Jumat, 06 Desember 2019


Petani Jejangkit Diimbau Bentuk UPJA untuk Kelola Alsintan

14 Nov 2019, 20:42 WIBEditor : Gesha

Petani rawa Jejangkit diminta untuk mengelola UPJA dari setiap bantuan yang turun | Sumber Foto:INDARTO

TABLOIDSINARTANI.COM, Barito Kuala-- Petani yang menggarap lahan rawa di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Kab. Barito Kuala, Kalimantan Selatan (Kalsel) diharapkan bisa memanfaatkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dengan maksimal. Karena itu, petani Desa Jejangkit Muara setelah membentuk kelompok tani (poktan) atau gabungan kelompok tani (gapoktan) segera membangun kelembagaan petani seperti UPJA, KUB, Koperasi Tani yang khusus mengelola alsintan.

"Jadi, bantuan alsintan yang sudah kami berikan ke kelompok tani ini gratis. Bukan milik ketua kelompok, tapi milik kelompok. Sehingga, alsintan ini ke depan fungsinya bisa dimaksimalkan ke petani,"papar Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Sarwo Edhy, saat  panen perdana padi di demfarm Desa Jejangkit Muara, Kec. Jejangkit, Kab, Barito Kuala, Kalsel, pekan lalu.

Menurut Sarwo Edhy, poktan atau gapoktan yang sudah membangun UPJA, KUB, atau Koperasi Tani bisa mengoptimalkan alsintannya. Artinya, selain bisa dimanfaatkan kelompoknya, alsintan tersebut bisa disewakan. Nah, hasilnya kemudian disimpan di kas UPJA atau KUB.

Hasil sewa alsintan tersebut minimal bisa untuk membeli spare part, ongkos reparasi, ganti oli, bahkan bisa untuk membeli alsintan yang baru, pinta Sarwo Edhy.

Sarwo Edhy mengatakan, di Desa Jejangkit pihaknya sudah memberi bantuan sejumlah alsintan, seperti traktor roda 4 (TR4) , pompa air, rice transplanter dan sejumlah alsintan modern khusus untuk mengelola lahan rawa. Agar tak mangkrak, alsintan ini bisa disewakan ke desa lainnya dan dikelola dengan baik, ujarnya.

Menurut Sarwo Edhy, sudah banyak UPJA yang mengelola alsintan di sejumlah daerah dengan baik. Alsintan yang dikelola sejumlah UPJA tersebut mampu memberi tambahan pendapatan signifikan. Bahkan, ada sejumlah UPJA yang sudah mampu membeli sendiri combine harvester untuk menunjang kegiatan usahanya.

"Ada UPJA yang mengelola alsintan kurun dua bulan bisa mendapatkan hasil dari sewa alsintan ke petani Rp 46 juta, ujarnya.

Dia juga mencontohkan,  di Sumatera Selatan ada UPJA yang mengelola alsintan dengan baik, kasnya bisa mencapai Rp 79 juta/bulan. Kemudian ada sejumlah anak muda yang membentuk koperasi khusus untuk mengelola alsintan, kasnya bisa mencapai Rp 170 juta/bulan. "Ada juga koperasi tani yang mengelola alsintan dengan hasil Rp 64 juta/bulan, " ujar Sarwo Edhy.

Setelah dibentuk UPJA, semua pengurusnya harus jeli membaca potensi pengguna alsintan di wilayah dan daerah sekitarnya. Misalnya, jika di daerahnya sudah selesai panen, maka combine harvester-nya bisa dialihkan ke daerah lain yang sedang panen. "Begitu juga kalau di daerahnya sudah selesai olah lahan dan tanam, traktor dan rice transplanter-nya bisa disewakan ke daerah lain," tambah Sarwo.

Data Ditjen PSP Kementan menyebutkan, pemerintah telah memberikan bantuan alsintan sekitar 720 ribu unit dengan berbagai jenis. Jumlah bantuan alsintan tersebut diperkirakan naik hampir 500?ri sebelumnya. Tercatat, sejak tahun 2015, pemerintah memberikan bantuan alsintan sebanyak 54.083 unit, tahun 2016 sebanyak 148.832 unit, pada tahun 2017 sebanyak 82.560 unit, dan pada tahun 2018 sebanyak 112.525 unit. Alsintan tersebut telah diberikan kepada kelompok tani/gabungan kelompok tani, UPJA. KUB, dan Brigade Alsintan.

Pada tahun 2019, Kementan mengalokasikan alsintan sebanyak 50 ribu unit. Alsintan tersebut berupa Traktor Roda dua (TR 2) sebanyak 20 ribu unit, Traktor Roda empat (TR 4) sebanyak  3 ribu unit, Pompa Air (20 ribu unit), Rice Transplanter (2 ribu unit), Cultivator (4.970 unit) dan Excavator (30 unit). 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018