Sabtu, 24 Agustus 2019


Adriana Gita Tupen, Angkut Hasil Panen dengan Kuda

06 Agu 2019, 17:24 WIBEditor : Yulianto

Adriana saat menerima penghargaan | Sumber Foto:Yulianto

Berprofesi sebagai penyuluh pertanian sejak tahun 2008, wanita 39 tahun tahun yang hingga kini masih berstatus sebagai Tenaga Harian Lepas (THL) itu membina sekitar 700 petani lahan kering dari empat desa di wilayah Kecamatan Adonara Timur

TABLOIDSINARTANI.COM, BOGOR---Menjadi seorang penyuluh haruslah memiliki jiwa yang tahan banting dan berpikir kreatif agar informasi pertanian bisa sampai ke petani. Seperti dilakukan Adriana Gita Tupen yang harus menempuh perjalanan panjang dan berliku untuk bisa memberikan penyuluhan kepada petani di Kecamatan Adonara, Kabupaten Flores Timur.

Berprofesi sebagai penyuluh pertanian sejak tahun 2008, wanita 39 tahun tahun yang hingga kini  masih berstatus sebagai Tenaga Harian Lepas (THL) itu membina sekitar 700 petani lahan kering  dari empat desa di wilayah Kecamatan Adonara Timur. Kondisi jalan di desa binaannya rata-rata  berbatu, sehingga lokasi lahan petani hanya bisa dicapai  dengan berjalan kaki.

Dari tempat tinggalnya ke pemukiman petani bisa menggunakan sepeda motor, tetapi untuk mencapai lahan mereka harus disambung dengan berjalan kaki 2-3 jam lamanya. Karena akses jalan yang demikian sulit, petani terpaksa harus menginap di lahannya sampai 3-4 bulan. Baru setelah tiba saat panen sembari  mengangkut hasil lahan ke kampungnya petani kembali ke rumah.

Petani setempat juga mengangkut hasil panen menggunakan kuda, karena memang jalan usaha tani belum terbentuk disana. Otomatis biaya angkut pun lebih besar dan mengurangi pendapatan petani. Menggunakan ojek kuda, petani harus mengeluarkan biaya angkut  rata-rata Rp 10 ribu untuk setiap  karung (berisi 50 kg) jagung yang dipanen."Biaya transpornya saja sudah cukup besar," ujar Adriana.

Mulai tahun 2018 menurut Adriana, memang sudah ada penggarapan jalan usaha tani. "Petani berharap semakin banyak jalan usaha tani yang dibangun di desa sehingga masalah pengangkutan hasil panen bisa diatasi," katanya.

Berkat kegigihannya melakukan penyuluhan, dari 4 desa yang mendapat dana PUAP kini berhasil mengembangkannya menjadi Lembaga Keuangan Masyarakat (LKM) yang berfokus pada simpan pinjam untuk modal usaha tani anggota gapoktan.

Tak hanya itu, Adriana juga berhasil mengantarkan Gapoktan Ola Dike dari Desa Kwaelaga Lamawato, Kecamatan AdonaraTimur menjadi Gapoktan Berprestasi tahun 2018 se-Kabupaten Flores Timur dan masuk peringkat di provinsi Nusa Tenggara Timur. Meskipun belum masuk menjadi nominasi Gapoktan Berprestasi Nasional.

Dengan ketekunan dalam kegiatan penyuluhan, meski dengan segala hambatan, Adriana menjadi contoh teladan bagi rekan sekerjanya di BPP Waiwerang. Kegigihannya itu pun berbuah penghargaan Prof. Dr. Ir. Thoyib Hadiwidjaja yang merupakan inisiatif Yayasan Pertanian Mandiri (Yapari) yang dipimpin Prof. Sjarifuddin Baharsjah.

 Sebagai inisiator, Sjarifuddin menilai, keberadaan penyuluh bagi pembangunan pertanian sangat lah penting, sehingga wajar mereka mendapat penghargaan.Kita mencari tokoh-tokoh penyuluh dan didapatkan dua orang itulah dengan dedikasinya harus ditonjolkan keluar dan diberikan penghormatan selayaknya," tutur Sjarifuddin yang juga Mantan Menteri Pertanian Era 1993-1998, dalam FGD Peta Jalan Pertanian 4.0 di Museum Tanah dan Pertanian, Bogor, Rabu (24/7).

Salah satu alasan pemberian penghargaan Thoyib Hadiwidjaja, menurut Pimpinan Umum Tabloid Sinar Tani, Achmad Saubari Prasodjo adalah, karena beliau merupakan tokoh pertanian yang jasanya cukup besar bagi pembangunan  pertanian Indonesia. Namun sayangnya, banyak pelaku usaha pertanian, tokoh, termasuk pejabat di Kementerian Pertanian tidak mengenal Thoyib Hadiwidjaja. "Jasa Pak Thoyib itu sangat banyak. Karena banyak jasanya, kita ingin memberikan award kepada penyuluh yang berjasa terhadap pertanian," ujarnya.

 

Reporter : Ika Rahayu
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018