Thursday, 06 August 2020


Database Jadi Landasan Bantuan Alsintan untuk Modernisasi Pertanian

25 Oct 2019, 17:05 WIBEditor : Gesha

Direktur UPJA Taju Jawa, Didik Purwadi berharap agar Mentan SYL mampu menempatkan database pertanian untuk memetakan kebutuhan alsintan guna modernisasi pertanian | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Menteri Pertanian, Syahrul  Yasin Limpo (SYL) diharapkan  mampu membenahi database pertanian, khususnya terkait data luasan lahan dan potensi lahan pertanian di tanah air. Mengingat, database pertanian ini sangat penting untuk peningkatkan produksi, khususnya penyebaran alsintan guna modernisasi pertanian.

“Ketersediaan database pertanian sangat diperlukan bagi petani dan pelaku usaha pertanian. Kalau database pertaniannya sudah tertata dengan baik dan  jelas, segala bentuk bantuan seperti alat dan mesin pertanian (alsintan) akan sesuai yang dibutuhkan daerah setempat,” papar Direktur UPJA Taju Jawa, Didik Purwadi Nugroho, di Jakarta, Jumat (25/10).

Menurut Didik, database pertanian sangat diperlukan untuk pengembangan pertanian modern yang selama ini sudah dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan). “Apalagi kita sudah diarahkan ke pertanian 4.0 yang semuanya menggunakan alat-alat canggih, tentunya harus didukung dengan data base lahan pertanian yang aktual,” jelasnya.

Didik sangat mendukung langkah Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang  konsen melakukan modernisasi pertanian. “Sebab, modernisasi pertanian yang dilakukan saat ini sudah setengah jalan dan fakta di lapangan masih banyak alsintan bantuan pemerintah yang idle, karena tidak sesuai dengan kondisi lahan sawah yang ada,” kata Didik.

Karenanya, Kementan ke depan sudah seharunya mengembangkan corporate farming. Mengapa harus corporate farming? Menurut Didik, karena 80-90% petani di tanah air ini adalah petani penggarap. “Sehingga, senses of bilongingnya rendah,” ujarnya.

Corporate farming tersebut bisa dikelola oleh operator atau kelompok tani. Mereka bisa menggunakan alat pertanian modern. “Bisa juga pengelolanya memanfaatkan teknologi 4.0,” ujar Didik.            

Didik juga berharap, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo berkenan mengubah subsidi yang diberikan ke petani dari subsidi saprodi menjadi subsidi harga. “Jadi bukan subsidi input pertanian tapi, output pertanian. Dengan begitu, petani akan mampu bersaing di pasar. Apalagi dengan adanya Bulog sebagai buffer stock, petani akan sangat terlindungai saat panen raya,” pungkas Didik.

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018