Sabtu, 24 Agustus 2019


Aspul Anwar Menaruh Harapan pada SERASI

31 Jul 2019, 18:12 WIBEditor : Gesha

Aspul menjadi salah satu petani yang sukses mengelola lahan rawa | Sumber Foto:Tuti

TABLOIDSINARTANI.COM, Tanah Laut --- Adanya program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI) di Kabupaten Tanah Laut sangat disambut oleh petani, salah satunya Aspul Anwar yang biasa mengelola lahan rawa selama 18 tahun terakhir.

"Pembangunan saluran, pintu air, gorong-gorong dan pembuatan jalan usahatani,  ditambah dengan pemberian bantuan berupa benih, pupuk hayati, pestisida hayati dan dolomit  memberikan pengharapan yang besar pada kami untuk dapat meningkatkan kesejahteraan," ungkap Aspul yang menjadi bendahara Unit Pengelola Keuangan dan Kegiatan (UPKK) Lok Damar, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

Aspul berharap dengan program #Serasi ini akan merubah wajah wilayahnya menjadi wilayah yang kondusif untuk berusaha tani di lahan rawa. "Semoga dengan hadirnya program #Serasi, akan membawa kesejahteraan seluruh petani di lahan rawa, khususnya di Kelompok tani Lok Damar," harapnya.

Bagi masyarakat Desa Banyu Iring, Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, sosok Aspul adalah seorang pekerja keras yang terbiasa mengelola lahan rawa. Pendidikan Aspul memang tidak tinggi, namun rasa ingin tahunya yang mendorong dirinya untuk belajar menggunakan teknologi dan sharing pengetahuan dengan penyuluh.

Bermodalkan 1 ha lahan tidur yang merupakan hibah dari sang mertua, Aspul banting tulang untuk bertahan hidup dan mempunyai tabungan demi masa depan keluarganya.  Aspul terjun mengelola lahan seluas 1 ha yang merupakan pemberian mertuanya dengan menanam jagung manis, kacang panjang dan waluh. Keseriusan dalam mengelola lahannya membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. 

Pemasaran hasil tidak menjadi kendala bagi Aspul, karena  telah bermitra dengan pengepul yang biasa menjemput hasil panen ke rumahnya. Alhasil, dari tabungannya, Aspul berhasil  membeli 2 ha lahan. 

Minimnya tenaga kerja di wilayahnya, mengharuskan Aspul berserta istrinya mengelola sendiri 3 ha lahan yang menjadi miliknya.  Ketika Adzan subuh berkumandang, Aspul Anwar telah berada di tengah-tengah pertanaman karet untuk menyadap bersama istri tercintanya. Pekerjaan menyadap hingga mengumpulkan hasil sadapan biasanya selesai pada pukul 9 pagi.

Seusai istirahat sambil sarapan pagi, Aspul kembali ke lahan untuk mengelola tanaman jagung manis, kacang panjang dan waluh. Di sela-sela kesibukan mengelola lahan usahataninya, Aspul masih sempat melakukan usaha penggemukan sapi dengan cara gadu dan memelihara 14 ekor bebek yang di kandangkan di sawah.

Tak ada waktu yang terbuang sia-sia, bahkan pada saat manusia pada umumnya sudah tertidur lelap, pada musim kemarau Aspul sering menghampiri kebunnya untuk merambatkan kacang dan menyiram tanaman jagung hingga pukul 11 malam.   

Jerih payah yang dilakukannya siang-malam bersama istrinya, tidaklah sia-sia.  Putri satu-satunya kini sedang menggapai S1 pada Jurusan Agribisnis, Universitas Lambung Mangkurat, dan telah duduk di semester 5. Perhatian Aspul tidak hanya tertuju kepada putri satu-satunya Seorang keponakan yang diasuhnya sejak usia 3 tahun, kini pun  dibiayai untuk melanjutkan sekolah di SMK PP Banjar Baru, dan telah menduduki kelas 2.

Mudah Terima Inovasi

Aspul tergolong petani yang mudah menerima inovasi.  Dengan bimbingan Penyuluh Pertanian, Sumarno, dirinya dapat menimba ilmu sehingga menjadi melek teknologi.  Tanpa ragu-ragu, varietas unggul padi yang diperkenalkan oleh Sumarno segera diterapkan di lahannya.

Varietas unggul Mekongga mulai ditanamnya pada tahun 2018, dan hasilnya cukup menggembirakan bila dibandingkan dengan varietas lokal. Varietas lokal dengan umur  mencapai 10 bulan, hanya mampu memproduksi 4 kaleng per borong,  sementara varietas Mekongga dengan umur yang relatif pendek (100 hari), mampu menghasilkan 10 kaleng per borong, suatu lonjakan yang cukup mengejutkan. 

Aspul berusaha untuk dapat mengoptimalkan lahannya, sehingga dalam satu tahun Aspul dapat tiga kali panen, yaitu padi varietas lokal, padi varietas Mekongga dan jagung.

Dengan sabar, Aspul memperkenalkan varietas Mekongga kepada anggotanya. Berkat ketekunannya, dari 29 orang anggota kelompoknya, kini 20 orang anggotanya sudah mulai menanam Varietas unggul Mekongga.  Dan 9 orang anggota kelompoknya yang belum menanam varietas unggul Mekongga, mereka telah berusaha melakukan optimalisasi lahan dengan menanam jagung sehabis panen varietas lokal.  

Gotong royong dalam mengolah sawah juga menjadi kebiasaan yang telah tertanam dengan baik di kelompoknya.  Penggunaan traktor telah disusun berdasarkan jadwal yang telah disepakati bersama, sehingga tercipta pula keadilan. 

Dalam gotong royong pengolahan sawah antar anggota tidak ada yang menuntut bayaran, mereka bekerjasama mengolah lahan, hanya dengan imbalan makan sekedarnya. Pada saat kondisi memerlukan tambahan tenaga untuk pengolahan lahan sawah,  dapat juga dilakukan dengan membayar tenaga harian dengan ongkos Rp. 100.000,-per hari (tanpa makan), atau dengan makan sebesar Rp. 80.000,-per hari.

Keberhasilan Aspul dapat menjadi cerminan bagi para petani di lahan rawa. Ternyata, pendidikan rendah tidak menjadi penghalang menuju sukses. Kerja keras dengan tulus ikhlas, dibarengi dengan penerapan teknologi merupakan kunci sukses bagi Aspul, dan perlu mendapat acungan jempol.  

Reporter : Tuti, Yulia, Edizal
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018