Friday, 07 August 2020


P4S Lembang Agri Taklukkan Negeri Singa dengan Baby Buncis dan Kacang Kenya

21 Aug 2019, 14:52 WIBEditor : Gesha

Dodih merupakan salah satu generasi milenial yang berhasil menggeluti bisnis pertanian. | Sumber Foto:TABLOID SINAR TANI

TABLOIDSINARTANI.COM, Lembang --- Ekspor komoditas pertanian kini tengah digencarkan pemerintah. Bukan hanya bisa mengisi devisa negara, tapi juga diharapkan berimbas pada kesejahteraan petani. Salah satu petani yang produknya sudah mampu menembus pasar mancanegara adalah Dodih, pendiri P4S Lembang Agri.

Saat pemberian penghargaan Petani dan Penyuluh Pertanian Teladan dan Berprestasi di Jakarta, Sabtu (17/8) lalu, Dodih berkesempatan berdialog langsung dengan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. “Tiap minggunya saya mengirim 1 ton buncis dan 100 kg kacang kenya untuk pasar ekspor maupun pasar domestik,” kata Dodih.

Pasar ekspor yang kini telah ditaklukan Dodih adalah Singapura. Namun dalam pengiriman ke negara tersebut, Dodih yang juga membangun BAVAS (Bandung Vegetables Station) bekerjasama dengan tiga perusahaan eksportir. “Produk kita memang ke Singapura, tetapi kata salah satu eksportir kami, ada produk kami juga yang dikirimkan ke Jepang,” katanya.

Selain baby buncis dan kacang kenya, produk P4S Lembang Agri yang sudah menembus pasar ekspor adalah selada air, jahe gajah dan pete. Untuk saat ini yang lagi banyak permintaannya adalah selada air, buncis dan kacang Kenya. Dengan total volume ekspornya 4 ton/bulan.

Dodih mengakui, potensi pasar ekspor untuk komoditas sayuran cukup tinggi. Apalagi kemudian harganya relatif stabil, tidak terpengaruh gangguan harga dari dalam negeri. Meski lebih banyak mengisi pasar ekspor, tapi dirinya tidak mengabaikan pasar dalam negeri karena potensi dalam negeri tetap menjanjikan. “Kita sekarang sudah mengisi pasar supermarket di dalam negeri,” ujarnya.
 
Banting Setir

Dodih merupakan salah satu generasi milenial yang berhasil menggeluti bisnis pertanian. Jika melihat latar belakangnya, maka patur diacungkan jempol. Pasalnya, Dodih adalah Sarjana Teknik Mesin Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung.

Ia mengaku, sebelumnya tak pernah ada niat serius terjun ke dunia pertanian. Apalagi dirinya adalah seorang sarjana teknik mesin. Namun karena kegusaran terhadap nasib petani di daerahnya yakni Desa Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Bandung Barat ini, akhirnya ia banting setir meneruskan usaha keluarga, berusaha tani.

Dodih pun membangun Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Lembang Agri. Namun untuk membangun Gapoktan pun tak mudah, ia harus melalui jalan panjang. Dodih bercerita, di Cikidang memang ada banyak kelompok tani, tapi mereka tidak bersatu dan berjalan sendiri-sendiri. “Kelompok tani juga tidak dalam bentuk formal, sehingga setiap ada persoalan hanya berputar di tingkat petani dan tidak pernah ada penyelesaiannya,” tuturnya.

Lalu Dodih berinisiatif membangun kelembagaan petani yang formal. Setelah berdiskusi cukup panjang dengan keluarga, dirinya akhirnya membentuk Kelompok Tani Tauhid. Nama Tauhid diambil karena kelompok tani yang dia dirikan mengikuti program pemberdayaan masyarakat Pesantren Darut Tauhid.

Saat pemerintah meluncurkan program PUAP (Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan), Kelompok Tani Tauhid mendapat tawaran bantuan sebanyak Rp 100 juta. Karena kuatir tidak bisa mengelola dana tersebut, apalagi persyaratannya ketat, ia pun menolak bantuan tersebut.

“Setelah diadakan rembug antar kelompok tani, akhirnya diambil jalan tengah dibentuk Gapoktan Lembang Agri yang akan mengelola anggaran PUAP itu,” ujarnya. Sejak terbentuknya Gapoktan, petani mempunyai wadah penghubung dengan pemerintah. Bantuan pemerintah bisa melalui Gapoktan dan tiap ada masalah petani, juga akan cepat terpecahkan. Kisah Dodih menjadi pelajaran berharga. Dunia pertanian ternyata cukup menjanjikan.

Reporter : TABLOID SINAR TANI
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018