diketahui, pupuk bokashi merupakan metode pengomposan yang menggunakan starter aerobik maupun anaerobik untuk mengomposkan bahan organik dari sekam padi dan lainnya. Proses pembuatan pupuk bokashi relatif lebih cepat dari pengomposan konvensional

Bokashi sudah siap dijadikan pupuk dalam tempo 1-14 hari sejak dibuat, tergantung dari bahan baku dan metode yang digunakan. Membuat bokashi sangat mudah, bisa dilakukan dalam skala rumah tangga maupun skala pertanian yang lebih besar.

Dari lahan pertanaman P4S seluruhnya hingga sekarang masih tetap menggunakan bokashi tersebut sebagai andalannya. “Kita jual juga. Sebenarnya, sudah sering kita latih juga tapi seringnya banyak yang beli ke kita,” tuturnya.

Sedangkan Salak Slebor merupakan singkatan dari Salak Sleman yang ditanam di Bogor (Sleman-Bogor). “Bertanam dari 1997 sampai sekarang masih jadi icon dari kami. 1 pohon paling banyak 10 kilogram, paling sedikit 5 kg per pohon. Sudah ada pelanggannya sendiri begitu dipasang online,” jelasnya.

Lidah buaya kini menjadi primadona pertanaman dari P4S Antanan. Dari lahan 1 hektar yang dimiliki Suhandi, sekitar 4 ribu meter persegi ditanami oleh lidah buaya. “Kami masih jual dalam bentuk pelepah. Jual ke supplier untuk masuk ke Supermarket,” tuturnya.

Beberapa pelepah lidah buaya juga dijual secara eceran oleh Suhandi di Desa Cimande yang memang terkenal dengan tukang urut dan patah tulang. “Biasanya datang kesini, beli eceran,” tuturnya.

Suhandi menuturkan kebutuhan di tingkat suplier saja sampai 1 ton per minggu dan itu pun belum bisa terpenuhi. “Lidah buaya ternyata banyak peminatnya, untuk kecantikan bahkan untuk kesehatan,” jelasnya.

Bahkan beberapa dokter kecantikan dari Jakarta sempat berkunjung ke P4S Antanan dan berniat untuk meneliti kandungan lendir dari lidah buaya yang dimiliki Suhandi. Ternyata, lendir kekuningan dari lidah buaya yang ditanam memiliki kandungan antioksidan yang terbaik.

“Yang saya rasakan sendiri, lidah buaya ini bisa mengobati maag akut yang memang saya derita sejak lama. Makanya sekarang saya buat juga kapsul lidah buaya untuk mempermudah konsumsi untuk penderita yang sama,”urai Suhandi.

Uniknya, pelepah lidah buaya yang dihasilkan Suhandi berukuran besar dibandingkan yang lainnya. “Satu pelepah bisa 1 kilogram beratnya. Panen dalam satu bulan, minimal 1 kali. Bisa juga dua kali,” tuturnya.

Lidah buaya pun dituturkan Suhandi sangat mudah karena bisa ditanam di semua ketinggian tanah. Bahkan daerah asam seperti gambut pun bisa bertumbuh. “Tidak ada hama tangan aliat tidak ada yang bakalan nyolong,” jelasnya seraya tertawa.

Pemasaran yang dilakukan Suhandi pun sudah menyentuh digital. Mulai dari sosial media hingga beberapa marketplace digital.

 

 

Reporter : Cha/Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018