Sunday, 28 February 2021


Ekspedisi Padi Nusantara Temukan Bantuan Pupuk Organik Kurang

14 Oct 2019, 16:14 WIBEditor : Yulianto

Bantuan pemerintah dalam pengembangan pupuk organik organik | Sumber Foto:Dok. Sinar Tani

Dari hasil survei yang menggambarkan petani mulai memanfaatkan pupuk hayati dan sudah menggunakannya pada lahan mereka

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Survei Mahasiswa Pertanian se Indonesia dalam Ekspedisi Padi Nusantara menemukan petani kini mulai mengerti manfaat pupuk organik. Tapi sayangnya, bantuan pemerintah terhadap pupuk tersebut masih dirasakan kurang.

Anggota Tim Ekspedisi dan Perwakilan Mahasiswa Pertanian Seluruh Indonesia, Birawa Anindtya Witjaksana mengatakan, bantuan pupuk yang menjadi tolak ukurnya adalah pupuk bersubsidi. Sebagian besar petani pupuk bersubsidi yang disalurkan tepat sasaran. Aksesnya sendiri (berupa jumlah, harga dan waktu pembagian) sebagian petani merasa lebih baik dibandingkan sebelumnya.

 “Lalu kami lakukan survei lagi mengenai pupuk organik. Ternyata bantuan pemerintah untuk pupuk organik, masih kurang,” terang Birawa. Pemberian bantuan pupuk organik memang harus ditingkatkan karena petani di Indonesia membutuhkan.

Hal ini terlihat dari hasil survei yang menggambarkan petani mulai memanfaatkan pupuk hayati dan sudah menggunakannya pada lahan mereka. “Mereka pun sudah mulai paham bahwa harus ada pengembalian bahan organik ke lahan,” tambahnya.

Sedangkan untuk bantuan benih Birawa mengatakan, sebagian besar petani yang menerima bantuan benih cukup puas dengan kualitas benih yang didapat. Hal ini mengindikasikan benih yang disalurkan adalah benih yang berkualitas.

Mengapa demikian? Ini dilihat dari survey mengenai kondisi benih yang diberikan. Sebagian besar petani mendapatkan benih dari sumber yang terpercaya. Selain itu kualitasnya bagus karena daya berkecambahnya tinggi. “Tetapi sayangnya dimasalah penyimpanan. Petani belum menyimpannya dalam alat yang modern,” ujarnya.

Bantuan Pestisida

Pestisida memang dibutuhkan petani untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit tanaman. Selama ini akses petani untuk mendapatkan pestisida sangat mudah karena banyak ditemukan di toko-toko yang menjual sarana dan produksi pertanian (saprotan).

Birawa mengatakan, memang disinyalir penggunaan pestisida di petani berlebihan, tetapi dari hasil survey tidak. Ternyata sebagian besar petani menggunakan pestisida sesuai dosis dan tepat sasaran. Sayangnya kebanyakan masih menggunakan kimia. Belum banyak petani yang memanfaatkan musuh alami dalam menangani hama dan penyakit tanaman.

Memang belum 100 persen petani puas akan penyaluran bantuan benih, pupuk dan pestisida. Untuk menuju 100 persen tersebut ada beberapa rekomendasi yang diperkirakan dapat meningkatkan respon petani. Pemerintah harus mengevaluasi terkait keterlambatan distribusi, termasuk menerapkan standar baku bagaimana proses distribusi diberikan, berapa jumlah bantuannya, kapan waktu yang tepat, dan siapa saja pihak yang terlibat dalam proses distribusi tersebut,” kata Birawa.

Tidak hanya itu, pengawasan pemerintah harus semakin ketat agar tepat sasaran. Tingkatkan kualitas pupuk agar walaupun bersubsidi kualitasnya samba baik dengan yang non subsidi. “Dalam hal pemberian bantuan, pemerintah harus memendang tujuan petani sebagai pokok utama dalam memberikan bantuan. Bukan hanya sebatas meningkatkan hasil produksi pertaniannya saja,” saran Birawa.

Reporter : Clara
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018