Minggu, 18 Agustus 2019


Casto Meraup Untung Semangka di Bawah Sawit Peremajaan

20 Jul 2019, 08:05 WIBEditor : Ahmad Soim

Casto Mauludin | Sumber Foto:Istimewa

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Berau - Casto Mauludin alumni Universitas Mulawarman (Ummul) dari Fakultas Pertanian, Jurusan Ilmu Tanah, lulus 2008, dia memilih menjadi petani pada tahun 2015. Sebelumnya, dia bekerja di perusahaan perkebunan sawit swasta. "Saya malah banyak hutang," tambahnya kepada Sinar Tani di Berau kaltim (19/7).

 

Gaji besar menurutnya habis untuk makan dan keperluan lainnya. Makan hutang dulu, setelah gajian baru bayar.  "Waktu itu saya sebagai asisten kebun gaji saya Rp 3.5 juta sekarang mungkin sudah Rp5 juta/bulan. Namun hidup disana nggak seimbang. Untuk makan cukup, tapi untuk ikuti gaya hidupnya nggak cukup," tutur Casto yang juga pengurus KTNA Kaltim di sela sela acara PEDA X KTNA Kaltim.

Kondisi itulah yang membuat Casto mauludun untuk beralih menjadi petani. Pertama tama dia memakai tanah   warisan orang tuanya seorang transmigran, seluas dua ha. Dia kelola, ditanami sayuran dan karet satu ha. "Bapak sudah  meninggal, ceritanya.

Awal saya memulai sebagai petani sayur, punya target sehari dapat Rp 200 ribu.  Saya tanam kangkung, bayem. Pasok pedagang, keliling. "Kupikir pikir lumayan. Dulu hanya aeperempat ha."

Mikir mikir jadi petani kok nyangkul terus. Lalu Casto melobi  dinas untuk bisa mendapatkan bantuan cultivator (mesin penanam) dan traktor pada tahun 2016. Dengan mesin itu, menanam tiga ha nggak berat.   "Kami bisa menanam semangka, seluas tiga ha, di lahan milik orang lain yang baru ditanami sawit, bisa hasilkan 75 ton per 3 ha. Dijual dengan 4 ribu perkg buah semangka. Biaya Rp 80 juta/ 3 ha."

 
Casto tidak berpikir untuk memiliki tanah dalam menanam semangka, karena menurutnya menanam semangka perlu air. Selain itu, lahannya hanya bisa untuk tanam 2-3 kali. Selebihnya dia harus pindah ke lahan lain, karena buah semangkanya menguntungkan baginya.

 

Tidak sulit untuk mendapatkan lahgan untuk menanam semangka. Dia cukup dengan modal berani bicara dengan pemilik lahan. Pemilik lahan mau, karena lahannya jadi terawat. "Mereka ikhlas, dikasih sewa satu juta rupiah mau. Bersyukur, tanah ada yang ngurus," tambahnya.

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018