Friday, 07 August 2020


Ekspor Lada Kian Manis bagi Poktan Berkah Tani

13 Sep 2019, 14:32 WIBEditor : Gesha

Lada putih di Bangka Belitung mampu ditangkap baik peluangnya oleh Alfeddy | Sumber Foto:TABLOID SINAR TANI

TABLOIDSINARTANI.COM, Pangkal Pinang --- Komoditas lada memang sejak dahulu, bahkan hingga kini menjadi incaran pasar dunia. Salah satunya lada putih asal Bangka Belitung (Babel) yang dikenal dengan brand muntok white papper  yang jadi incaran Negara Hongkong, China dan Eropa tertarik.

Melihat peluang ekspor lada yang kian manis, Kelompok Tani (Poktan) Berkah Tani yang diketuai Alfeddy Hernandy, kian serius menggarap pasar mancanegara. Apalagi kini sudah ada beberapa perusahaan eksportir yang menawarkan diri membeli lada putih yang dibudidaya petani Babel.

Selama ini lada putih produk Poktan hanya dijual ke pasar lokal. Namun, kini sudah ada beberapa permintaan dari sejumlah  perusahaan di Riau dan Jakarta untuk diekspor ke sejumlah negara. “Sejumlah perusahaan eksportir tersebut umumnya minta produk lada putih muntok dalam bentuk bubuk,” ujarnya.

Saat ini ada salah satu  perusahaan eksportir di Riau yang meminta pasokan lada bubuk untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor ke China dan Hongkong sebanyak 17 ton/bulan. Bahkan, ada juga salah satu perusahaan di Jakarta minta bahan baku lada bubuk untuk diekspor ke Hongkong.

Dengan banyaknya permintaan tersebut Alfeddy mengaku, potensi ekspor lada putih Babel sangat terbuka lebar. Untuk memenuhi permintaan pasar ekspor tersebut pihaknya kini sedang konsentrasi meningkatkan produksi lada putih dengan mendorong  industri hilir.

“Permintaan untuk pasokan pasar ekspor itu sudah ada. Namun, kami belum bisa memenuhinya dalam waktu dekat ini. Sebab, kurun 2 tahun terakhir kami masih fokus untuk perbaikan di hulunya. Nah, tahun ini kami baru mulai di hilirnya sambil terus mendorong produktivitasnya di hulu,” paparnya seraya memperkirakan akhir tahun ini baru bisa ekspor lada bubuk.

Bahkan Alfeddy optimistis bisa ekspor lada bubuk akhir tahun ini. Mengingat, pengembangan hilirisasi yang dilakukan Poktan Berkah Tani sudah berjalan dengan baik. “Kami sudah punya mesin pembubuk/penepungnya bantuan pemerintah. Dengan mesin inilah kami harapkan proses produksi lada bubuk bisa maksimal,” paparnya.

Ekspor yang diperkirakan bisa dilakukan akhir tahun ini akan diarahkan ke pasar Eropa.  Sebab, pasar lada  bubuk ke Eropa jauh lebih baik dibanding Hongkong dan China. Harga lada bubuk di China dan Hongkong sekitar Rp 90 ribu/kg, sedangkan lada bubuk di Eropa bisa dipatok dengan harga Rp 100 ribu-200 ribu/kg, bahkan kalau kualitasnya premium harganya bisa Rp 300 ribu/kg.

Selain harga pasar lada bubuk di Eropa lebih baik, lanjut Alfeddy, sudah ada rekanan dari Swiss Contact yang bersedia membantu menembus pasar  ekspor Eropa. Bahkan mereka juga sudah melihat langsung  proses hilirisasinya.
 
Gandeng Kelompok Tani

Alfeddy memperkirakan,  ekspor perdana sekitar 20 ton/bulan. Nah, untuk memenuhi target tersebut, Poktan Berkah Tani saat ini juga giat menjalin kerjasama dengan kelompok petani lada lainnya di Bangka Belitung. “Sambil mendorong di hulunya untuk perbaikan produktivitas, kami juga menggandeng poktan lainnya,” ujarnya.

Menurut Alfeddy, omzet penjualan lada bubuk tersebut sekitar Rp 25 juta/bulan. Namun diakui, memang produknya masih skala rumah tangga. Namun, dengan hilirisasi ini bisa meningkatkan nilai tambah petani. Jika harga lada di tingkat petani Rp 45 ribu/kg, maka setelah diolah menjadi lada bubuk harganya meningkat menjadi Rp 150 ribu/kg.

Untuk menjamin kelangsungkan budidaya lada putih Babel di kelompoknya,  manajemen  Poktan Berkah Tani bisa membeli lada dari petani  anggota kelompok dengan harga lebih tinggi sekitar Rp 80 ribu/kg.

“Kami sudah memulai usaha mengolah biji lada menjadi lada bubuk akhir Desember 2018 lalu. Saat itu, kami mengeluarkan modal awal Rp 5 juta.  Modal awal ini dari kantong pribadi sendiri untuk membeli peralatan hilirisasi seperti mesin pembubuk,” papar Alfeddy.

Guna meningkatkan produksi lada untuk ekspor ke depan, lanjut Alfeddy, pihaknya saat ini bersama Bank Indonesia juga gencar mengembangkan budidaya lada putih Muntok di Babel. Kerjasama dengan BI ini bukan hanya perbaikan benih unggul saja. “Kami juga mendapat dukungan berkaitan dengan cara pemupukan yang baik, sehingga lada yang ditanam di Bangka Barat dan Bangka Tengah produktivitasnya bisa naik menjadi 4 kg/batang,” ungkapnya.

Lada bubuk yang dikemas tersebut saat ini ada yang dijual dalam kemasan kecil yakni Rp 1.000/2 gram. Kemudian yang  dikemas dalam botol 60 gram seharga Rp 30 ribu dan dalam bentuk curah 0,5 kg dengan harga Rp 50 ribu. “Selama ini lada yang sudah dikemas tersebut dijual ke sejumlah pasar dan pameran. Sedangkan lada bubuk curah dijual ke sejumlah rumah makan padang. Sebagian lainnya kami jual secara online,”  tutur Alfeddy.

Reporter : TABLOID SINAR TANI
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018