Senin, 19 Agustus 2019


Matias Wuka: Ingin Terapkan Pertanian Thailand di Timika

15 Apr 2019, 12:40 WIB

Matius bersama Menteri Pertanian, Amran Sulaiman yang memberangkatkan dirinya ke Thailand untuk belajar langsung pertanian disana | Sumber Foto:HUMAS KEMENTAN

Petani di Timika sangat berbeda dengan petani di Jawa. Karena itu, untuk meningkatkan usaha tani mereka perlu dilakukan pendekatan yang intensif.

TABLOIDSINARTANI.COM, Makassar-- Matias Wuka bahagia dan bangga diberangkatkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ke Thailand. Penyuluh pertanian Distrik Walakencana, Kabupaten Timika, Papua ini tak menyangka dalam waktu dekat bisa melihat langsung pertanian di Negeri Gajah Putih ini.

Sepulang dari Thailand, Matias akan mencoba menerapkan sistem pertanian di negara tersebut ke Timika. "Saya bahagia dan haru dapat kepercayaan diberangkatkan bapak Menteri Pertanian ke Thailand. Ini rezeki bagi saya.Kabarnya pertanian di Thailand sangat maju. Sepulang dari sana saya akan coba terapkan pertanian itu di Timika, " kata Matias Wuka.

Bapak tiga anak ini sudah 15 tahun menjadi penyuluh. Bahkan, ia dipercaya sebagi koordinator penyuluh Distrik Walakenca. Banyak suka dan duka menjadi penyuluh di Timika.

Antara lain, petani yang disuluh berada di bukit-bukit. Jarak antara bukit satu dengan bukit lainnya terkadang sangat jauh, sehingga perlu perjuangan ekstra untuk mencapainya. "Di sini medannya sangat sulit. Kami kerap kali terkendala operasional. Kami pun kerap kali kewalahan kalau ke lapangan. Tapi, semua itu kami lakukan dengan senang hati, " papar Matias.

Menurut Matias, memang idealnya satu desa satu penyuluh. Namun, di Timika ini satu PPL menangani 5-6 kampung (desa). Sehingga tugas penyuluh di lapangan sangat berat. "Medannya juga berat dan jumlah penyuluh di sini kurang, " ujarnya.

Lantaran medannya sangat berat, Matias meminta pemerintah menaikkan biaya operasional penyulih di Timika. "Karena kondisi lapangan yang sulit kami mohon pemerintah menaikkan biaya operasional penyuluh dari Rp 450 ribu menjadi Rp 500 ribu/bulan, " kata Matius.

Matius juga meminta pemerintah menyediakan kendaraan operasional seperti motor. Penambahan kendaraan roda dua ini diharapkan bisa digunakan penyuluh lainnya saat ke lapangan.

Menurut Matias, petani di Timika sangat berbeda dengan petani di Jawa. Karena itu, untuk meningkatkan usaha tani mereka perlu dilakukan pendekatan yang intensif.

"Kami harus sabar memberikan penyuluhan ke petani. Kami juga beri contoh cara tanam palawija seperti jagung. Kami juga memberi contoh cara menggunakan traktor tangan ke petani, " kata Matias.

Ia juga mengatakan, petani Timika umumnya tanam ubi jalar, sayur dan jagung. Komoditas yang ditanam biasanya digunakan untuk kebutuhan sendiri dan sebagian di jual antar mereka."Ada juga yang dijual pada acara-acara tertentu sehingga bisa menambah pendapatan mereka, " ujarnya.

Menurut Matias, petani Timika pun sudah menggunakan alsintan, bibit unggul dan pupuk untuk mengembangkan usaha taninya. "Kalau pupuk dan bibit jagung sudah tak ada masalah. Sedangkan alsintan yang sudah banyak digunakan petani adalah traktor tangan, "pungkas Matias

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018